IHSG Anjlok, Gross Split Tambang Batal dan Rupiah Tertekan
ORBITINDONESIA.COM – IHSG jatuh -4,52% saat rupiah melemah ke 18.178 per dolar AS, tetapi saham tambang justru lebih tahan setelah pemerintah menegaskan skema gross split hanya untuk migas. Di hari yang sama, pemerintah juga membuka ruang relaksasi kuota RKAB 2026 agar penerimaan negara ikut naik ketika harga komoditas sedang panas. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Isu gross split sempat menghantui sektor mineral dan batu bara sejak awal Mei 2026, karena pasar membaca itu sebagai perubahan aturan main bagi hasil. Ketika ketidakpastian kebijakan membesar, investor biasanya memilih menepi, dan tekanan pun merembet ke harga saham emiten tambang. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Pada 8 Juni 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menutup spekulasi itu dengan menyatakan gross split hanya diberlakukan di sektor minyak dan gas. Sektor mineral dan batu bara disebut tidak berubah, meski pemerintah tetap menyiapkan relaksasi kuota produksi RKAB 2026 secara “terukur”. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Di luar tambang, pasar juga diguncang faktor makro yang lebih keras, yaitu tekanan rupiah dan arus keluar asing. Cadangan devisa turun ke US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026, terendah sejak Juni 2024, setelah turun lima bulan beruntun karena stabilisasi nilai tukar. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Pembatalan wacana gross split untuk minerba bekerja seperti “rem darurat” bagi sentimen, karena risiko perubahan kontrak dan pembagian penerimaan mendadak mengecil. Ini terlihat dari pergerakan saham tambang yang relatif flattish ketika IHSG ambruk, seperti AADI (-1,65%), ITMG (-0,11%), MBMA (+1,38%), dan NCKL (-0,64%). (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Namun angin segar itu tidak sama dengan langit yang cerah, karena masih ada overhang kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis. Kementerian Perdagangan bahkan merilis aturan teknis sentralisasi ekspor batu bara, minyak sawit, dan ferroalloy melalui Permendag No. 15, 16, dan 17 Tahun 2026. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Untuk sektor metal, kekhawatiran sedikit mereda karena ada peluang pengecualian bagi pelaku usaha yang memiliki kontrak investasi, divestasi, serta pengolahan dan pemurnian domestik. Rujukannya adalah Peraturan Pemerintah No. 24/2026, yang membuka ruang interpretasi bahwa kepastian proyek hilirisasi bisa diberi jalur khusus. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Relaksasi kuota RKAB 2026 juga mengandung logika fiskal, karena pemerintah ingin menangkap harga komoditas yang sedang naik. Harga minyak Brent naik ke sekitar US$96,7 per barel (+3,85%), sementara batu bara 150,3 (+1,86%) dan CPO 4.573 (+0,42%) mengindikasikan siklus komoditas belum sepenuhnya dingin. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Masalahnya, relaksasi kuota selalu punya dua sisi, yaitu penerimaan negara versus disiplin pasokan. Jika kuota naik serempak saat permintaan global melambat, harga bisa terkoreksi dan justru menggerus penerimaan, sehingga “optimalisasi” berubah menjadi bumerang. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Tekanan makro memperjelas rapuhnya keseimbangan itu, karena rupiah yang melemah membuat biaya impor energi dan beban bunga meningkat. Reuters melaporkan BI dan Kemenkeu sepakat menaikkan yield aset Indonesia untuk menarik arus portofolio, setelah BI sudah menaikkan suku bunga 50 bps pada Mei 2026 dan memperkuat intervensi valas. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
