Komunitas Ojol dan Polantas Menyapa: Warisan Irjen Agus Kakorlantas

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Komunitas ojol melepas Irjen Agus Suryonugroho dari kursi Kakorlantas Polri dengan kalimat yang terdengar seperti perpisahan keluarga. Program Polantas Menyapa disebut menjadi jembatan yang membuat pengemudi ojek online merasa dilihat, didengar, dan dihormati.

Mutasi di tubuh Polri membuat Irjen Agus mengakhiri masa tugasnya sebagai Kakorlantas dan menyerahkan estafet kepada Irjen Wibowo. Di Lapangan NTMC Polri, Jakarta, seremoni sertijab menandai pergantian yang prosedural, tetapi dampaknya emosional di akar rumput.

Erna dari URC Bergerak dan Ojol Nusantara DKI Jakarta mengaku terkejut dan merasa kehilangan sosok idola. Ia menyebut Irjen Agus bukan sekadar pejabat, melainkan “bapak” yang memberi pengayoman dan ruang kedekatan.

Dianton dari Ojol Nusantara Provinsi Jambi menyampaikan nada serupa dengan menyebut Irjen Agus sebagai panutan dan sahabat. Ia menekankan bahwa Polantas Menyapa menghadirkan “ruang persaudaraan” antara polantas dan insan ojol di berbagai daerah.

Di balik ucapan haru itu, ada pesan penting tentang legitimasi institusi yang sering dibangun lewat pengalaman sehari-hari. Kepercayaan publik tidak selalu lahir dari konferensi pers, tetapi dari interaksi yang terasa manusiawi di jalan.

Polantas Menyapa tampak bekerja sebagai diplomasi mikro antara aparat dan pekerja sektor gig. Ketika pengemudi ojol merasa diperlakukan sebagai mitra keselamatan, mereka lebih mungkin mematuhi aturan dan menyebarkan norma tertib di komunitasnya.

Namun program semacam ini juga menyimpan risiko jika bergantung pada figur tunggal. Saat seorang pejabat pindah, relasi yang sudah hangat bisa mendingin bila tidak dilembagakan menjadi prosedur dan target yang terukur.

Indonesia masih menghadapi tantangan besar keselamatan jalan yang menuntut konsistensi lintas kepemimpinan. Data Korlantas Polri yang kerap dirujuk dalam berbagai publikasi menyebut kecelakaan lalu lintas tetap menjadi salah satu penyumbang korban jiwa terbesar, terutama melibatkan pengguna sepeda motor.

Di titik ini, kedekatan polantas dan komunitas ojol bisa menjadi aset strategis. Ojol adalah kelompok dengan intensitas mobilitas tinggi, sehingga perubahan perilaku kecil pada mereka dapat berdampak luas pada ekosistem lalu lintas.

Ucapan Erna tentang “program yang menyatukan kami dari berbagai daerah” menunjukkan adanya jaringan sosial yang terbentuk. Jaringan ini bisa menjadi kanal edukasi keselamatan, tetapi juga bisa menjadi kanal kekecewaan bila aspirasi berhenti didengar.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup berupa foto pertemuan atau testimoni haru. Yang dibutuhkan adalah indikator yang jelas, seperti penurunan pelanggaran, peningkatan penggunaan atribut keselamatan, dan mekanisme pengaduan yang responsif.

Perpisahan ini mengungkap hal yang jarang dibicarakan: masyarakat pekerja sering menilai negara dari satu wajah yang mereka temui langsung. Ketika wajah itu ramah, negara terasa hadir, tetapi ketika wajah itu hilang, negara kembali terasa jauh.

Puji-pujian kepada Irjen Agus patut dibaca sebagai apresiasi sekaligus kritik terselubung terhadap pola layanan yang tidak merata. Jika satu program bisa membuat ojol merasa “keluarga,” itu berarti sebelumnya ada jarak yang lama dianggap wajar.

Di sisi lain, romantisasi figur juga berbahaya bila menutup evaluasi kebijakan. Kedekatan harus tetap disertai akuntabilitas, karena keselamatan lalu lintas adalah urusan sistem, bukan urusan karisma.

Irjen Wibowo kini memikul dua beban sekaligus, yaitu melanjutkan program Polantas Menyapa dan membuktikan bahwa kedekatan itu bukan sekadar gaya kepemimpinan. Tantangannya adalah menjaga empati tanpa kehilangan ketegasan penegakan hukum yang adil.

Komunitas ojol juga punya peran untuk tidak berhenti pada nostalgia. Mereka bisa mengubah rasa haru menjadi kontrak sosial, yaitu komitmen tertib berlalu lintas yang dipantau bersama dan dikoreksi secara terbuka.

Ucapan Erna dan Dianton memperlihatkan bahwa kebijakan publik paling kuat ketika menyentuh martabat manusia. Polantas Menyapa memberi contoh bahwa keselamatan bisa dimulai dari sapaan, bukan hanya dari tilang.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah kedekatan polantas dan ojol akan menjadi budaya institusi, atau hanya jejak seorang pejabat yang kebetulan humanis. Jika negara ingin dipercaya di jalan, ia harus hadir bukan sekali-sekali, melainkan setiap hari, dengan cara yang konsisten dan terukur. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juli 2026)