Protes Anti-G7 di Jenewa Memanas, Trump Jadi Sasaran Utama

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Protes anti-G7 di Jenewa berubah tegang ketika polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata dan menyemprotkan meriam air ke arah massa, sehari sebelum KTT G7 digelar di Evian, Prancis. Polisi Jenewa memperkirakan sekitar 20.000 orang turun ke jalan, termasuk sekitar 600 militan “Black Bloc”, sementara Presiden AS Donald Trump menjadi pusat kemarahan publik.

Artikel AP dari Jenewa menggambarkan sebuah demonstrasi yang sejak awal dirancang sebagai aksi politik lintas isu, dari lingkungan hingga hak perempuan, dari solidaritas Palestina hingga kritik terhadap kapitalisme. Aksi itu sebelumnya dinegosiasikan berminggu-minggu dengan otoritas lokal, sehingga pada permukaannya tampak sebagai pawai legal dan terkelola.

Namun, ketegangan muncul di sepanjang rute pawai ketika terjadi serangkaian insiden, termasuk sebuah mobil Tesla dibakar dekat halte bus pusat. Di titik lain, penghalang kayu yang dipasang untuk melindungi Banque du Leman dirusak dan jendelanya dipecahkan.

Polisi menyebutkan adanya kelompok pemuda berpakaian serba hitam dengan hoodie, masker, dan kacamata pelindung yang menyatu di antara peserta lain, termasuk di belakang spanduk anti-Trump. Sebagian demonstran melempar batu, menembakkan suar, dan mencungkil potongan aspal untuk dilemparkan ke petugas yang berperisai.

Di saat yang sama, mayoritas massa di barisan depan justru membawa pesan yang berbeda: hak perempuan dan ketimpangan kerja. Banyak yang mengenakan kaus ungu, mengecam “patriarki”, minimnya perempuan di posisi eksekutif, serta kesenjangan upah dan jabatan.

Konteksnya melampaui Jenewa, karena KTT G7 tiga hari dimulai Senin di Evian-les-Bains, kota resor di tepi Danau Jenewa. Para pemimpin G7 disebut akan membahas perang di Ukraina, Iran dan Timur Tengah, serta isu ekonomi seperti ketimpangan global dan akses mineral kritis.

Swiss dan Prancis menyiagakan ribuan polisi, menutup jalan, melarang perkumpulan tanpa izin, dan menjanjikan dukungan finansial bagi bisnis yang terdampak. Dari 35 perlintasan jalan di perbatasan, hanya tujuh yang tetap dibuka selama KTT, sementara banyak toko di pusat kota menutup etalase dengan papan kayu.

Memori kerusakan pada KTT serupa di Evian tahun 2003 ikut membentuk kecemasan warga. Seorang warga, Robin Hedz, mengeluhkan “kekacauan” dan heran melihat “tembok kayu di mana-mana”, meski mengakui trauma kerusakan properti dua dekade lalu.

Jika diterjemahkan secara akurat, laporan AP menunjukkan pola klasik dalam protes anti-G7: mayoritas damai, minoritas konfrontatif, lalu respons aparat yang keras memantapkan narasi “kota siaga”. Dalam pola ini, ruang publik cepat bergeser dari forum tuntutan menjadi arena pengendalian kerumunan.

Angka yang disebut polisi—20.000 peserta dan 600 “Black Bloc”—penting karena menegaskan skala, sekaligus memberi bingkai ancaman. Ketika angka “militan” disorot, tuntutan sosial seperti kesetaraan upah dan krisis iklim berisiko tenggelam di bawah headline kekerasan.

Insiden Tesla yang dibakar juga memiliki makna simbolik ganda yang tajam. Ia bisa dibaca sebagai serangan pada kapitalisme hijau yang dianggap kosmetik, tetapi juga bisa memukul balik legitimasi gerakan karena publik lebih mudah mengingat api daripada argumen.

Di sisi lain, kehadiran buku panduan demonstran—berisi peta perimeter keamanan, tips perlengkapan, dan nasihat jika ditahan—menunjukkan profesionalisasi aktivisme. Ini menandai bahwa demonstrasi bukan lagi spontan, melainkan operasi sosial yang mengantisipasi negara sebagai “lawan” sekaligus “pengatur”.

