Amin Minhan: Diduga Partai Merah dan Partai Biru Bermain di Balik Layar
Oleh Amin Minhan
ORBITINDONESIA.COM - Kalau nonton film detektif Barat sangat seru, kita dibuat sulit untuk menebak siapa di balik misteri. Namun untuk memantau perpolitikan Indonesia justru lebih gampang menebak siapa pemain di balik layar yang meneror keluarga Jokowi selama ini.
Mari kita mulai meneropong dengan cara-cara penulis menemukan misteri di balik tembok itu.
Dimulai dari Roy Suryo, lalu Denny Indrayana. Sama-sama adalah mantan pengurus partai Biru.
Orang-orang pikirannya pasti akan menduga bahwa partai Biru-lah otak di balik layar. Sekilas sepertinya begitu. Namun tunggu dulu, kita tunggu sampai tanda-tanda itu muncul.
Di samping itu, kita lihat juga siapa yang menyimpan sakit hati paling dalam terhadap Jokowi. Di sini kita ketahui adalah Partai Merah-lah yang menyimpan sakit hati terdalam. Oke, sejauh itu ada dugaan Merah dan Biru.
Tapi coba kita pelajari dengan lebih cerdas. Kalaulah partai Biru yang akan melakukan, dia tidak akan mengambil orang-oramh yang masih bekas berlabel biru. Terlalu mencolok dan kampungan.
Sekarang coba kita tebak bahwa Partai Merah yang sengaja menggunakan orang-orang yang masih ada hubungan dengan Partai Biru, dan ini bisa sekali melangkah dua tiga pulau terlampaui. Orang-orang Jokowi akan teradu domba dengan Partai Biru.
Sekarang dugaan kita lebih menguat di balik layar ini yang bermain adalah Partai Merah.
Namun coba kita pertajam lagi dengan tanda-tanda yang muncul.
Ketika dokter Tifa tersudut dia bukan meminta pertolongan partai Biru, namun yang diminta bantuan dan pertolongannya adalah Partai Merah.
Demikian pula, saat Roy Suryo terpojok, bukan minta bantuan partai Biru. Ada orang Partai Merah berceloteh terus menggiring opini, antara lain yang paling sering adalah GR dan FH. Keduanya adalah dari Partai Merah.
Kemudian saat Denny Indrayana mau melayangkan gugatan, beliau meminta pasangan Capres dan Cawapres dari partai Merah. Namun karena takut mencolok barangkali, maka partai Merah menjawab "kami dukung di balik layar saja.?
Namun ada Cawapres-nya berselancar terus, seakan mendukung kebenaran, namun kata-katanya bersayap.
Nah, sampai sini kalian sudah bisa ikut menyimpulkan, dugaan paling kuat Partai di balik layar itu siapa.
Ditambah lagi saat menjelang keputusan dari MK, justru SBY mengkritik MK. Jangan melewati batas wewenang karena akan kacau negara ini.
Ditambah lagi dengan Patrialis Akbar, Hakim MK zaman SBY ini juga mengingatkan MK, jangan melewati batas wewenang dan melanggar konstitusi.
Maka klop lah, partai Biru seakan memberi kode bahwa kami bukanlah partai yang berperan di balik layar, karena kami tidak membela permainan kotor yang melanggar konstitusi negara. Wewenang MK harus dikembalikan ke sebagaimana fungsinya.
Jadi sekarang jelas bukan kawan-kawan, bahwa diduga kuat pemain dibalik layar itu adalah Partai Merah yang sakit hati.
Namun, mereka mencoba menggunakan orang-orang mantan partai Biru, agar permainan kelihatan cantik.
Padahal nggak cantik-cantik banget. Permainannya masih level bawah, mudah ditebak.
SBY lihai. Sering kali... lempar batu sembunyi tangan....
Semua partai punya agenda politik, yang paling mencolok partai Nasdem. PDIP dan Demokrat kurang norak, mereka sering menggunakan obat gosok gatal-gatal.
Walaupun PKB sebenarnya tidak kelihatan, tetapi juga bermain-main terhadap gerakan gulingkan Jokowi dan Gibran. Analis ini kurang matang.
Terus bagaimana dengan partai PKS yang jelas-jelas mereka merupakan pendukung Anies Baswedan, Dokter Tifa murni kader PKS, dan orang tuanya adalah pendiri PKS tulen.
Bobot yang dilakukan dalam penggulingan Gibran dan Jokowi tentunya punya kadar seperti emas disepuh.
Mahfud MD itu Malin Kundang, kata Gus Dur setelah melihat kelakuannya.
Yang paling sadis dan tanpa sembunyi-sembunyi adalah Nasdem. Nasdem secara terang-terangan dan terbuka ingin membunuh karier politiknya Jokowi dab Genk. Ada apakah dengan si jenggot ini? ***