Hewan Laut Dalam: 91% Spesies Masih Misteri, Kata Dalhousie
ORBITINDONESIA.COM – Laut dalam menyimpan hewan laut dalam yang nyaris tak tersentuh sains, dan Dalhousie University di Nova Scotia, Kanada, menaksir 91% spesiesnya belum kita ketahui. Di ruang gelap bertekanan tinggi itu, biodiversitas laut justru memamerkan bentuk-bentuk menawan yang menantang imajinasi manusia.
Di permukaan, kita merasa sudah memetakan dunia, tetapi dasar samudra masih menjadi peta yang bolong-bolong. Estimasi 91% hewan laut dalam yang belum teridentifikasi menegaskan bahwa pengetahuan kita tentang kehidupan Bumi masih timpang.
Masalahnya bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan keterbatasan teknologi, biaya ekspedisi, dan risiko operasi di kedalaman ekstrem. Ketika riset berjalan lambat, aktivitas ekonomi seperti penambangan laut dalam dan eksploitasi perikanan bergerak lebih cepat.
Publik sering melihat laut dalam sebagai “ruang kosong” yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, ekosistem ini terkait dengan siklus karbon, stabilitas iklim, dan rantai makanan yang menopang perikanan pesisir.
Angka 91% adalah alarm metodologis: sebagian besar spesies belum diberi nama, belum dipetakan, dan belum dipahami perannya. Dalam praktiknya, banyak organisme laut dalam hanya terekam lewat kamera ROV atau sampel terbatas, lalu menghilang dari catatan karena kurangnya data lanjutan.
Tekanan, suhu rendah, dan kegelapan abadi membuat hewan laut dalam berevolusi dengan strategi yang tampak “aneh” bagi manusia. Bioluminesensi, mulut besar, metabolisme lambat, dan tubuh transparan adalah adaptasi yang efisien, bukan keajaiban tanpa logika.
Di sisi lain, laju penemuan spesies baru tidak otomatis mengejar laju perubahan lingkungan. Laporan IPCC AR6 menegaskan laut mengalami pemanasan, pengasaman, dan penurunan oksigen, yang semuanya dapat mengubah habitat hingga ke kedalaman (IPCC, 2021–2023).
Ketika oksigen menipis, zona minimum oksigen bisa meluas dan mendorong migrasi paksa organisme. Ini berarti spesies yang bahkan belum kita kenali bisa sudah tertekan sebelum sempat dideskripsikan.
Ancaman lain datang dari rencana penambangan nodul polimetalik di dasar laut. International Seabed Authority masih menjadi arena debat global, karena dampak sedimen, kebisingan, dan hilangnya habitat berpotensi berlangsung lama dan sulit dipulihkan.
Argumen “kita butuh mineral untuk transisi energi” sering terdengar rasional, tetapi jarang diikuti kepastian ekologis. Tanpa baseline biodiversitas laut dalam yang memadai, penilaian dampak lingkungan mudah berubah menjadi tebakan yang dilegalkan.
Teknologi sebenarnya memberi harapan: eDNA, kamera beresolusi tinggi, dan pemetaan sonar mempercepat identifikasi. Namun, data besar tanpa taksonomi yang kuat bisa menghasilkan katalog bayangan, yaitu banyak sinyal genetik tanpa pemahaman ekologi.
Di sinilah klaim 91% menjadi penting sebagai peta kebijakan, bukan sekadar angka sains. Ia menyiratkan bahwa ketidaktahuan kita adalah variabel risiko, dan risiko itu sedang diperdagangkan dalam keputusan ekonomi.
Estetika hewan laut dalam yang “menawan” sering dijadikan pintu masuk cerita, tetapi ia juga bisa menjadi jebakan romantisasi. Kekaguman publik mudah berhenti pada gambar viral, lalu lupa bahwa keindahan itu hidup dalam sistem rapuh yang tidak kita pahami.
Dalam politik lingkungan, ketidaktahuan kerap dimanfaatkan sebagai ruang negosiasi. Jika 91% belum dikenal, maka standar kehati-hatian seharusnya naik, bukan turun, karena yang tak terlihat bukan berarti tak bernilai.
Kita perlu membalik logika pembangunan: jangan menunggu kerusakan terjadi baru menghitung kerugian. Laut dalam adalah “infrastruktur biologis” planet, dan membangunkannya kembali mungkin membutuhkan waktu geologis, bukan satu siklus anggaran.
Yang paling mengganggu adalah kesenjangan antara kemampuan mengekstraksi dan kemampuan memahami. Kita mampu menurunkan mesin ke palung, tetapi belum tentu mampu menjawab pertanyaan sederhana: spesies apa yang kita hilangkan, dan untuk apa ia ada.
Dalhousie University mengingatkan bahwa 91% hewan laut dalam masih misteri, dan misteri itu bukan sekadar daftar nama yang belum lengkap. Ia adalah cermin bahwa sains, kebijakan, dan ekonomi belum berjalan seimbang di wilayah paling luas di Bumi.
Jika laut dalam adalah halaman terakhir buku kehidupan, kita sedang merobeknya sambil membaca setengah kalimat. Mungkin pertanyaan yang perlu kita simpan adalah ini: seberapa berani kita mengklaim kemajuan, bila kita belum mengenal tetangga kita di kedalaman samudra.
(Orbit dari berbagai sumber, 26 Oktober 2026)