Budaya Kerja 7 Hari Startup AI: Nico Laqua dan Corgi

entrepreneur.com

entrepreneur.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja 7 hari di startup AI kini jadi perdebatan, setelah CEO Corgi Nico Laqua mengaku tidur tiga jam semalam di kantor. Ia bahkan memilih “mati di 50” demi Corgi jadi raksasa, sebuah ekstrem yang memaksa publik menilai ulang batas ambisi dan kesehatan.

Corgi, perusahaan AI insurance yang didirikan 2024, melesat menjadi unicorn pada Mei dengan valuasi US$1,3 miliar. Tak lama kemudian, pendanaan lanjutan mengerek valuasi ke US$2,6 miliar, mempertebal narasi “kerja keras membayar”.

Di balik angka itu, Laqua merancang kantor sebagai mesin tanpa jeda. Ia menaruh kasur di lantai kantor dan membangun kafe 24/7 agar tim tidak perlu keluar untuk kopi.

Model ini bukan sekadar jam kerja panjang, melainkan ideologi. Laqua menegaskan karyawan boleh mengambil “rest day” sesekali, tetapi akhir pekan bukan hak rutin.

Kalimatnya tegas dan eksklusif: jika libur Anda selalu Sabtu dan Minggu, Anda “tidak punya tempat” di Corgi. Kandidat pun diuji dengan kerja akhir pekan, dan mereka melihat kantor tetap penuh pada hari Sabtu.

Budaya kerja 996—9 pagi sampai 9 malam, enam hari seminggu—pernah dilarang di China pada 2021, tetapi kini kembali populer di Silicon Valley. Laqua menyebut tren kantor penuh di akhir pekan bukan kebetulan, melainkan konsekuensi kompetisi pertumbuhan.

Di podcast 20VC, host Harry Stebbings menyebut Corgi sebagai “workplace culture paling intens di Amerika”. Laqua menjawab dilema moral secara telanjang: ia memilih Corgi triliun dolar meski harus meninggal di usia 50.

Ia merasionalisasi pilihan itu dengan frasa yang mudah viral: “Saya mati juga, apa pun pilihannya.” Ia ingin menghitung hidup “dalam kemenangan, bukan tahun,” sebuah retorika yang memuliakan hasil di atas keberlanjutan.

Laqua juga mengklaim akhir pekan konvensional tidak kompatibel dengan misi “mengubah dunia”. Ia berkata apa pun yang selesai dalam lima hari akan lebih banyak dan lebih baik dalam enam atau tujuh.

Namun klaim produktivitas linear sering berbenturan dengan realitas kelelahan. Riset psikologi kerja selama bertahun-tahun menunjukkan jam kerja berlebihan menaikkan risiko error, konflik, dan keputusan impulsif, terutama pada pekerjaan kompleks.

Industri asuransi dan keuangan memang sangat teregulasi, dan Laqua menekankan ini sebagai alasan. Tetapi regulasi justru menuntut ketelitian, dokumentasi, dan kontrol risiko yang biasanya melemah ketika ritme kerja berubah menjadi “sprint permanen”.

Simbol loyalitas di Corgi pun melampaui KPI. Laqua mengatakan dua pertiga dari 30 karyawan pertama memiliki tato logo Corgi, tanda komitmen yang menempel di tubuh.

Di satu sisi, tato bisa dibaca sebagai kohesi tim dan identitas bersama. Di sisi lain, ia dapat menjadi tekanan sosial halus, karena yang tidak ikut bisa merasa kurang “beriman” pada misi.

Kontras datang dari Karri Saarinen, CEO Linear, yang menilai pola pikir Laqua khas pengusaha muda ketika startup menjadi identitas. Saarinen menulis bahwa aktivitas di luar kerja juga membentuk manusia, dan pada akhirnya bisa membuat kerja lebih baik.

Laqua membalas singkat: jika Anda terobsesi pada masalah, Anda bekerja keras. Kalimat ini tampak logis, tetapi mengabaikan pertanyaan kunci: apakah obsesi harus menelan seluruh hidup, dan siapa yang menanggung biayanya.

Budaya kerja 7 hari di startup AI seperti Corgi adalah strategi, tetapi juga pertaruhan moral. Ia menjanjikan kecepatan, namun menormalisasi pengorbanan tubuh sebagai bahan bakar valuasi.

Laqua memposisikan pilihan “mati muda demi menang” sebagai rasionalitas. Padahal itu lebih dekat pada mitologi heroik, karena mengubah kelelahan menjadi lencana kehormatan dan menganggap batas biologis sebagai kelemahan.

Argumen “enam atau tujuh hari pasti lebih baik” terdengar meyakinkan di ruang rapat. Tetapi kualitas keputusan dalam bisnis teregulasi lebih sering ditentukan oleh kejernihan, bukan durasi, dan kejernihan tidak tumbuh dari tidur tiga jam.

Yang paling penting, sistem ini menciptakan seleksi sosial. Ia menyaring hanya orang yang bisa atau mau menunda keluarga, kesehatan, dan kehidupan pribadi, lalu menyebutnya “komitmen”.

Di titik itu, budaya kerja berubah menjadi mekanisme kontrol. Kandidat yang takut melihat kantor penuh pada Sabtu dianggap tidak cocok, bukan karena kurang kompeten, melainkan karena menolak norma yang dipaksakan.

Silicon Valley menyukai cerita ekstrem karena mudah dijual sebagai “founder grit”. Tetapi publik juga mulai bertanya: jika inovasi lahir dari pengorbanan total, apakah itu kemajuan, atau hanya cara baru membungkus eksploitasi.

Corgi menunjukkan bagaimana startup AI bisa tumbuh sangat cepat ketika budaya kerja dijadikan mesin yang tak boleh berhenti. Namun kecepatan punya harga, dan harga itu sering dibayar dengan tidur, relasi, dan kesehatan mental.

Pertanyaan akhirnya bukan apakah Laqua bisa membangun perusahaan besar, karena valuasi sudah memberi sinyal. Pertanyaannya lebih sunyi: jika kemenangan menuntut hidup dipersempit menjadi kantor, apakah yang tersisa dari manusia ketika perusahaan akhirnya menang.

(Orbit dari berbagai sumber, 1 Agustus 2026)