Hubungan Trump Netanyahu Retak, Ancaman Bom Beirut Jadi Pemicu

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Hubungan Trump Netanyahu dilaporkan retak setelah panggilan telepon yang disebut memuat makian keras terkait ancaman Israel mengebom Beirut. Ketegangan ini muncul saat negosiasi damai dengan Iran dipertaruhkan dan perang Timur Tengah menekan politik domestik kedua pemimpin.

Menurut Axios dan ABC News, Trump bahkan disebut menyebut Netanyahu “gila”, meski pihak Israel membantah detail percakapan itu. Di ruang publik, Trump memilih nada berbeda lewat Truth Social, berterima kasih atas “penarikan pasukan dari Beirut” dan “penghentian tembakan dengan Hizbullah”. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Retaknya hubungan Trump Netanyahu tidak lahir dari satu telepon semata, melainkan dari akumulasi perang yang melebar dari Gaza ke Lebanon dan bayang-bayang Iran. Beirut menjadi kata kunci karena satu serangan besar bisa mengubah kalkulasi kawasan dan menggagalkan kanal diplomasi yang sedang dibangun.

AFP melaporkan Trump khawatir ancaman Israel terhadap Beirut akan merusak jalannya negosiasi damai dengan Iran. Kekhawatiran itu masuk akal, karena serangan ke ibu kota Lebanon akan memaksa banyak aktor regional merespons dan mempersempit ruang kompromi. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Di sisi lain, Netanyahu selama tiga dekade konsisten mendorong AS mengambil sikap keras terhadap program nuklir Iran. Masa Trump memberi Netanyahu sekutu ideologis, bahkan New York Times menyebut Netanyahu ikut mendorong keputusan perang pada 28 Februari 2026.

Namun, keselarasan ideologi tidak selalu berarti keselarasan strategi. Saat biaya perang naik, pemimpin yang sama-sama sayap kanan bisa berubah dari sekutu menjadi beban satu sama lain. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Axios mengutip kalimat Trump yang diklaim meledak-ledak, termasuk “Kamu gila” dan “Semua orang benci Israel karena ini.” Jika kutipan itu akurat, itu bukan sekadar emosi, melainkan sinyal bahwa Gedung Putih ingin mengendalikan tempo eskalasi.

Kontradiksi muncul karena Gedung Putih merujuk pada unggahan Truth Social yang bernada apresiatif. Pola ini menunjukkan dua lapis komunikasi, satu untuk tekanan privat dan satu untuk stabilitas publik. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Secara historis, Netanyahu memang kerap membuat presiden AS frustrasi. Dan Shapiro, mantan Duta Besar AS untuk Israel, mengatakan Netanyahu punya “rekam jejak yang sempurna” mencapai titik frustrasi dengan setiap presiden AS yang bekerja dengannya.

Pernyataan Shapiro menyiratkan bahwa problemnya struktural, bukan sekadar personal. Netanyahu memandang tekanan dan krisis sebagai alat tawar, sementara presiden AS sering mengejar kontrol eskalasi demi kepentingan global dan domestik. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Bagi Trump, perang yang berlarut-larut mulai menjadi beban politik yang nyata. Tokoh yang dulu dekat dengan kubu MAGA, seperti Tucker Carlson dan Marjorie Taylor Greene, menuduh Trump membiarkan Israel menyeret AS ke perang Timur Tengah berikutnya.

Megyn Kelly bahkan menyimpulkan sentimen itu dengan kalimat tajam, “Mendukung Israel tampaknya berarti orang-orang kita akan mati.” Ketika kritik datang dari ekosistem sendiri, itu bukan riak kecil, melainkan indikator perubahan arus. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Data Pew Research April menunjukkan 57 persen pemilih Partai Republik usia 18–49 kini berpandangan tidak menguntungkan terhadap Israel, naik dari 50 persen tahun sebelumnya. Angka ini penting karena kelompok muda menentukan energi kampanye, donasi kecil, dan narasi di ruang digital.

