Gugatan Veteran soal Arc de Trump di Arlington Cemetery
ORBITINDONESIA.COM – Gugatan veteran terhadap Arc de Trump di Arlington National Cemetery mengubah proyek monumen menjadi ujian etika kekuasaan. Shaun Byrnes dan Jon Gundersen, dua pensiunan yang pernah melayani banyak presiden, kini menantang Presiden Donald Trump di pengadilan demi menghentikan lengkung raksasa setinggi 250 kaki.
Shaun Byrnes dan Jon Gundersen menggugat untuk menghentikan pembangunan sebuah lengkung kemenangan setinggi 250 kaki. Lokasinya berada di bundaran lalu lintas yang saat ini kosong, di antara Arlington National Cemetery dan Lincoln Memorial.
Mereka menilai proyek dipaksakan dan belum mendapat persetujuan kongres yang semestinya. Mereka juga menyebut lengkung itu akan merusak garis pandang simbolik antara Lincoln Memorial dan Robert E. Lee Memorial yang dirancang untuk menyampaikan persatuan pasca Perang Saudara.
Dalam gambar rancangan terbaru, lengkung itu disebut akan lebih dari dua kali tinggi Lincoln Memorial. Byrnes dan Gundersen menegaskan gugatan mereka bukan misi partisan, melainkan soal loyalitas dan penghormatan pada yang gugur.
Byrnes, veteran Angkatan Laut dengan dua penugasan di Vietnam, mengatakan ia ikut menggugat demi menghormati rekan-rekannya yang tak pulang. Ia bahkan menyatakan akan mempertimbangkan ulang keinginannya dimakamkan di Arlington jika lengkung itu benar dibangun.
Pemerintah melalui Departemen Kehakiman meminta gugatan ditolak dengan alasan para penggugat tidak memiliki kedudukan hukum yang memadai. Pejabat administrasi juga mengklaim kongres sudah pernah mengotorisasi gagasan sejenis lewat rencana lebih dari 100 tahun lalu tentang “dua kolom megah” setinggi 166 kaki sebagai simbol Utara dan Selatan.
Seorang hakim federal bulan lalu menolak permohonan penghentian sementara pembangunan, meski konstruksi belum dimulai. Di saat yang sama, proyek terus bergerak lewat jalur persetujuan lembaga desain dan tata kota federal.
Inti sengketa Arc de Trump di Arlington Cemetery bukan hanya estetika, melainkan prosedur dan legitimasi. Para penggugat menuduh administrasi melaju tanpa persetujuan kongres yang jelas, sementara pemerintah berlindung pada tafsir otorisasi historis yang konteksnya berbeda.
Perbandingan angka menajamkan kontroversi itu. Rencana lama menyebut dua kolom 166 kaki, sedangkan lengkung baru diproyeksikan 250 kaki dan dikatakan lebih dari dua kali tinggi Lincoln Memorial.
Kontroversi publik juga terekam dalam proses resmi. Sekretaris U.S. Commission of Fine Arts, Thomas Luebke, menyatakan “100% komentar menentang proyek,” menurut laporan The Associated Press.
Namun, komisi tersebut tetap menyetujui desain lengkung minggu lalu, sebuah langkah kunci yang mendorong proyek maju. Komisi perencanaan perkotaan yang disebut berisi sekutu presiden juga dapat memberi lampu hijau pada awal Juni.
Di lapisan politik simbolik, proyek ini sulit dipisahkan dari persona presiden. Tahun lalu, Trump memamerkan model yang mirip Arc de Triomphe Paris dan menyebutnya “akan fantastis,” lalu ketika ditanya untuk siapa lengkung itu, ia menjawab, “Saya.”
Pernyataan itu mengubah makna monumen dari perayaan 250 tahun Amerika menjadi dugaan monumen personal. Dalam tradisi demokrasi, monumen nasional biasanya berfungsi sebagai memori kolektif, bukan penegasan ego penguasa.
Gugatan ini terasa seperti benturan dua definisi patriotisme. Bagi Byrnes dan Gundersen, setia pada negara berarti menolak simbol kekuasaan yang dianggap mencederai kehormatan pemakaman militer dan merusak tata simbol ibu kota.
Pengalaman mereka menambah bobot moral yang sulit diabaikan. Keduanya pernah bertugas di Moskow dan membantu pembukaan kedutaan AS di negara-negara Blok Timur pasca-Soviet, sehingga mereka mengaku mengenali pola “monumen untuk pemimpin” dalam rezim otoriter.
Gundersen mengatakan, “Kami tahu bagaimana kediktatoran otoriter bekerja,” seraya menyebut ketiadaan rule of law dan consent of the governed. Ia melihat lengkung itu mengingatkan pada negara-negara yang pernah mereka hadapi atau tempat mereka bekerja.
Argumen pendanaan pun tidak otomatis menyelesaikan masalah. Trump menyiratkan pembangunan bisa dibiayai donasi privat, tetapi Gundersen mempertanyakan apakah monumen harus lahir dari uang para oligark “yang memberi uang demi imbalan.”
Di titik ini, proyek lengkung bukan sekadar bangunan, tetapi bahasa kekuasaan di ruang publik. Ketika keberatan publik dilaporkan bulat menolak, tetapi persetujuan tetap keluar, muncul pertanyaan tentang siapa yang benar-benar didengar dalam demokrasi.
Arc de Trump di Arlington Cemetery menyingkap dilema klasik Amerika: antara megahnya simbol dan ketatnya tata kelola. Jika monumen berdiri tanpa konsensus dan prosedur yang kokoh, ia bisa menjadi penanda kemenangan politik sesaat, bukan warisan bersama.
Byrnes dan Gundersen mempertaruhkan reputasi dan ketenangan masa pensiun untuk satu pesan: kehormatan nasional tidak boleh dipahat tergesa-gesa. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi menggigit, monumen ini akan mengabadikan ingatan kolektif, atau justru mengukir kultus individu di jantung demokrasi.
(Orbit dari berbagai sumber, 27 Mei 2026)