Gene Shalit Meninggal: Kritikus Film Today dan Raja Pun TV
ORBITINDONESIA.COM – Gene Shalit, kritikus film legendaris “Today” yang dikenal lewat rambut mengembang, kumis handlebar, dan pun yang bikin mengeluh, meninggal dunia pada usia 100 tahun. Keluarganya menyatakan ia “meninggal dengan tenang” setelah menjalani “100 tahun kehidupan yang menakjubkan.”
Berita kematian Gene Shalit menandai berakhirnya satu era ketika kritikus film TV jaringan besar masih menjadi rujukan publik. Shalit bekerja di “Today” sejak 1970, menjadi editor seni pada 1973, lalu mengukuhkan segmen “Critic’s Corner” hingga pensiun pada 2010.
Ia datang dari dunia majalah, menulis untuk McCall’s, lalu menjadi kritikus film senior di Look pada 1968 dan berkontribusi untuk Ladies’ Home Journal. Popularitas di media cetak itulah yang mengantar NBC merekrutnya, meski eksekutif sempat meragukan penampilannya untuk televisi.
Produsernya selama lebih dari 20 tahun, Guy Ludwig, menulis bahwa yang paling melekat bukan hanya tampilan nyentrik Shalit, melainkan kecerdasan dan kelucuannya. Ia “mencerahkan dan menghibur” tanpa terasa menggurui, sebuah gaya yang membuat kritik film terasa akrab bagi penonton pagi.
Shalit hadir pada momen ketika kekuasaan kritik film mulai bergeser dari koran dan majalah ke layar kaca. The Plain Dealer pada 2010 menyebutnya “Daniel Boone dengan dasi kupu-kupu dan kacamata Groucho,” karena ia ikut membuka jalur baru bagi kritik film televisi.
Kebetulan yang terasa seperti pola, program “Sneak Previews” milik Roger Ebert dan Gene Siskel menjadi nasional di PBS pada akhir 1970-an. Rival “Today,” yakni “Good Morning America,” juga merekrut Joel Siegel sebagai kritikus film pada 1981, menegaskan bahwa kritik film TV telah menjadi arena perebutan pengaruh.
Secara selera, Shalit sering berada di “tengah,” tidak ekstrem, dan itu membuatnya mudah diterima khalayak luas. Ia menolak membocorkan plot, dan kepada Associated Press pada 1993 ia menegaskan, “Saya tidak membocorkan ceritanya,” sebuah prinsip yang kini terasa relevan di era trailer panjang dan spoiler media sosial.
Namun kekuatan Shalit bukan hanya penilaian, melainkan bahasa yang menjual pengalaman menonton. Ia memuji “Enemy at the Gates” sebagai “dramatisasi yang hidup” dari titik balik sejarah, dan menyebut “Frozen” “sangat keren,” permainan kata yang sederhana tetapi melekat.
Di sisi lain, gaya retoriknya juga bisa memantik kontroversi. Ia menyebut “Brokeback Mountain” “terlalu dipuji,” lalu dikecam GLAAD setelah menyebut karakter Jack, yang diperankan Jake Gyllenhaal, sebagai “predator seksual,” dan Shalit kemudian meminta maaf.
Ruang kritik di TV pagi menuntut hiburan, dan Shalit memenuhinya lewat pun yang kadang sengaja “garing.” Ia menulis “The Men Who Stare at Goats” sebagai judul yang “terdengar mengembik,” dan tentang “The Lovely Bones” ia melontarkan “tak ada tulang-tulangnya,” sebuah gaya yang membuat kritik terasa seperti sketsa komedi.
Ia juga piawai membangun momen, termasuk tertawa tak terkendali saat mewawancarai Carol Channing. Dalam review “King Kong” versi remake, ia bahkan menciptakan kata-kata baru seperti “fabularious” dan “marvelosity,” menunjukkan bahwa ia memosisikan kritik sebagai pertunjukan bahasa.
Di balik panggung, ia beradu celetukan dengan banyak pembawa acara dari Barbara Walters hingga Tom Brokaw dan Katie Couric. Tetapi tidak semua kolega menyukai ritmenya, karena Bryant Gumbel pernah menulis dalam memo internal bahwa ulasan Shalit “sering terlambat” dan wawancaranya “tidak terlalu bagus.”
Perubahan produksi juga membentuk kariernya, terutama setelah ia tertabrak mobil di St. Pete Beach, Florida, pada 1994 dan kakinya patah. Setelah itu, “Today” merekam ulasan filmnya dari studio rumah, sebuah format jarak jauh yang terasa seperti pendahulu kerja siaran modern.
Kematian Gene Shalit memunculkan pertanyaan tentang apa yang hilang ketika kritik film dipindahkan dari institusi media ke algoritma. Shalit memang bukan kritikus “paling tajam” dalam tradisi esai panjang, tetapi ia mengajari TV bahwa opini budaya bisa populer tanpa kehilangan martabat.
Ia membuktikan bahwa persona bukan sekadar gimmick, melainkan kendaraan untuk membuat penonton mau mendengar. Rambut mengembang dan kumis besar bisa tampak seperti kostum, tetapi yang membuatnya bertahan 40 tahun lebih adalah disiplin menulis, insting panggung, dan kemampuan merangkum film dalam kalimat yang hidup.
Kontroversinya pada “Brokeback Mountain” juga mengingatkan bahwa kelincahan kata tidak boleh mengalahkan ketelitian moral. Dalam ekosistem kritik hari ini, satu frasa bisa mengunci stigma, sehingga permintaan maaf Shalit menjadi catatan bahwa kritikus wajib mengukur dampak sosial dari metafora.
Warisan terbesarnya mungkin bukan daftar film yang ia sukai, melainkan perubahan kebiasaan publik. Ia membantu menjadikan kritik film bagian dari percakapan harian, bukan ritual elitis, dan itu adalah demokratisasi budaya yang patut dicatat.
Gene Shalit pergi pada usia 100 tahun, meninggalkan jejak sebagai kritikus film “Today” yang membuat jutaan orang menilai film sambil menyesap kopi pagi. Ia datang dari majalah, menaklukkan televisi, dan membuktikan bahwa kata-kata yang tepat bisa membuat film terasa dekat.
Di era ketika ulasan sering berubah menjadi skor singkat dan pertengkaran daring, warisan Shalit mengajak kita kembali pada satu hal: kritik adalah seni menjelaskan pengalaman, bukan sekadar menghakimi. Pertanyaannya, apakah kita masih punya ruang publik yang sabar untuk kritik yang cerdas, lucu, dan bertanggung jawab sekaligus.
(Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)