Jika tren itu berlanjut, dukungan tanpa syarat pada Israel berubah menjadi risiko elektoral. Dampak perang pada harga-harga juga disebut mengancam peluang Partai Republik di pemilu paruh waktu November. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Konsekuensi politiknya ekstrem, karena artikel menyebut kemungkinan pemakzulan ketiga bila Demokrat menguasai Kongres. Dalam situasi seperti itu, Trump memiliki insentif kuat untuk mencari “jalan keluar” yang bisa dijual sebagai kemenangan diplomatik.

Karena itu, ancaman bom Beirut bukan hanya soal Lebanon, tetapi juga soal narasi kepemimpinan Trump. Ia butuh membuktikan bahwa ia bukan sekadar ikut arus perang, melainkan mampu mengerem sekutu. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Di pihak Netanyahu, tekanan juga menumpuk dari berbagai arah. Medan perang disebut masih terbuka di Lebanon, Iran, dan Gaza, sementara dakwaan korupsi di dalam negeri membuat posisinya jauh lebih rentan.

Mairav Zonszein dari International Crisis Group mengatakan, “Netanyahu mati-matian mempertahankan kekuasaannya.” Dalam logika politik bertahan hidup, eskalasi bisa dipakai untuk menunda pertanggungjawaban dan menyatukan basis pendukung. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Zonszein menambahkan Trump sedang mencari jalan keluar dan punya banyak daya tekan atas Netanyahu. Ia menilai Netanyahu tidak bisa begitu saja melawan Trump, tetapi Netanyahu juga disebut masih ingin kembali ke jalur perang.

Di titik ini, hubungan Trump Netanyahu menjadi tarik-menarik antara exit strategy dan war strategy. Retaknya relasi bisa dibaca sebagai pertarungan definisi “menang” di Timur Tengah. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Yang paling menarik bukan kata “gila” itu sendiri, melainkan pergeseran posisi tawar. Trump tampak ingin memisahkan kepentingan AS dari keputusan taktis Israel yang berpotensi memicu ledakan regional.

Jika benar Trump merasa “menyelamatkan” Netanyahu, maka ia melihat Netanyahu sebagai pihak yang berutang. Dalam diplomasi, rasa berutang sering diterjemahkan menjadi tuntutan kepatuhan, bukan sekadar ucapan terima kasih. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Namun, Netanyahu bukan aktor yang mudah dikendalikan, karena ia hidup dari krisis. Ketika keberlangsungan kekuasaan dipertaruhkan, rasionalitas kebijakan bisa bergeser menjadi rasionalitas politik, yaitu bertahan hari ini dulu.

Di sinilah publik perlu membaca retaknya hubungan Trump Netanyahu sebagai gejala lebih besar, yaitu rapuhnya “aliansi nilai” saat bertemu “biaya nyata.” Ideologi bisa menyatukan, tetapi harga bensin, peti mati, dan jajak pendapat sering memisahkan. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Ancaman bom Beirut juga memperlihatkan bagaimana satu kota dapat menjadi sandera strategi. Beirut bukan hanya target militer potensial, tetapi simbol bahwa perang bisa menyeberang batas dan menyeret aktor lain, termasuk Iran dan jaringan proksinya.

Jika negosiasi damai dengan Iran adalah prioritas Trump, maka ia harus menahan tindakan yang membuat Teheran merasa dipermalukan atau dikepung. Sebaliknya, jika Netanyahu ingin menekan Iran, maka eskalasi adalah bahasa yang ia pahami. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)

Retaknya hubungan Trump Netanyahu menunjukkan bahwa perang tidak hanya memakan korban di medan tempur, tetapi juga menggerus fondasi politik para pengambil keputusan. Saat sekutu mulai saling mengancam di balik telepon, itu pertanda bahwa strategi besar sedang kehilangan kendali.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan, siapa yang akan lebih dulu mengalah, pemimpin yang mengejar jalan keluar atau pemimpin yang mengejar kelanjutan perang. Dan ketika keputusan dibuat, apakah yang diprioritaskan benar-benar perdamaian, atau sekadar penyelamatan karier politik. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)