OECD menambah lapisan kekhawatiran dengan memproyeksikan defisit APBN 2026 mencapai batas legal 3% PDB, didorong potensi subsidi energi yang menambah defisit 0,6% PDB. OECD juga merevisi turun pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 4,7% YoY, dengan catatan biaya energi tinggi dan ketidakpastian kebijakan menekan konsumsi serta investasi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Di tengah turbulensi, pasar menemukan “cerita” lain pada emiten defensif, yaitu dividen besar. TLKM mengumumkan dividen Rp222,08 per saham dengan indikasi yield sekitar 9,4% dan payout ratio 123,5%, tetapi sahamnya justru masuk top loser (-14,86%) yang menandakan pasar lebih takut pada risiko besar ketimbang tergoda yield. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Di sektor energi dan kimia, ESSA memberi contoh bagaimana geopolitik bisa mengangkat harga, tetapi operasi pabrik tetap menentukan laba. Produksi amonia 2Q26 diperkirakan turun karena maintenance 35–40 hari, sementara harga acuan Asia Tenggara sekitar US$750/MT dan India sekitar US$880/MT, tetapi manajemen menilai level di atas US$800/MT tidak berkelanjutan. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Untuk transisi energi, PGEO mendapat katalis pendanaan murah karena tiga proyek panas buminya masuk Green Book 2026 Bappenas. Potensi pinjaman konsesional hingga sekitar US$477,9 juta dari JICA dan Bank Dunia memberi sinyal bahwa proyek EBT bisa lebih bankable, asalkan negosiasi SLA berjalan mulus. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Sementara itu, sektor emas mendapat narasi pertumbuhan cadangan melalui EMAS, setelah estimasi sumber daya baru Kolokoa sekitar 445 ribu ons menaikkan total Pani menjadi 7,4 juta ons. Tetapi pasar biasanya menunggu bukti berikutnya, yaitu biaya pengembangan, timeline produksi, dan kemampuan pendanaan, bukan hanya angka sumber daya. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Keputusan pemerintah membatasi gross split hanya untuk migas patut dibaca sebagai upaya meredakan kepanikan, bukan semata koreksi kebijakan. Pasar tidak alergi pada perubahan, tetapi alergi pada perubahan yang datang tanpa peta jalan, tanpa masa transisi, dan tanpa narasi yang konsisten. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Relaksasi RKAB 2026 juga menguji kualitas tata kelola, karena “terukur” sering menjadi kata yang indah tetapi lentur. Jika ukuran itu tidak transparan, investor akan menilai kebijakan sebagai diskresi yang rawan tarik-menarik, sehingga premi risiko naik dan biaya modal emiten ikut mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Sentralisasi ekspor menambah dimensi baru, karena ia menyentuh arus kas, kepastian kontrak, dan rantai pasok. Ketika harga tandan buah segar sempat jatuh dan Kementan menyebut akan meminta polisi menyelidiki sekitar 300 perusahaan sawit, publik menangkap sinyal bahwa kebijakan ekonomi bisa cepat bergeser menjadi isu penegakan. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Di sisi lain, tekanan rupiah dan turunnya cadangan devisa menunjukkan biaya mempertahankan stabilitas tidak murah. Ketika BI dan Kemenkeu berbicara tentang menaikkan yield aset untuk menarik dana asing, itu berarti Indonesia sedang membayar “harga kepercayaan” yang lebih tinggi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Dividen besar seperti TLKM seharusnya menjadi jangkar psikologis, tetapi pasar tetap menghukum ketika ketidakpastian makro dominan. Ini mengingatkan bahwa yield tinggi tidak selalu berarti murah, karena bisa juga berarti pasar sedang mendiskon risiko yang belum selesai. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Pekan ini memberi pelajaran sederhana, bahwa kebijakan sektor tambang, stabilitas rupiah, dan disiplin fiskal tidak berdiri sendiri. Pembatalan gross split minerba menenangkan satu titik, tetapi sentralisasi ekspor, tekanan energi, dan proyeksi defisit 3% PDB tetap membuat pasar menuntut kepastian yang lebih besar. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Pemerintah bisa memilih dua jalan, yaitu memperbanyak intervensi atau memperjelas aturan main. Jika yang diperkuat adalah transparansi, konsistensi, dan ukuran kebijakan yang terukur secara publik, maka modal akan datang bukan karena dipaksa, melainkan karena percaya. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan apakah komoditas sedang mahal, melainkan apakah Indonesia mampu mengubah siklus harga menjadi kepastian institusi. Pasar selalu bisa memaafkan volatilitas, tetapi jarang memaafkan kebijakan yang berubah tanpa kompas. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)