Rudal Oreshnik Rusia: Serangan Kinetik Hipersonik Tanpa Ledakan

Radio Free Europe/Radio Liberty

Radio Free Europe/Radio Liberty

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan rudal Oreshnik Rusia kembali memicu tanda tanya besar karena proyektilnya jatuh seperti meteor, tetapi nyaris tanpa kilatan ledakan. Video di dekat Kyiv pada 24 Mei memperlihatkan dentuman dampak, namun tidak ada flash eksplosif yang biasanya menjadi ciri serangan misil.

Keanehan ini bukan pertama kali terlihat pada Oreshnik, setelah dua serangan sebelumnya di Dnipro pada November 2024 dan Lviv pada Januari 2026 juga menunjukkan pola serupa. Dari rekaman yang buram sekalipun, absennya ledakan utama tampak konsisten.

Peneliti senior UN Institute for Disarmament Research, Pavel Podvig, menilai proyektil itu “tidak tampak membawa bahan peledak.” Ia menduga benda pijar itu adalah objek berat yang mengandalkan energi kinetik saat menghantam tanah.

Oreshnik, yang berarti “pohon hazel,” diperkirakan sepanjang sekitar 12 meter dengan jangkauan sekitar 5.000 kilometer. Muatan dilaporkan lebih dari satu ton, dan sistemnya mobile serta dirancang “menghilang” di lanskap seperti pohon di hutan.

Analis pertahanan Rochan Consulting, Konrad Muzyka, menyebut serangan Oreshnik tampaknya memakai sekitar 36 “penetrator kinetik.” Proyektil ini keluar dari enam kendaraan masuk ulang (reentry vehicle) pada fase akhir lintasan.

Logikanya sederhana dan brutal: bukan ledakan, melainkan kecepatan tumbukan yang menghancurkan atau menembus target. Muzyka menekankan proyektil itu “mengandalkan kecepatan dampak yang sangat tinggi” ketimbang membawa muatan peledak besar.

Namun, di sinilah paradoksnya muncul karena biaya per rudal diperkirakan puluhan juta dolar. Banyak komentator, termasuk dari Rusia, mempertanyakan manfaat melempar “bongkahan hipersonik” ke target Ukraina.

Bloger militer Rusia Vladimir Romanov menyindirnya sebagai “perangkat keras yang sangat mahal dibanting ke tanah.” Ia menyebutnya demi “gambar indah yang tidak ada yang percaya lagi (kecuali para pensiunan).”

Masalah lain adalah akurasi, karena rudal balistik yang melepas hulu ledak dari ketinggian terkenal sulit diarahkan presisi. Untuk senjata nuklir, ketidakpresisian bisa “ditutupi” radius kehancuran, tetapi penetrator kinetik menuntut ketepatan yang lebih tinggi.

Investigasi sumber terbuka atas serangan Dnipro 2024 yang menarget pabrik roket era Soviet bahkan menyimpulkan proyektil Oreshnik mungkin meleset dari kompleks utama. Foto pers menunjukkan kerusakan berat pada atap satu bangunan tak teridentifikasi, sementara struktur lain tampak relatif utuh.

Pada serangan 24 Mei, Muzyka menilai rekaman “tampak menunjukkan elemen dampak tersebar di area yang relatif luas.” Ini bisa berarti target memang dibagi ke beberapa titik bidik, atau justru menandakan keterbatasan akurasi pada kendaraan masuk ulang.

Di Bila Tserkva, seorang bloger militer Ukraina mengklaim menemukan lokasi jatuh salah satu proyektil. Ia membandingkan kawah sebesar kolam spa itu dengan daya rusak sebuah peluru artileri.

Dinas darurat Ukraina merilis gambar garasi rusak dan kebakaran kecil di kota tersebut. Target pastinya belum jelas, meski Bila Tserkva memiliki lapangan udara peninggalan era Soviet.

Jika dampak fisiknya sering tampak terbatas, maka nilai Oreshnik kemungkinan berada pada efek psikologis dan pesan strategis. Muzyka menyimpulkan serangan ini lebih konsisten sebagai “sinyal strategis” ketimbang upaya menghasilkan efek besar di darat.

Podvig sejalan dengan penilaian itu, karena secara teknis proyektil ganda bisa merusak target “lunak,” tetapi ia melihatnya lebih sebagai komunikasi kekuatan. Dengan kata lain, ini adalah teater militer yang meminjam bahasa sains: hipersonik, reentry, dan penetrator.

Konteks politik memperkuat dugaan tersebut, karena tak lama sebelum serangan 24 Mei, Kremlin meminta militer menyiapkan “usulan” pembalasan atas serangan drone Ukraina yang disebut menewaskan sedikitnya 18 orang di asrama mahasiswa. Oreshnik lalu tampil sebagai jawaban yang terlihat canggih, cepat, dan menakutkan.

Propaganda Rusia juga menonjolkan kemampuan Oreshnik dipersenjatai nuklir serta jangkauan lintas Eropa. Media pemerintah Rusia bahkan mengklaim waktu terbang ke target Eropa, seperti 20 menit ke London dan Paris, serta 12 menit ke Warsawa.

Dimensi nuklir ini menambah risiko salah tafsir, karena urutan peluncurannya mirip rudal balistik antarbenua (ICBM). Pada 20 November 2024, sehari sebelum peluncuran pertama ke Ukraina, Kedutaan AS dan beberapa kedutaan Barat sempat tutup mendadak karena “risiko serangan udara meningkat.”

Sehari sebelum serangan 24 Mei, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan intelijen AS dan Eropa menunjukkan Rusia menyiapkan serangan dengan rudal canggih itu. Rusia mengklaim memberi peringatan “otomatis” 30 menit kepada AS sebelum peluncuran Oreshnik.

Pentagon mengonfirmasi pernah diberi notifikasi “singkat” sebelum serangan November 2024, tetapi Podvig menilai komunikasi bisa saja dibagikan beberapa jam lebih awal. Ia menyebut adanya perjanjian notifikasi peluncuran balistik 1988 yang menuntut pemberitahuan 24 jam, meski secara teknis mencakup ICBM.

Di titik ini, Oreshnik tidak hanya soal Ukraina, tetapi juga tentang manajemen eskalasi dengan Washington. AS masih memegang postur nuklir “launch on warning,” yakni opsi meluncurkan serangan balasan ketika misil masuk terdeteksi sebelum menghantam wilayah AS.

Oreshnik menunjukkan bagaimana perang modern bisa memadukan teknologi mahal dengan hasil tak selalu sebanding di medan tempur. Ketika proyektil hipersonik jatuh tanpa ledakan, yang tersisa adalah pesan: “kami bisa,” bukan selalu “kami menang.”

Serangan semacam ini menguji batas antara efek militer dan efek psikologis, antara presisi dan pertunjukan. Pertanyaannya, berapa lama dunia akan menoleransi “sinyal strategis” yang setiap saat bisa dibaca keliru sebagai langkah menuju eskalasi nuklir? (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)