Perbaikan Tata Kelola MBG Gibran: Ujian Antikorupsi dan Kepercayaan Publik

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Perbaikan tata kelola MBG kembali jadi kata kunci setelah Wapres Gibran Rakabuming Raka menegaskan komitmen “setiap rupiah” program Makan Bergizi Gratis harus bebas korupsi. Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi di lapangan ia menjadi ujian besar bagi Badan Gizi Nasional, SPPG, dan rantai pengadaan yang rawan bocor.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang sebagai intervensi gizi, sekaligus bantalan sosial untuk keluarga rentan. Namun, skala nasional membuatnya otomatis bersentuhan dengan risiko klasik: vendor, logistik, standar dapur, dan pengawasan.

Dalam artikel Kompas.com, Gibran menyebut perbaikan tata kelola MBG dan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih sebagai komitmen pemerintah. Ia juga mengapresiasi mahasiswa yang menyampaikan aspirasi damai, yang menandakan isu ini hidup di ruang publik.

Di sisi lain, Mensesneg Prasetyo Hadi menargetkan perbaikan tata kelola MBG rampung dalam satu bulan. Target ini mencakup pengecekan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak sesuai SOP, termasuk kemungkinan penutupan yang bermasalah.

Kalimat “kita pastikan setiap rupiah termanfaatkan dengan baik” adalah janji yang menuntut mekanisme, bukan sekadar niat. Publik akan menilai dari bukti: audit, transparansi kontrak, dan sanksi yang konsisten.

MBG adalah program berulang harian, sehingga kebocoran kecil pun bisa membesar dalam akumulasi. Dalam skema pengadaan pangan, titik rawan biasanya muncul pada penentuan pemasok, harga satuan, kualitas bahan, dan ongkos distribusi.

Prasetyo menyebut pengecekan SPPG yang tidak sesuai SOP bisa berujung penutupan, tetapi tidak otomatis memutus hubungan tanpa melihat kondisi masing-masing. Pernyataan ini penting, namun berisiko ditafsirkan sebagai kelonggaran jika kriteria “bermasalah” tidak dibuka ke publik.

Target satu bulan terdengar responsif, tetapi juga rawan menjadi kosmetik bila hanya menghasilkan laporan administratif. Perbaikan tata kelola yang nyata biasanya menuntut pembaruan SOP, pelatihan, inspeksi acak, dan sistem pelaporan yang bisa diverifikasi.

Di banyak program bantuan pangan dunia, penguatan tata kelola sering bertumpu pada tiga hal: pelacakan digital, keterbukaan data, dan audit independen. Indonesia dapat mengadaptasi prinsip serupa, misalnya dashboard real-time jumlah penerima, menu, vendor, dan hasil inspeksi SPPG.

Jika pemerintah ingin menjawab kekhawatiran publik, indikator kinerja harus sederhana dan terukur. Contohnya: persentase SPPG lolos inspeksi, rata-rata biaya per porsi, tingkat kepatuhan higienitas, dan jumlah temuan yang ditindak.

Komitmen antikorupsi dalam MBG tidak cukup berhenti pada slogan “bebas dari praktik korupsi.” Ia harus diterjemahkan menjadi desain sistem yang membuat korupsi sulit dilakukan dan mudah terdeteksi.

Apresiasi Gibran kepada mahasiswa adalah sinyal bahwa kritik dipandang sebagai bahan bakar koreksi. Namun, apresiasi tanpa pembuktian bisa berubah menjadi bumerang, karena publik kini menuntut hasil yang terlihat.

Menutup SPPG bermasalah bisa menjadi langkah tegas, tetapi juga harus disertai mitigasi agar layanan gizi tidak terputus. Jika penutupan terjadi tanpa rencana transisi, anak-anak justru menanggung dampak dari kegagalan tata kelola.

Program sebesar MBG juga rawan dipakai sebagai panggung politik, baik untuk legitimasi maupun serangan. Karena itu, satu-satunya cara menjaga program tetap kredibel adalah membuatnya transparan, berbasis data, dan tunduk pada pengawasan lintas pihak.

KDKMP ikut disebut dalam paket komitmen, yang mengisyaratkan pemerintah melihat masalahnya serupa: uang publik, kelembagaan lokal, dan potensi moral hazard. Jika koperasi dan MBG sama-sama dibenahi, konsistensi penegakan aturan akan jadi ukuran utama.

Perbaikan tata kelola MBG adalah pertaruhan kepercayaan publik, bukan sekadar target satu bulan di kalender birokrasi. Keberhasilannya akan terlihat dari seberapa transparan pemerintah membuka standar, temuan, dan tindakan korektif.

Jika “setiap rupiah” benar-benar dijaga, MBG bisa menjadi model program sosial yang efektif dan bersih. Jika tidak, ia berisiko menjadi contoh baru bagaimana niat baik kalah oleh kebocoran kecil yang dibiarkan berulang.

Pertanyaannya kini sederhana: apakah pemerintah berani membuat pengawasan MBG seterang siang, bahkan ketika temuannya memalukan? Jawaban itu akan menentukan apakah MBG dikenang sebagai lompatan gizi, atau sekadar janji yang kelelahan di dapur-dapur pengadaan.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)