Wellness & Selfcare Summit Lagos 2026 Dorong Investasi Self-care
ORBITINDONESIA.COM – Wellness & Selfcare Summit Lagos 2026 menempatkan self-care sebagai fondasi sistem kesehatan yang tangguh, bukan sekadar tren gaya hidup. D’Bio Wellness & Selfcare Hub mengundang pembuat kebijakan hingga inovator untuk membahas “The Selfcare Ecosystem: Connecting the Pillars of Health” pada 8–9 September 2026 di Ikeja.
Di banyak kota besar, termasuk Lagos, beban kesehatan tidak lagi hanya soal penyakit menular, tetapi juga stres kronis, gangguan mental, dan penyakit tidak menular. Ketika layanan kuratif kewalahan, gagasan preventive healthcare dan health promotion menjadi kata kunci yang terdengar logis namun sering kurang didanai.
Organisasi ini menegaskan pesan yang tajam: “Selfcare is not a luxury; it is a necessity,” kata Dr. Monica Eimunjeze. Pernyataan itu sekaligus kritik halus pada budaya kesehatan yang masih menunggu sakit dulu baru bergerak.
Forum ini juga menandai perluasan makna kesehatan menjadi lintas dimensi, dari fisik hingga finansial dan spiritual. Pendekatan semacam ini penting, tetapi berisiko menjadi slogan jika tidak diterjemahkan ke indikator dan kebijakan yang terukur.
Secara global, penyakit tidak menular menyumbang sekitar 74% kematian dunia menurut WHO, dan banyak faktor risikonya terkait perilaku harian. Itu membuat self-care, literasi kesehatan, dan pencegahan menjadi investasi yang secara teori paling murah, tetapi sering kalah pamor dibanding pembangunan fasilitas kuratif.
Summit ini menjanjikan panel, sesi interaktif, pameran, dan forum berbagi pengalaman untuk “solusi praktis” bagi individu dan institusi. Namun ukuran keberhasilannya seharusnya tidak berhenti pada jumlah peserta dan publikasi, melainkan perubahan perilaku dan kebijakan yang bisa diaudit.
Menariknya, panitia menempatkan delapan pilar wellbeing—fisik, mental, emosional, sosial, lingkungan, pekerjaan, finansial, dan spiritual—sebagai satu ekosistem. Ini sejalan dengan pendekatan social determinants of health yang menekankan bahwa kesehatan dibentuk oleh kondisi hidup, kerja, dan relasi sosial.
Di sisi lain, narasi “tanggung jawab individu” bisa menjadi jebakan jika negara dan korporasi menggunakannya untuk mengurangi kewajiban menyediakan layanan dasar. Self-care yang sehat adalah kolaborasi, bukan pengalihan beban dari sistem ke warga.
Kampanye kreatif “Expression Phase” memperluas strategi dengan mengundang musisi, penyair, dan spoken-word untuk membahas grief, adiksi, dan luka emosional. Ide ini relevan karena stigma kesehatan mental sering runtuh lebih cepat lewat bahasa seni ketimbang poster layanan publik.
Kerja sama dengan Playmode Music, Trace TV, Swypatune, dan Paparazi Visibility Concepts memberi daya jangkau, tetapi juga menuntut etika komunikasi. Konten pengalaman personal perlu dipandu agar tidak berubah menjadi komodifikasi trauma demi engagement.
Ajakan “investasi lebih besar pada self-care” seharusnya dibaca sebagai tuntutan reformasi, bukan ajakan membeli produk wellness. Jika pembahasan berhenti pada rutinitas individu, maka yang diuntungkan adalah pasar, sementara akar masalah—jam kerja, polusi, akses layanan, dan biaya kesehatan—tetap tak tersentuh.
Peran pembuat kebijakan menjadi krusial karena self-care butuh ekosistem yang memungkinkan pilihan sehat. Ruang publik yang aman, regulasi iklan yang bertanggung jawab, dan dukungan kesehatan mental di sekolah serta tempat kerja adalah bentuk self-care yang tidak bisa dibeli di etalase.
Penunjukan tokoh seperti HRM Igwe Alexander Onyido sebagai ketua dan Olayinka Subair sebagai pemberi keynote memberi legitimasi sosial dan profesional. Tetapi legitimasi harus dibayar dengan transparansi: rekomendasi kebijakan, rencana tindak lanjut, dan tolok ukur yang jelas.
Jika summit ini ingin berdampak, ia perlu menghasilkan “paket aksi” yang sederhana dan bisa diadopsi lintas sektor. Misalnya, protokol dukungan kesehatan mental di kantor, modul literasi kesehatan untuk komunitas, dan mekanisme rujukan yang ramah biaya.
Wellness & Selfcare Summit Lagos 2026 mengingatkan bahwa kesehatan bukan proyek musiman, melainkan kebiasaan harian yang ditopang sistem yang adil. Pesan paling pentingnya bukan “rawat dirimu,” tetapi “bangun lingkungan yang membuat perawatan diri mungkin dilakukan.”
Pertanyaannya, setelah panggung, jejaring, dan kampanye kreatif selesai, siapa yang memastikan aksi tetap berjalan dan tidak menguap sebagai euforia acara. Mungkin ukuran keberhasilan paling jujur adalah ketika self-care tidak lagi terdengar sebagai kemewahan, melainkan sebagai hak yang dipraktikkan bersama. (Orbit dari berbagai sumber, 1 Oktober 2026)