Terapi Fag AI untuk Infeksi Bakteri Resisten: Harapan Baru?

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Terapi fag AI untuk infeksi bakteri resisten kini memasuki babak baru, setelah ilmuwan mengumumkan virus yang dirancang kecerdasan buatan telah diberikan kepada pasien manusia. Jika berhasil, pendekatan ini dapat menjadi jawaban atas krisis resistansi antibiotik yang makin mengancam.

Untuk pertama kalinya, para peneliti menyatakan mereka telah menggunakan virus yang dirancang oleh kecerdasan buatan untuk mengobati pasien manusia. Virus itu disebut fag, yakni virus yang menyerang bakteri, dan targetnya adalah infeksi bakteri yang mematikan.

Perusahaan rintisan Radical Numerics memublikasikan laporan teknis di situsnya, namun menolak memberi rincian pasien maupun dokter yang menjalankan uji coba karena alasan kerahasiaan. Laporan itu belum ditelaah sejawat dan belum terbit di jurnal ilmiah, meski perusahaan menyebut uji coba telah diizinkan Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.

CEO Radical Numerics, Eric Nguyen, menegaskan pihaknya “sangat serius” melindungi kerahasiaan pasien dan menjaga kepercayaan mitra klinis. Ia juga menyatakan temuan ilmiah akan dipublikasikan melalui riset yang ditelaah sejawat, dengan pengungkapan klinis bergantung pada persetujuan yang tepat.

Para ahli di luar tim menyambutnya dengan rasa ingin tahu, namun menahan penilaian. “Jika itu berhasil, itu luar biasa,” kata Michael Baym, mikrobiolog Harvard, tetapi ia menegaskan dorongan pertamanya adalah skeptis sampai terapi selesai dan kebaruan virus dapat diuji.

Terapi fag bukan hal baru, karena sejarahnya sudah lebih dari satu abad. Namun kebangkitannya terjadi ketika resistansi antibiotik meningkat di seluruh dunia, dan klinik khusus fag bermunculan di Amerika Serikat serta negara lain.

Masalahnya, fag tidak seperti antibiotik spektrum luas yang tinggal diminum. Setiap fag hanya efektif pada sejumlah kecil strain bakteri, sehingga dokter harus menyaring dan menguji satu per satu untuk melihat apakah fag cocok dengan infeksi pasien.

“Berburu fag itu sangat memakan waktu,” kata Marisa Azad, klinisi penyakit infeksi di Ottawa Hospital, Kanada, yang terlibat kolaborasi dengan Radical Numerics. Hambatan waktu dan ketersediaan inilah yang membuat ide “mendesain fag” terasa menggoda.

Pada 2025, peneliti Arc Institute di Palo Alto membuat model AI bernama Evo 2 yang dilatih dari jutaan sekuens DNA, termasuk gen fag. Mereka meminta Evo 2 menyusun genom baru yang mirip dengan kelompok spesies fag tertentu.

AI itu menghasilkan 700.000 genom virus, lalu tim mensintesis DNA dari 285 genom dan memasukkannya ke bakteri. Hasilnya, 16 genom menghasilkan virus yang layak hidup, sebuah angka kecil yang sekaligus menunjukkan potensi dan keterbatasan desain berbasis komputasi.

Tiga anggota tim Evo, termasuk Nguyen, kemudian mendirikan Radical Numerics. Pada Juni, perusahaan memperkenalkan model baru bernama Omnii yang dibangun dengan prinsip serupa, tetapi dapat dilatih bukan hanya pada DNA melainkan juga struktur protein dan molekul pengatur gen.

Di antara agenda Omnii adalah desain vaksin kanker dan deteksi risiko virus pemicu pandemi, tetapi sorotan publik kini tertuju pada uji terapi fag AI pertama. Tim memodifikasi fag T7, virus yang secara alami hanya menginfeksi E. coli dan bentuknya digambarkan seperti pendarat bulan Apollo mini.

T7 menginfeksi bakteri dengan “mendarat” pada permukaan sel, menancapkan kaki-kakinya, lalu menyuntikkan DNA ke dalam bakteri. Omnii menghasilkan gen virus baru yang mengubah bentuk kaki T7, dan sebagian desainnya disebut sangat berbeda dari versi alami.

Menurut Nguyen dan kolega, meski kaki baru itu menyimpang dari alam, fag tetap mampu menginfeksi bakteri. Setelah yakin strateginya berjalan, mereka bekerja sama dengan dokter yang menangani pasien dengan infeksi E. coli membandel.

