Elumelu Tolak Dipanggil Tony: Etika Nama di Kantor Nigeria

LEADERSHIP Newspapers

LEADERSHIP Newspapers

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Video viral Tony Elumelu menegur trainee yang menyapanya “Tony” memicu debat soal etika memanggil atasan di tempat kerja Nigeria. Di panggung kelulusan program UBA, Elumelu meminta dipanggil “Mr Elumelu” atau “TOE”, bukan nama depan.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Insiden itu terjadi dalam sesi interaktif Graduate Management Accelerated Programme UBA, saat seorang executive trainee membuka pertanyaan dengan “Good morning, Tony”. Elumelu sempat mengira ia dipanggil “Toyin”, lalu menegaskan batas sapaan yang ia anggap pantas.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Pernyataannya tajam dan bernuansa budaya: ia menolak “Oyinbo life” yang menganggap nama depan sebagai standar egaliter. Ia juga menolak dipanggil “Chairman”, seolah ingin mengunci pilihan hanya pada formalitas yang ia kontrol.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Reaksi publik terbelah karena isu ini menyentuh dua ranah sekaligus, yakni kebijakan korporat dan norma penghormatan berbasis usia serta hierarki. Banyak pekerja kantor mengaku pernah mengalami “first-name policy”, tetapi kebijakan itu sering tidak konsisten ketika berhadapan dengan elite organisasi.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Dalam manajemen modern, pemanggilan nama depan sering dikaitkan dengan budaya “low power distance”, yaitu jarak kekuasaan yang lebih datar. Namun Nigeria, seperti banyak negara dengan tradisi penghormatan kuat, cenderung mempraktikkan “high power distance” di ruang kerja dan ruang publik.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Hofstede Insights menempatkan Nigeria pada skor Power Distance yang tinggi, yang berarti masyarakat lebih menerima ketimpangan status dan otoritas. Dalam konteks itu, teguran Elumelu terasa “normal” bagi sebagian orang, meski mengejutkan bagi pekerja yang terbiasa dengan gaya global.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Masalahnya bukan sekadar kata “Tony”, melainkan panggung dan audiens yang menyaksikan koreksi tersebut. Jide Akintunde menilai teguran publik itu menonjolkan ketimpangan kuasa antara chairman dan trainee, sehingga lebih tepat disampaikan secara privat.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Pembela Elumelu menekankan aspek pencegahan preseden, karena pembiaran sekali bisa berubah menjadi norma baru di organisasi. Taiwo Ogunnaike menilai koreksi itu tidak menghina dan justru “gentle”, karena trainee langsung bisa melanjutkan pertanyaan tanpa dipotong panjang.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Maryanne Moghalu menambahkan bahwa budaya nama depan biasanya berjalan dengan “izin”, bukan asumsi. Bahkan di banyak kantor Barat, staf junior lazim memulai dengan “Mr/Ms” sampai atasan mengatakan, “Call me by my first name.”

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Di sisi lain, kebijakan HR yang ambigu membuat pekerja muda seperti berjalan di ladang ranjau etika. Tosin.X menyerukan agar profesional HR meninjau ulang first-name policy, karena aturan yang tidak eksplisit memaksa karyawan menebak-nebak kapan egaliter dan kapan harus formal.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Debat melebar ke isu kelas dan siapa yang “layak” dipanggil formal, ketika Romi mempertanyakan mengapa pekerja junior sering menyapa satpam atau petugas kebersihan dengan nama depan tanpa beban. Pertanyaan itu menelanjangi standar ganda, karena formalitas kadang dipakai bukan untuk “respek”, melainkan untuk menegaskan jarak sosial.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Pengalaman pekerja lain di Stanbic IBTC menunjukkan spektrum yang berbeda, karena ada senior yang justru mendorong sapaan nama depan. Artinya, yang disebut “budaya Nigeria” pun tidak tunggal, karena ia bernegosiasi dengan industri, kepemimpinan, dan sejarah institusi.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Di balik viralitas, momen ini adalah pelajaran tentang kekuasaan yang bekerja lewat bahasa sehari-hari. Ketika seorang pemimpin menentukan cara ia dipanggil, ia sedang menentukan bentuk relasi, apakah setara atau bertingkat.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Elumelu berhak menetapkan preferensi sapaan, tetapi cara penyampaiannya menentukan apakah itu edukasi atau demonstrasi otoritas. Koreksi di depan umum mudah terbaca sebagai “penertiban”, terutama karena trainee berada pada posisi paling rentan dalam ekosistem karier.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Namun menyalahkan Gen Z juga terlalu simplistis, karena banyak kebingungan lahir dari kebijakan yang setengah-setengah. Jika organisasi mengiklankan budaya modern dan global, maka organisasi wajib menuliskan protokol sapaan yang jelas, termasuk untuk forum resmi dan acara seremonial.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Temitope Ajayi mengingatkan kisah Maya Angelou yang pernah menegur mahasiswa yang memanggil nama depannya, sebagai contoh bahwa batas formal juga hidup di Barat. Itu memperkuat argumen bahwa “nama depan” bukan simbol kemajuan otomatis, melainkan kesepakatan sosial yang kontekstual.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Yang paling berbahaya adalah ketika “respek” hanya mengalir ke atas, sementara ke bawah berubah menjadi keakraban yang meremehkan. Jika sapaan formal dipakai untuk memuliakan jabatan, maka sapaan manusiawi seharusnya juga dipakai untuk memuliakan semua pekerja, termasuk yang tidak punya titel.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Kontroversi “Tony vs Mr Elumelu” menunjukkan bahwa etika kantor Nigeria sedang bernegosiasi antara globalisasi dan tradisi. Di satu sisi ada dorongan egaliter, di sisi lain ada kebutuhan menjaga martabat dan batas.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Pertanyaan akhirnya bukan “bolehkah memanggil nama depan”, melainkan “siapa yang berhak menentukan aturannya, dan seberapa adil penerapannya”. Jika organisasi ingin modern, ia harus konsisten, transparan, dan melatih karyawan tentang budaya serta hierarki tanpa mempermalukan yang belajar.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)

Mungkin yang paling relevan bukan memilih antara “Oyinbo life” atau tradisi lokal, melainkan membangun tata krama yang memanusiakan semua level. Ketika respek tidak lagi menjadi alat jarak, barulah sapaan—apa pun bentuknya—menjadi jembatan.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)