Harga Minyak Dunia Naik, Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Rawan

CNBC Indonesia

CNBC Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Harga minyak dunia naik lagi setelah perundingan lanjutan AS-Iran di Swiss batal digelar. Kenaikan harga minyak Brent dan WTI ini menegaskan satu hal: Selat Hormuz tetap menjadi kata kunci risiko pasokan global.

Brent ditutup di US$80,57 per barel pada Jumat (19/6/2026), naik 0,90% menurut Refinitiv. WTI menguat 1,27% ke US$77,54 per barel pada hari yang sama.

Namun secara mingguan, Brent turun 7,96% dan WTI ambruk 8,64%. Artinya pasar tidak sedang euforia, melainkan bernegosiasi dengan ketidakpastian yang belum selesai.

Gencatan senjata sementara membuat jalur pelayaran Selat Hormuz kembali dibuka. Tetapi pembatalan perundingan Swiss menegaskan perdamaian permanen masih rapuh dan mudah tergelincir.

Data AXS Marine mencatat 25 pelayaran komersial melewati Hormuz pada Kamis (18/6/2026). Angka ini tertinggi sejak 18 April dan lebih dari lima kali lipat rata-rata harian 10 hari pertama Juni.

Meski begitu, angka tersebut masih jauh dari kondisi normal sebelum konflik yang sekitar 120 pelayaran per hari. Kesenjangan ini adalah barometer ketakutan industri, bukan sekadar statistik lalu lintas.

Kpler melaporkan supertanker Iran mulai menyalakan transponder setelah sempat dimatikan selama konflik. Kembalinya sinyal adalah tanda perdagangan berusaha normal, tetapi juga menandai fase baru pengawasan dan kontrol.

Kuwait Petroleum Corp kembali menawarkan minyak pengiriman Juli setelah mencabut status force majeure dan menyiapkan peningkatan produksi. ADNOC juga mengeluarkan tender keempatnya bulan ini, menambah sinyal bahwa produsen Teluk ingin meyakinkan pasar.

Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran pada Kamis, membuat arus minyak Iran berpotensi pulih lebih cepat. Namun, Joint Maritime Information Center (JMIC) memperingatkan risiko ranjau laut dan aktivitas militer selama operasi pembersihan.

JMIC bahkan menyarankan kapal menghindari Traffic Separation Scheme (TSS) karena risiko ranjau. Ini ironis, karena jalur resmi yang dirancang untuk keselamatan justru dianggap berbahaya saat ketegangan belum benar-benar reda.

Braemar mengingatkan risikonya mulai dari ancaman ranjau hingga kapal “terjebak” jika Iran kembali menutup Hormuz. Braemar juga menulis kemungkinan Iran mengenakan biaya pengelolaan transit setelah 60 hari masa bebas biaya.

Di sisi harga, analis Axi Tiago Lacerda memperkirakan Brent bergerak di kisaran US$75-82 per barel dalam jangka pendek. Ia juga mencatat Brent sudah turun sekitar 36% dari puncaknya selama konflik, sehingga ruang volatilitas masih terbuka.

Analis PVM Tamas Varga menilai pembukaan Hormuz terbatas, pencabutan force majeure Kuwait, dan berakhirnya blokade AS meyakinkan investor bahwa gangguan pasokan besar telah berlalu. Tetapi ia mengingatkan aksi jual belakangan ini kemungkinan tidak berlangsung lama, karena premi risiko bisa kembali kapan saja.

Di atas semua itu, Sekjen OPEC Haitham Al Ghais menegaskan permintaan minyak global belum akan mencapai puncak dalam waktu dekat. Pernyataan ini menambah lapisan tekanan: permintaan tetap kuat saat sisi pasokan masih dibayangi politik dan keamanan.

Pasar minyak hari ini bergerak bukan karena kekurangan barel semata, tetapi karena ketidakpastian aturan main di Selat Hormuz. Ketika perundingan Swiss batal, yang naik bukan hanya harga, melainkan juga “harga ketakutan” yang dibayar lewat premi asuransi.

Iran memberi sinyal memperketat kontrol, termasuk kewajiban koordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi. Ambrey melaporkan pasukan Iran memerintahkan kapal tanker berbendera Hong Kong dan kapal kargo berbendera Saint Kitts dan Nevis untuk berbalik arah pada Kamis.

Surat edaran Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) menyebut kapal tidak boleh melintas tanpa izin, serta membuka ruang biaya asuransi dan kewajiban pembaruan perlindungan. Industri pelayaran menolak tarif di jalur yang mereka anggap perairan internasional, sehingga konflik berikutnya bisa bergeser dari militer ke sengketa tata kelola.

Di titik ini, kata “normalisasi” menjadi menipu karena yang kembali bukan kondisi lama, melainkan konfigurasi baru yang lebih politis. Bahkan data rute menunjukkan 18 kapal pada Kamis memakai jalur yang ditetapkan Iran, sementara hanya satu kapal memakai rute resmi IMO.

Artinya, pelayaran memilih pragmatisme di atas kepatuhan standar internasional, karena tujuan utama adalah selamat dan sampai. Ketika rute internasional kalah oleh rute “yang disukai otoritas setempat”, pasar sedang menyaksikan pergeseran kedaulatan de facto di jalur energi dunia.

Charlie Brown dari UANI mengatakan polemik sanksi sepihak AS tampaknya bukan lagi persoalan utama. Pernyataan itu sejalan dengan laporan armada 10 supertanker Iran membawa hampir 20 juta barel menuju Asia, yang diperkirakan memasok teapot refineries di China.

Jika arus ini berlanjut, geopolitik minyak masuk babak baru: bukan hanya soal siapa memproduksi, tetapi siapa mengatur pintu keluar-masuknya. Dan di Selat Hormuz, “pintu” itu bisa berubah menjadi loket, lengkap dengan syarat, izin, dan biaya.

Kenaikan harga minyak dunia kali ini terlihat kecil, tetapi pesannya besar: gencatan senjata tidak otomatis berarti stabilitas. Selama perundingan damai mudah dibatalkan dan tata kelola Selat Hormuz diperebutkan, pasar akan hidup dalam mode siaga.

Pertanyaannya bukan lagi apakah minyak akan mengalir, melainkan dengan aturan siapa minyak itu mengalir. Ketika jalur energi global dipenuhi izin, tarif, dan risiko ranjau, dunia perlu bertanya: berapa mahal harga “keamanan” yang sebenarnya sedang kita beli? (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juni 2026)