Pengamanan KTT yang masif—lebih dari 13.000 polisi dan gendarmerie di pihak Prancis, serta lebih dari 800 petugas kontrol perbatasan—menggambarkan bagaimana diplomasi elite bertumpu pada infrastruktur keamanan. Ketika hanya tujuh perlintasan perbatasan dibuka, warga biasa ikut membayar biaya mobilitas demi pertemuan para pemimpin.

AP juga menekankan bahwa para pemimpin G7 akan membahas ketimpangan global dan akses mineral kritis. Ini ironi yang sulit dihindari, karena agenda “ketimpangan” dibicarakan di ruang yang dipagari ketat, sementara warga yang memprotes ketimpangan justru didorong bubar dengan gas air mata.

Bagian lain yang menonjol ialah fokus kemarahan pada Trump, dari tarif, perang di Iran, hingga iklim, bahkan menyentuh kaitan masa lalu dengan Jeffrey Epstein. Perlu dicatat, AP menyajikan ini sebagai spektrum frustrasi, bukan satu isu tunggal, sehingga kemarahan publik tampak seperti akumulasi ketidakpercayaan.

Dalam laporan itu juga disebut situasi geopolitik: Amerika Serikat dan Iran “tampak dekat” pada kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka Selat Hormuz. Jika benar demikian, protes di Jenewa memperlihatkan jarak antara logika negosiasi negara dan persepsi publik yang melihat G7 sebagai sumber instabilitas.

Kutipan Francoise Nyffeler dari koalisi NoG7 menegaskan rasa takut yang menjadi bahan bakar protes. “Kami sangat takut pada kebijakan dan politik Tuan Trump dan juga pemimpin G7 lainnya, karena mereka berperang, membuat perang di mana-mana,” katanya, lalu menambahkan bahwa “planet ini dalam bahaya”.

Protes anti-G7 di Jenewa memperlihatkan satu kenyataan pahit: gerakan sosial sering kalah oleh dramatisasi kekerasan kecil yang terjadi di pinggir. Ketika bank dipecahkan dan mobil dibakar, pesan tentang upah setara dan krisis iklim langsung terdorong ke belakang.

Namun, menyederhanakan semuanya sebagai “ulah perusuh” juga tidak jujur, karena laporan AP menekankan mayoritas aksi yang damai dan beragam. Yang lebih mengganggu adalah bagaimana negara dan media kerap lebih siap mengukur batu dan suar, ketimbang mengukur rasa putus asa publik.

Trump menjadi sasaran utama bukan semata karena persona, tetapi karena ia berfungsi sebagai simbol dari politik yang dianggap menormalkan konflik, tarif, dan penyangkalan iklim. Dalam kerangka itu, teriakan anti-Trump adalah protes terhadap arah dunia yang terasa semakin tidak terkendali.

Di level kota, papan kayu di etalase dan penutupan perbatasan mengubah Jenewa menjadi panggung ketakutan yang terorganisir. Keamanan memang penting, tetapi ketika ruang sipil dipersempit, demokrasi jalanan berubah dari hak menjadi risiko.

Yang paling problematik adalah paradoks G7: forum negara kaya yang membahas ketimpangan global, tetapi pertemuannya memerlukan benteng keamanan yang memutus rutinitas warga. Protes di Jenewa mengingatkan bahwa legitimasi tidak lahir dari deklarasi, melainkan dari kesediaan mendengar tanpa menyemprotkan meriam air.

Terjemahan dan pembacaan atas laporan AP menunjukkan bahwa protes anti-G7 di Jenewa bukan sekadar kerusuhan, melainkan benturan antara dua cara mengelola masa depan. Di satu sisi ada diplomasi elite yang dibungkus perimeter keamanan, di sisi lain ada warga yang merasa hanya bisa didengar lewat jalanan.

Jika “planet dalam bahaya” menjadi seruan, maka pertanyaan yang tersisa adalah siapa yang berhak menentukan cara menyelamatkannya. Dan ketika gas air mata menjadi jawaban paling cepat, kita patut bertanya apakah G7 sedang melindungi dunia, atau justru melindungi dirinya sendiri.

(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juni 2026)