Bakteri pasien itu dilaporkan kebal bukan hanya terhadap antibiotik, tetapi juga terhadap semua fag yang tersedia. Tim melatih Omnii menggunakan informasi tentang strain resisten tersebut, lalu memintanya mendesain T7 dengan kaki yang dapat “mencengkeram” bakteri itu.

Setelah AI menghasilkan genom baru, peneliti membuat DNA yang sesuai dan memasukkannya ke bakteri untuk memproduksi fag. Fag yang terbentuk diklaim mampu menginfeksi dan membunuh mikroba lain, lalu diuji untuk memastikan keamanan sebelum diajukan ke dokter.

Perusahaan menyebut FDA mengesahkan uji coba, namun detail protokol dan parameter klinis belum dibuka ke publik. Di titik ini, transparansi ilmiah menjadi isu, karena laporan belum peer-reviewed dan identitas pusat klinis tidak disebutkan.

Brandon Berryhill, mikrobiolog evolusioner dari Uppsala University, mengingatkan tidak ada jaminan fag rancangan AI akan bekerja di tubuh manusia. “Kita tidak bisa mengukur sesuatu di lab dan mengatakan seberapa bagus itu mengendalikan infeksi,” ujarnya.

Berryhill juga menekankan, sekalipun terapi berhasil, membuat fag dengan AI tidak otomatis menjelaskan mengapa terapi fag sukses atau gagal. “Masih banyak yang tidak kita ketahui tentang aturan mainnya,” katanya, menyoroti jurang antara desain, mekanisme biologis, dan hasil klinis.

Waktu juga menjadi faktor, karena terapi fag dapat berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu. Dokter biasanya memantau pasien berbulan-bulan untuk memastikan infeksi tidak kambuh, sehingga klaim “berhasil” tidak bisa ditentukan dalam hitungan hari.

Terapi fag AI menawarkan janji personalisasi yang selama ini sulit dicapai: virus dibuat khusus untuk strain bakteri tertentu. Di tengah resistansi antibiotik, gagasan ini terasa seperti jalan pintas menuju “obat presisi” untuk infeksi yang buntu.

Namun, cara pengumuman ini juga menuntut kehati-hatian publik, karena sains yang belum ditelaah sejawat mudah berubah menjadi narasi pemasaran. Ketika identitas pasien, dokter, dan detail uji tidak tersedia, kepercayaan harus ditopang oleh data yang bisa diuji, bukan hanya otoritas “sudah diizinkan FDA”.

Secara ilmiah, desain AI yang mengubah “kaki” fag T7 adalah langkah menarik, karena menyasar titik kontak yang menentukan apakah fag dapat menempel pada bakteri. Tetapi justru di situ risikonya, sebab perubahan kecil pada interaksi permukaan dapat memicu konsekuensi tak terduga pada stabilitas, respons imun, atau dinamika evolusi bakteri.

Di sisi lain, skeptisisme para ahli seperti Baym dan Berryhill bukan penolakan, melainkan pagar pembatas agar euforia tidak mendahului bukti. Dalam sejarah biomedis, banyak “terobosan” awal yang redup ketika diuji ketat, dan hanya sebagian kecil yang bertahan menjadi terapi standar.

Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan sekadar apakah AI bisa “mendesain” genom, melainkan apakah sistem kesehatan mampu mengaudit, mereplikasi, dan mengawasi hasilnya. Jika tidak, kita berisiko memindahkan problem lama—ketidakpastian terapi—ke dalam kemasan baru bernama kecerdasan buatan.

Terapi fag AI untuk infeksi bakteri resisten mungkin menjadi titik balik, tetapi saat ini ia masih berupa janji yang sedang diuji waktu. Keberhasilan sejati akan ditentukan oleh hasil klinis yang terukur, publikasi peer-reviewed, dan transparansi yang memungkinkan komunitas ilmiah memverifikasi klaim.

Jika berhasil, kita menyaksikan model baru pengobatan: virus yang dirancang sesuai musuh mikroba pada tiap pasien. Jika gagal, pelajarannya tetap berharga, karena ia memetakan batas AI ketika berhadapan dengan biologi yang rumit dan selalu berubah.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan sederhana namun menentukan: apakah kita siap menukar “berburu fag” yang lambat dengan “mendesain fag” yang cepat, tanpa kehilangan kehati-hatian ilmiah yang menjaga keselamatan pasien? (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)