Pomelo Verse dan Fashion Berkelanjutan untuk Perempuan Modern
ORBITINDONESIA.COM – Pomelo memperkenalkan koleksi Verse by Pomelo lewat acara “9 to Verse” di Jakarta, menarget perempuan modern yang butuh workwear fleksibel dari rapat pagi sampai agenda malam. Di saat yang sama, kampanye fashion berkelanjutan “Share The Style” mengumpulkan 231 kilogram pakaian bekas untuk didaur ulang dan didonasikan.
Ritme hidup perempuan urban makin padat, dan pakaian dituntut menyesuaikan perubahan peran dalam satu hari. Workwear modern pun bergeser dari sekadar rapi menjadi serbaguna, nyaman, dan mudah dipadupadankan.
Di balik kebutuhan praktis itu, ada tekanan lain yang menguat: jejak lingkungan dari industri fashion. Konsumen, terutama generasi muda, mulai bertanya soal asal bahan, usia pakai, dan nasib pakaian setelah tak dipakai.
“9 to Verse” dipentaskan sebagai narrative-driven in-store fashion show, bukan runway konvensional yang berjarak dari realitas. Delapan karakter perempuan ditampilkan untuk menekankan bahwa busana harus hidup di tengah jadwal yang berubah-ubah.
Pomelo menegaskan posisinya lewat pernyataan Michelle Mangindaan, Head of Pomelo Indonesia: “9 to Verse bukan sekadar fashion show, ini adalah cara kami menunjukkan bagaimana Pomelo hadir dalam kehidupan nyata perempuan Indonesia.” Kutipan ini mengunci pesan utama: pakaian bukan panggung, melainkan alat mobilitas sosial sehari-hari.
Jessica Kiunnedy, Marketing Manager Pomelo Indonesia, menambahkan bahwa Verse Collection dirancang agar pemakai bisa transisi dari profesional di siang hari ke elegan di malam hari tanpa berganti total. Bahasa “mengalir” yang dipakai Pomelo menandai tren desain: modular, layer-friendly, dan kompatibel untuk banyak konteks.
Namun fleksibilitas sering menjadi pintu masuk konsumsi lebih cepat, karena “serbaguna” mudah diterjemahkan sebagai “butuh banyak opsi.” Di sinilah klaim sustainability perlu diuji, bukan hanya dirayakan sebagai narasi pemasaran.
Kampanye “Share The Style” memberi bukti yang lebih terukur, karena mencatat 231 kilogram pakaian dari 109 partisipan dalam satu bulan. Sebagian pakaian didaur ulang menjadi merchandise melalui kolaborasi dengan Rantai Tekstil Lestari Indonesia dan The New Factory, sementara yang layak pakai disalurkan ke Panti Asuhan Nurul Iman di Jakarta Pusat.
Angka 231 kilogram memang belum otomatis mengubah masalah limbah tekstil secara sistemik, tetapi ia menunjukkan perilaku baru yang bisa diperluas. Ketika brand memfasilitasi pengumpulan dan pemilahan, hambatan konsumen untuk “berbuat benar” menjadi lebih kecil.
Keterlibatan Cinta Laura melalui Cinta Laura Foundation juga memperluas daya jangkau pesan, karena figur publik mengubah isu menjadi percakapan populer. Tapi di sisi lain, publik berhak menuntut transparansi yang lebih rinci: berapa persen yang benar-benar didaur ulang, dan bagaimana akuntabilitas rantai pengolahannya.
Pomelo membaca dua kecemasan sekaligus: perempuan modern tak punya waktu untuk ribet, dan masyarakat tak lagi nyaman dengan limbah fashion. Strateginya cerdas, karena menggabungkan workwear fleksibel dengan program sirkular yang tampak konkret.
Meski begitu, fashion berkelanjutan tidak cukup berhenti pada pengumpulan pakaian bekas. Tanpa komitmen pada kualitas material, perbaikan desain agar tahan lama, dan pelaporan dampak yang terukur, sustainability mudah menjadi label yang dipakai saat kampanye lalu menghilang saat musim koleksi berganti.
Di titik ini, “Verse” menarik sebagai metafora: perempuan diminta menulis banyak bab dalam sehari, sementara brand ditantang menulis bab tanggung jawab yang konsisten. Jika keduanya bertemu, gaya tidak lagi berseberangan dengan etika, melainkan saling menguatkan.
Acara “9 to Verse” dan kampanye “Share The Style” memperlihatkan bahwa workwear modern dan fashion berkelanjutan bisa berjalan dalam satu narasi yang sama. Pakaian dibuat untuk bergerak, tetapi juga harus punya akhir yang lebih baik daripada sekadar menjadi sampah.
Pertanyaannya kini sederhana namun tajam: setelah 231 kilogram terkumpul, apakah industri siap mengubah cara produksi, bukan hanya cara mengemas cerita. Jika perempuan modern diminta efisien dan adaptif setiap hari, sudah semestinya brand juga adaptif dalam akuntabilitasnya.
(Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)