Anggaran Pertahanan Inggris Kurang, Latihan Militer Terancam Dipangkas
ORBITINDONESIA.COM – Anggaran pertahanan Inggris kembali memicu alarm, setelah Kepala Staf Pertahanan memperingatkan bahwa pelatihan dan operasi harus “dikurangi” bila dana tidak ditambah. Peringatan ini muncul di tengah krisis Defence Investment Plan (DIP) dan mundurnya Menteri Pertahanan John Healey karena menilai kesepakatan anggaran justru menurunkan kesiapan pasukan.
Sir Richard Knighton, Kepala Staf Pertahanan Inggris, menyatakan militer harus “dial back” latihan dan operasi jika uang tambahan tidak datang. Ia menilai Defence Investment Plan (DIP) pemerintah belum memuat dana yang cukup untuk mendukung “aktivitas sehari-hari” dalam jangka pendek.
John Healey mundur sebagai menteri pertahanan pekan lalu dengan alasan paket dana yang ditawarkan “akan mengurangi kesiapan” dan meningkatkan risiko bagi personel di operasi. Dalam pernyataannya di House of Commons, ia menegaskan pengunduran dirinya “perlu” untuk mengamankan masa depan angkatan bersenjata dan aliansi Inggris.
Healey juga menyindir Menteri Keuangan Rachel Reeves yang ia sebut “tidak bersedia” memberi dana memadai untuk menghadapi ancaman. Ia memperingatkan bahwa “musuh kita tidak mengikuti jadwal yang ditetapkan oleh Treasury”.
Pemerintah berkomitmen menaikkan belanja pertahanan menjadi 3,5% dari pendapatan nasional pada 2035, sejalan dengan sekutu NATO. Namun DIP yang semestinya terbit pekan lalu kembali tertunda setelah pengunduran diri Healey.
Menurut Healey, Downing Street dan Treasury siap menambah sekitar £10 miliar dalam empat tahun, sekitar £18 miliar lebih rendah dari permintaan para petinggi militer. Menteri Pertahanan baru Dan Jarvis kini meninjau ulang cara belanja itu digunakan, tanpa sinyal jelas ada tambahan dana baru.
Healey menilai Inggris perlu mencapai 3% PDB untuk pertahanan pada 2030. Ia mengkritik rencana saat ini karena kenaikannya hanya 0,08% dari tahun depan hingga 2030, tanpa tanggal jelas menuju 3% dan tanpa jalur menuju 3,5%.
Dalam surat pengunduran diri yang keras, Healey menuduh DIP “membebani” kenaikan belanja di tahun-tahun belakang. Ia menekankan kebutuhan mempercepat kesiapan tempur justru berada pada dua tahun pertama.
Kekhawatiran itu diperkuat oleh Menhan bayangan dari internal pemerintah sendiri, yakni Menteri Angkatan Bersenjata Al Carns yang ikut mundur. Carns menilai tingkat investasi dalam DIP “tidak memadai” untuk tugas mempertahankan negara.
Carns juga menilai DIP kurang memberi perhatian pada perang drone dan terlalu fokus pada perangkat keras tradisional. Kritik ini menambah daftar pertanyaan tentang apakah Inggris sedang menyiapkan perang masa depan atau sekadar membiayai kebiasaan masa lalu.
Perdana Menteri Sir Keir Starmer menyatakan pemerintah menaikkan anggaran pertahanan dari 2,3% menjadi 2,6% PDB. Dari KTT G7 di Evian, Prancis, ia mengatakan DIP akan memberi Inggris “kapabilitas untuk masa depan” dan sebagian dana sudah dialihkan dari kementerian lain.
Starmer menambahkan Dan Jarvis masih “membaca berkas” dan berdiskusi soal prioritas belanja kemampuan. Ia menegaskan pembahasan sedang berjalan tentang apa yang akan dibeli dan kemampuan apa yang akan dibangun.
Terjemahan akurat artikel sumber menunjukkan inti masalah bukan sekadar angka total, melainkan struktur belanja yang timpang. Knighton menyorot “resource departmental expenditure limit” yang membiayai operasi, latihan, dan pelatihan, yaitu jantung kesiapan tempur harian.
Di sinilah kata “dial back” menjadi sinyal paling tajam, karena pemangkasan latihan biasanya berujung pada penurunan kesiapan, bukan sekadar penghematan administrasi. Latihan gabungan, jam terbang, dan pemeliharaan rutin adalah biaya yang sulit ditunda tanpa konsekuensi langsung.
