Antara Olah Rasa dan Realita: Mengapa Kontroversi "Mindfulness" Maudy Ayunda Memicu Amarah Publik
ORBITINDONESIA.COM - Di tengah impitan ekonomi dan carut-marut kebijakan publik, diskursus mengenai kesehatan mental mendadak menjadi arena debat yang panas.
Polemik ini bermula ketika figur publik Maudy Ayunda merilis konten bertajuk “Mindfulness in the Age of Bad News”. Niat hati membagikan kiat mengolah stres di tengah derasnya arus informasi negatif, unggahan tersebut justru memanen kritik tajam dari warganet.
Pemantik utama amarah publik terletak pada cara pandang yang dinilai menyederhanakan akar masalah. Publik menilai Maudy mereduksi persoalan struktural akibat kekeliruan kebijakan (bad policy) menjadi sekadar "berita buruk" (bad news) di layar ponsel yang seolah bisa diatasi dengan mematikan notifikasi atau mempraktikkan kesadaran diri (mindfulness).
Kritik kian membuncah mengingat latar belakang pendidikan Maudy sebagai alumni Philosophy, Politics, and Economics (PPE) dari Universitas Oxford. Jurusan interdisipliner tersebut dikenal melahirkan para pembuat kebijakan dunia.
Sebagai lulusan PPE, Maudy diharapkan mampu membedah akar krisis secara kritis dan sistematis, ketimbang menyodorkan narasi psikologi populer yang terkesan mengajak publik mundur dari panggung kepedulian sosial.
Bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh dampak kebijakan ekonomi, saran untuk mengatur jarak emosional dinilai sebagai wujud privilese yang out of touch atau berjarak dari realitas lapangan.
Menanggapi sorotan tajam yang mengarah padanya, Maudy memberikan klarifikasi untuk memperjelas batas antara regulasi emosi dan sikap apatis. Ia menegaskan bahwa mengelola konsumsi berita bukan berarti menutup mata dari penderitaan atau ketidakadilan.
"Tujuan utama dari menjaga jarak dari konsumsi media dan melatih mindfulness sama sekali bukan untuk mengajak kita menjadi apatis atau acuh terhadap realitas sosial. Fokusnya adalah pada regulasi emosi. Ketika seseorang terus-menerus diserbu berita buruk tanpa jeda, yang terjadi adalah kelelahan mental (burnout) dan keputusasaan. Jika mental kita sudah runtuh, kita justru kehilangan kapasitas emosional dan daya tahan untuk tetap peduli, berpikir kritis, serta mengambil tindakan nyata secara berkelanjutan."
Melalui klarifikasi tersebut, Maudy menekankan bahwa stamina emosional yang terjaga justru menjadi bahan bakar utama agar seseorang dapat terus terlibat dalam isu-isu publik tanpa harus mengorbankan kesehatan jiwanya sendiri.
Polemik ini pada akhirnya menyisakan pelajaran berharga bagi dinamika ruang digital.
Di satu sisi, menjaga kedamaian pikiran di tengah rentetan krisis memang membutuhkan navigasi emosional yang sehat.
Namun di sisi lain, masyarakat mengingatkan bahwa self-care tidak boleh mendegradasi kepekaan terhadap krisis struktural—karena masalah warga tidak selesai saat layar ponsel dimatikan. ***