Komik Strip Hipertensi UNNES: Edukasi Tekanan Darah dengan Cerita

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Komik strip hipertensi karya mahasiswa Kedokteran UNNES di Magelang mencoba memecah kebuntuan edukasi tekanan darah tinggi lewat cerita yang dekat dengan keseharian. Di tengah banyaknya orang yang merasa “baik-baik saja”, komik ini menegaskan bahwa hipertensi sering datang tanpa gejala, tetapi risikonya bisa mematikan.

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena kerap tidak disadari sampai komplikasi muncul. Cerita Ana yang pusing, sakit kepala, pandangan kabur, dan mudah lelah dipakai untuk mengantar pembaca mengenali tanda yang sering diabaikan.

Pendekatan ini mengakui satu kenyataan sederhana, informasi medis sering terasa jauh dan rumit. Komik strip mencoba memendekkan jarak itu dengan dialog ringan, alur singkat, dan visual yang mengikat perhatian.

Secara global, WHO memperkirakan sekitar 1,28 miliar orang usia 30–79 tahun hidup dengan hipertensi, dan hampir setengahnya tidak mengetahui kondisinya. Angka ini menjelaskan mengapa pesan “cek tekanan darah rutin” lebih penting daripada sekadar menghafal definisi hipertensi.

Di Indonesia, Riskesdas 2018 mencatat prevalensi hipertensi pada penduduk usia ≥18 tahun sekitar 34,1 persen. Problemnya bukan hanya angka, tetapi juga kepatuhan minum obat, kebiasaan makan tinggi garam, dan rendahnya aktivitas fisik.

Komik UNNES menempatkan pencegahan sebagai inti, bukan pelengkap. Pesannya tegas, minum obat sesuai anjuran dokter, kurangi garam, perbanyak sayur dan buah, olahraga teratur, serta kelola stres.

Komik ini juga memasukkan pengingat pembatasan GGL, yaitu gula, garam, dan lemak. Dalam praktik sehari-hari, pesan GGL sering kalah oleh budaya “makan enak” dan kebiasaan jajan, sehingga perlu diulang lewat format yang tidak menggurui.

Namun media yang menarik tidak otomatis mengubah perilaku. Perubahan butuh ekosistem, seperti akses pemeriksaan tekanan darah, ketersediaan layanan primer, dan dukungan keluarga untuk disiplin kontrol.

Di titik ini, komik berfungsi sebagai pemantik, bukan obat mujarab. Ia bekerja baik bila dipasang pada strategi promosi kesehatan yang lebih luas, seperti posyandu, puskesmas, sekolah, dan komunitas kerja.

Inovasi komik strip hipertensi patut diapresiasi karena memindahkan literasi kesehatan dari ruang kuliah ke ruang tamu. Tetapi kita perlu jujur, masalah terbesar hipertensi bukan semata ketidaktahuan, melainkan normalisasi gaya hidup yang merusak.

Tokoh Ana menjadi cermin, banyak orang baru panik ketika kepala berat atau pandangan buram. Padahal hipertensi sering “diam”, sehingga narasi yang menekankan deteksi dini harus lebih keras daripada narasi yang menunggu gejala.

Keterkaitan dengan SDGs tujuan ke-3 terasa relevan, karena penyakit tidak menular menuntut pencegahan jangka panjang. Komik yang mudah diakses membantu, tetapi dampaknya perlu diukur, misalnya lewat peningkatan kunjungan cek tekanan darah atau kepatuhan kontrol.

Kritiknya sederhana, edukasi harus menghindari jebakan romantisasi media kreatif. Jika komik hanya berhenti sebagai konten, ia akan kalah cepat oleh algoritma hiburan, iklan makanan asin, dan rutinitas yang menguras waktu.

Komik strip hipertensi UNNES menunjukkan bahwa pesan kesehatan bisa disampaikan tanpa bahasa yang menakutkan. Ia mengajak orang memeriksa tekanan darah, menata makan, bergerak, dan mengelola stres sebelum komplikasi datang.

Pertanyaannya sekarang, setelah membaca kisah Ana, apakah kita mau berhenti menunggu gejala dan mulai mengukur tekanan darah secara rutin. Sebab pada hipertensi, yang terlambat sering bukan pengetahuan, melainkan keputusan kecil yang terus ditunda.

(Orbit dari berbagai sumber, 5 Oktober 2026)