Wisuda Unair: Anang Hermansyah, Ashanty, Azriel Lulus Bersama
ORBITINDONESIA.COM – Wisuda Unair mendadak terasa seperti panggung konser ketika Anang Hermansyah, Ashanty, dan Azriel dinyatakan lulus bersama. Mereka bahkan diminta menghibur para wisudawan, membuat batas antara seremoni akademik dan hiburan populer terlihat makin tipis.
Momen itu cepat menyebar di media sosial, karena publik menyukai narasi keluarga selebritas yang “kompak” sekaligus “berprestasi”. Namun di balik euforia, ada pertanyaan tentang apa yang sebenarnya kita rayakan saat wisuda: capaian akademik, atau kemasan panggungnya.
Unair selama ini dikenal sebagai salah satu kampus besar di Indonesia yang menekankan reputasi akademik dan daya saing lulusan. Karena itu, kemunculan figur publik dalam prosesi wisuda memantik perhatian, sebab simbol-simbol akademik biasanya dijaga ketat dari distraksi.
Di sisi lain, kampus juga hidup dalam ekosistem komunikasi baru yang menuntut visibilitas dan engagement. Wisuda bukan lagi hanya penanda kelulusan, melainkan juga peristiwa media yang diproduksi untuk dilihat, dibagikan, dan diperbincangkan.
Ketika Anang Hermansyah, Ashanty, dan Azriel lulus bersama di Unair, publik membaca kisah itu sebagai gabungan “pendidikan” dan “keluarga” yang mudah dijual. Permintaan agar mereka menghibur wisudawan memperkuat logika bahwa acara akademik kini ikut mengejar format hiburan agar terasa meriah dan viral.
Fenomena ini sejalan dengan pola lebih luas di perguruan tinggi yang makin sadar akan reputasi digital. Banyak kampus memanfaatkan momen kelulusan untuk membangun citra, karena perhatian publik di ruang daring sering berbanding lurus dengan nilai promosi dan minat pendaftar.
Namun ada konsekuensi simbolik yang perlu dicermati. Bila panggung wisuda memberi porsi besar pada selebritas, maka pesan utama tentang kerja ilmiah, riset, dan kompetensi bisa terdorong menjadi latar.
Di Indonesia, perbincangan tentang komersialisasi pendidikan tinggi bukan hal baru, meski wujudnya kini lebih halus. Kita melihat pergeseran dari “kampus sebagai ruang intelektual” menuju “kampus sebagai brand” yang bersaing merebut perhatian publik.
Di titik ini, kelulusan figur publik sebenarnya bisa dibaca positif sebagai contoh bahwa pendidikan tinggi tetap relevan bagi siapa pun. Tetapi ketika kelulusan itu langsung dikunci dalam format hiburan, nilai teladannya berisiko berubah menjadi sekadar konten.
Data global tentang ekonomi perhatian menunjukkan bahwa konten yang memadukan selebritas dan momen emosional cenderung lebih cepat menyebar dibanding informasi akademik yang kering. Logika algoritma mendorong institusi untuk memilih yang “menarik” ketimbang yang “mendidik,” karena metriknya mudah terlihat.
Wisuda Unair yang menghadirkan Anang Hermansyah, Ashanty, dan Azriel sebagai lulusan sekaligus penghibur adalah cermin kompromi zaman. Kampus ingin tetap akademik, tetapi juga ingin relevan di ruang publik yang serba cepat dan kompetitif.
Masalahnya bukan pada selebritas yang kuliah dan lulus, karena itu hak setiap warga dan bisa menjadi inspirasi. Masalahnya muncul ketika institusi ikut menggeser pusat gravitasi wisuda dari prestasi akademik kolektif menuju sorotan pada nama-nama yang sudah terkenal.
Jika panggung wisuda menjadi panggung hiburan, maka ada risiko ketimpangan simbolik bagi ribuan lulusan lain yang bekerja dalam senyap. Mereka mungkin pulang dengan ijazah yang sama, tetapi tanpa narasi yang dianggap cukup “menjual” untuk diangkat.
Kampus semestinya mampu menempatkan figur publik sebagai bagian dari komunitas akademik, bukan sebagai magnet utama acara. Hiburan boleh hadir sebagai bumbu, tetapi tidak boleh mengaburkan pesan bahwa gelar adalah hasil disiplin, evaluasi, dan tanggung jawab ilmiah.
Kelulusan Anang Hermansyah, Ashanty, dan Azriel di Wisuda Unair bisa menjadi kabar baik tentang akses dan motivasi belajar yang lintas profesi. Tetapi permintaan agar mereka menghibur wisudawan mengingatkan kita bahwa pendidikan tinggi kini bernegosiasi dengan budaya tontonan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan arah: apakah wisuda kita ingin menjadi perayaan ilmu, atau perayaan atensi. Jika kampus tak hati-hati, yang tersisa dari toga dan ijazah hanyalah panggung, sementara makna belajar perlahan memudar.
(Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)