Pete Davidson Puji Kim Kardashian Superhuman di Podcast Terbaru

ORBITINDONESIA.COM – Pete Davidson kembali menyebut Kim Kardashian “superhuman” dalam podcast terbarunya, meski hubungan mereka sudah berakhir. Pujian itu menyorot etos kerja Kim, ketahanan mentalnya menghadapi sorotan media, dan kemampuan aktingnya yang kian serius.

Terjemahan akurat artikel sumber: Pete Davidson sudah tidak lagi berkencan dengan Kim Kardashian, tetapi ia terdengar seperti pria yang tetap memujinya, menyebut bintang reality show itu “superhuman” dan aktris yang hebat dalam podcast terbarunya. Pete duduk berbincang pada hari Jumat dengan sesama komedian Nikki Glaser di “The Pete Davidson Show”, dan pada satu momen Pete mulai memuji Kim, yang ia kencani selama 9 bulan dari 2021 hingga 2022.

Pete mengatakan kepada Nikki bahwa Kim itu “superhuman” karena ia tahu bagaimana menyingkirkan apa pun yang sedang terjadi di pemberitaan dan tetap menyelesaikan pekerjaan, sesuatu yang Pete pelajari darinya. Pete lalu memberi kredit pada Kim karena mampu untuk tidak “peduli sama sekali”, sambil tetap memuji kemampuan aktingnya dan mengingat sebuah cerita ketika mereka pernah membahas Kim sebagai seorang performer.

Menurut Pete, Kim pernah berkata ia akan menjadi seorang aktris dan Pete menjawab, “F*** yeah”, sambil menambahkan bahwa “dia sangat bagus melakukannya”. Kim membintangi serial FX “American Horror Story: Delicate” dan punya peran utama di Hulu “All’s Fair”, serta akan bermain bersama Nikki dalam film yang segera rilis, “The Fifth Wheel”. Dalam podcast itu, Nikki menaikkan pujian untuk Kim lebih tinggi lagi, menyebutnya “luar biasa”, “sangat pintar”, dan seseorang yang bisa melakukan apa pun, terutama jika orang bilang ia tidak bisa.

Kata kunci “superhuman” bukan sekadar sanjungan mantan, melainkan penanda cara selebritas modern bertahan di ekonomi atensi yang tak mengenal jeda. Dalam lanskap ini, kemampuan “mematikan kebisingan” dan tetap produktif sering dipersepsikan sebagai bakat, padahal ia juga strategi bertahan.

Pete menekankan satu pelajaran: mengerjakan pekerjaan meski berita buruk sedang berputar, dan itu menyasar inti citra Kim Kardashian sebagai pekerja yang disiplin. Pujian semacam ini efektif karena datang dari figur komedian yang biasanya sinis, sehingga terdengar lebih “jujur” di telinga publik.

Dimensi kedua adalah legitimasi karier Kim sebagai aktris, yang masih diperdebatkan karena latar reality show dan bisnis. Referensi kredit aktingnya di “American Horror Story: Delicate”, “All’s Fair”, dan film “The Fifth Wheel” memberi konteks bahwa ia tidak hanya “mencoba-coba”, melainkan menumpuk portofolio.

Namun, narasi “dia bisa melakukan apa saja” juga bekerja sebagai mesin PR yang halus, apalagi saat diucapkan di ruang podcast yang terasa intim. Podcast menciptakan ilusi kedekatan, sehingga pujian personal berubah menjadi pembenaran publik atas transisi karier.

Di sisi lain, kalimat Pete tentang Kim yang bisa tidak “memberi peduli” mengandung ambiguitas moral yang menarik. Ketidakpedulian bisa dibaca sebagai ketangguhan, tetapi juga bisa dibaca sebagai kebal kritik, dan dua tafsir ini sama-sama hidup di budaya selebritas.

Pujian Pete Davidson kepada Kim Kardashian menunjukkan bagaimana mantan pasangan dapat menjadi “kurator” reputasi satu sama lain. Ketika seorang mantan memilih memuji, publik cenderung menganggap itu bukti karakter, bukan sekadar basa-basi.

Tetapi ada risiko: label “superhuman” mengukuhkan standar tidak realistis, seolah manusia harus selalu kuat, selalu produktif, dan selalu tampil baik meski diserang opini publik. Di industri hiburan, standar ini sering menutupi biaya psikologis yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Nikki Glaser yang ikut mengangkat pujian menjadi “amazing” dan “so smart” memperlihatkan efek koor sosial, ketika satu narasi positif diperkuat oleh tokoh lain di ruang yang sama. Ini membuat cerita terasa final, padahal penilaian atas kemampuan akting tetap semestinya diuji lewat karya, bukan testimoni.

Yang patut dicatat, pujian terhadap performa kerja Kim juga mengingatkan bahwa selebritas kini dinilai seperti CEO: output, ketahanan, dan konsistensi. Ketika selebritas dinilai seperti mesin, publik pun kerap lupa bahwa mereka tetap manusia yang rentan.

Pete Davidson mungkin sudah tidak berpacaran dengan Kim Kardashian, tetapi ucapannya menegaskan satu hal: citra “superhuman” adalah mata uang paling mahal di era sorotan tanpa henti. Pertanyaannya, apakah kita sedang merayakan ketangguhan, atau justru menormalisasi tuntutan agar seseorang selalu kebal dan selalu menang?

Pada akhirnya, pujian paling sehat bukan yang mengangkat manusia menjadi “di atas manusia”, melainkan yang mengakui kerja keras tanpa menghapus batas-batas kemanusiaan. Jika publik ingin lebih adil, kita perlu menilai karya dengan jernih, dan memberi ruang bagi siapa pun untuk lelah tanpa harus kehilangan martabat. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)