Healey menyebut kenaikan hanya 0,08% hingga 2030, sehingga target 3% PDB pada 2030 tidak memiliki peta jalan yang meyakinkan. Ia juga menilai pada 2030 “lebih dari setengah” anggota NATO akan membelanjakan 3% atau lebih, sehingga Inggris berisiko tertinggal dalam kepemimpinan aliansi.
Rencana pemerintah untuk mencapai 3,5% pada 2035 memberi kesan aman di atas kertas, tetapi terlalu jauh untuk menjawab ancaman yang bergerak cepat. Kritik “backloaded” menegaskan ketegangan klasik antara logika fiskal jangka menengah dan logika militer yang menuntut kesiapan segera.
Perbedaan angka £10 miliar versus kebutuhan tambahan yang disebut-sebut lebih besar, yakni selisih sekitar £18 miliar, menunjukkan adanya jurang ekspektasi yang belum dijembatani. Dalam konteks pengadaan pertahanan, selisih ini bukan sekadar margin, melainkan bisa menentukan apakah satu program latihan besar dibatalkan atau satu skuadron tetap operasional.
Fakta bahwa DIP tertunda setelah pengunduran diri menteri memperlihatkan kebijakan sedang goyah di pusatnya. Ketika dokumen rencana investasi saja tidak kunjung terbit, pasar industri pertahanan dan mitra aliansi akan membaca ketidakpastian itu sebagai sinyal risiko.
Dimensi perang drone yang diangkat Carns memperdalam masalah, karena ia menilai fokus belanja masih terlalu tradisional. Jika benar, maka Inggris berisiko mengulang pola “membeli mahal” tetapi kalah adaptif, terutama ketika drone murah dan otonomi mengubah medan perang.
Starmer menekankan kenaikan dari 2,3% ke 2,6% PDB, namun kritik Knighton menyasar “uang operasional harian” bukan hanya belanja modal. Ini mengingatkan bahwa belanja pertahanan bukan sekadar membeli platform, tetapi juga membiayai jam latihan, amunisi, suku cadang, dan kesiapan personel.
Dalam banyak kasus, platform modern tanpa jam latihan memadai hanya menjadi aset yang indah di parade, tetapi rapuh di konflik. Karena itu, tekanan pada pos sumber daya harian dapat menggerus daya gentar Inggris lebih cepat daripada pemotongan proyek besar yang masih bisa dinegosiasikan.
Krisis ini memperlihatkan pertarungan narasi antara “target persentase” dan “kesiapan nyata”. Pemerintah menawarkan horizon 2035, sementara militer berbicara tentang kebutuhan dua tahun ke depan, yaitu saat ancaman tidak menunggu kalender fiskal.
Pernyataan Healey bahwa “adversaries do not follow timetables set by the Treasury” terdengar seperti slogan, tetapi ia memuat kritik kebijakan yang konkret. Ketika anggaran ditunda, yang pertama kali dipangkas biasanya latihan, dan yang dipertaruhkan adalah keselamatan personel.
Pengunduran diri beruntun Healey dan Carns juga menandakan protes internal yang jarang terjadi pada isu pertahanan. Bila dua pejabat kunci menilai rencana investasi “tidak memadai”, publik patut bertanya apakah pemerintah sedang menormalisasi penurunan kesiapan sebagai harga stabilitas fiskal.
Namun, militer juga perlu menjawab tantangan efisiensi dan prioritas, terutama dalam transisi ke perang drone dan sistem tanpa awak. Jika DIP terlalu tradisional, maka menambah uang tanpa mengubah desain belanja bisa menghasilkan pertahanan yang mahal tetapi tidak relevan.
Di titik ini, pertanyaan terbesar bukan hanya “berapa persen PDB”, melainkan “untuk kemampuan apa”. Inggris harus memilih apakah fokus pada kemampuan masa depan yang cepat, tersebar, dan murah, atau tetap mengikat anggaran pada platform besar yang siklusnya panjang.
Peringatan Knighton bahwa latihan dan operasi bisa dipangkas adalah indikator bahwa krisis DIP telah menyentuh inti kesiapan militer Inggris. Ketika dana harian tertekan, yang hilang bukan sekadar aktivitas, melainkan kebiasaan tempur yang menjaga pasukan tetap hidup.
Inggris boleh menargetkan 3,5% pada 2035, tetapi kredibilitas pertahanan ditentukan oleh apa yang bisa dilakukan tahun ini dan tahun depan. Jika musuh tidak menunggu, maka kebijakan juga tidak boleh menunda.
Pada akhirnya, publik perlu menuntut jawaban sederhana namun menentukan: apakah Inggris ingin terlihat kuat di dokumen rencana, atau benar-benar siap di medan yang berubah cepat. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juni 2026)