Tawaran Akuisisi EQT atas Perpetual Ditolak, Drama Private Equity Memanas

moneymanagement.com.au

moneymanagement.com.au

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Tawaran akuisisi EQT atas Perpetual kembali muncul, kali ini lewat skema scheme of arrangement senilai A$21,64 per saham. Dewan Perpetual menolaknya karena dinilai tidak memberi nilai wajar bagi pemegang saham, meski pasar sempat bereaksi dan saham reli 16 persen sebelum trading halt.

Perpetual bukan nama kecil di pasar pengelolaan aset Australia, dengan aset kelolaan sekitar A$227 miliar dan dipimpin CEO Bernard Reilly. Namun kinerja sahamnya tertinggal, turun 2,2 persen setahun hingga 1 Juli saat ASX 200 justru naik 2 persen.

EQT, raksasa private equity Swedia dengan A$446 miliar aset kelolaan, memahami celah itu sebagai peluang. Mereka pernah mencoba mengakuisisi Perpetual pada 2022 bersama Regal Partners di harga A$30 per saham, tetapi transaksi itu kandas.

Dalam pengumuman ASX pada 1 Juli, Perpetual menyebut proposal dari Windflower Pte Ltd bersifat unsolicited, non-binding, conditional, dan indicative. Harga A$21,64 per saham menilai Perpetual sekitar A$2,5 miliar, dengan catatan akan dikurangi nilai dividen atau distribusi yang dibayar.

Penolakan dewan Perpetual bertumpu pada satu frasa kunci: “tidak memadai merepresentasikan fair value” dalam transaksi perubahan kendali. Ini bukan sekadar soal angka, tetapi soal premi kontrol yang lazim diminta pemegang saham ketika perusahaan berpindah tangan.

Di sisi lain, data operasional Perpetual memberi amunisi bagi pembeli untuk menawar lebih rendah. Dalam pembaruan kuartal tiga bulan hingga 31 Maret, AUM turun menjadi A$219 miliar, atau turun 3,6 persen dari A$227,5 miliar pada akhir 2025.

Perusahaan menyebut penyebabnya kombinasi mata uang dan arus keluar dana, termasuk A$3,6 miliar dampak pasar valuta yang tidak menguntungkan. Dalam unit asset management, outflows A$2,9 miliar dipicu oleh boutique JO Hambro dan Barrow Hanley pada strategi ekuitas global.

Reilly menegaskan bisnis “resilient” di tengah volatilitas global, namun mengakui AUM tertekan oleh dolar Australia yang lebih kuat, pasar yang melemah, dan net outflows. Ia juga menekankan boutique Australia masih mencatat inflows pada ekuitas Australia, kas, dan pendapatan tetap.

Di sini terlihat dua Perpetual yang berjalan bersamaan: aset “piala” yang masih menarik, dan bagian bisnis yang sedang mengalami tekanan struktural. Ketika arus keluar terjadi pada strategi global equity, investor publik cenderung menghukum valuasi lebih cepat dibanding pembeli private equity.

Jejak Perpetual yang berulang dalam proses divestasi juga memperlihatkan perusahaan berada dalam fase transisi yang panjang. Divisi wealth management dan corporate trust sempat akan dijual ke KKR, tetapi batal karena isu biaya pajak, lalu akhirnya Bain Capital menang dengan tawaran A$550 juta.

Langkah-langkah itu membuat Perpetual terlihat seperti perusahaan yang sedang “dibongkar rapih” untuk menemukan bentuk baru. Dalam situasi seperti ini, penawar sering menunggu momen lelahnya pasar, ketika valuasi turun tetapi aset inti tetap bernilai.

Tawaran akuisisi EQT atas Perpetual tampak oportunistis, tetapi tidak otomatis tidak rasional. Cameron Curko, CIO Pitcher Partners, menyebut “valuation-wise, it wasn’t an unreasonable attempt by EQT, albeit opportunistic,” sambil mengingatkan EQT bisa saja “sweeten the deal” namun tetap keras soal batas nilai.

Penolakan dewan dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan posisi tawar, bukan menutup pintu permanen. Curko bahkan menilai penolakan ini bisa “a matter of time” karena penurunan harga saham berpotensi mengundang minat lanjutan.

Masalahnya, dewan harus membuktikan bahwa nilai wajar yang mereka klaim memang bisa diwujudkan melalui kinerja, bukan hanya retorika tata kelola. Jika outflows berlanjut dan AUM terus tergerus, pasar akan menyimpulkan bahwa premi kontrol A$21,64 justru sudah cukup murah bagi pembeli, bukan bagi pemegang saham.

Dari perspektif EQT, kegagalan 2022 di harga A$30 memberi pelajaran bahwa kesabaran bisa mengubah harga. Ketika pembeli melihat tekanan mata uang, arus keluar, dan restrukturisasi yang panjang, mereka cenderung menawar saat sentimen publik melemah.

Di titik ini, pertarungan sesungguhnya adalah narasi: apakah Perpetual adalah bisnis “structurally challenged” dengan beberapa trophy assets, atau platform investasi yang hanya sedang melewati siklus buruk. Jawaban atas narasi itu akan menentukan apakah penolakan hari ini adalah keputusan berani, atau sekadar penundaan dari kesepakatan yang tak terhindarkan.

Tawaran akuisisi EQT atas Perpetual menguji batas antara “nilai wajar” di atas kertas dan “nilai pasar” yang dibentuk oleh arus keluar dana serta volatilitas global. Dewan boleh menolak, tetapi pasar akan terus menagih bukti bahwa Perpetual mampu memulihkan AUM dan menahan outflows.

Jika pemulihan terjadi, penolakan ini akan dikenang sebagai langkah melindungi pemegang saham dari harga murah. Namun jika tekanan berlanjut, pertanyaan yang tersisa sederhana: berapa lama perusahaan bisa menolak sebelum valuasi sendiri memaksa pintu itu terbuka lagi.

(Orbit dari berbagai sumber, 24 Agustus 2026)