Jaringan Jamur Bawah Tanah Raksasa, Kunci Serapan Karbon Global

Live Science

Live Science

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Jaringan jamur bawah tanah (arbuscular mycorrhizal fungal network) ternyata begitu luas hingga, jika direntangkan lurus, panjangnya diperkirakan setara sekitar 10% lebar Galaksi Bima Sakti. Peta global terbaru menunjukkan padang rumput liar menyimpan kepadatan tertinggi, sekaligus menjadi carbon sink yang sering diremehkan.

Jamur mikoriza arbuskular membangun benang-benang halus bernama hifa yang menempel pada akar sebagian besar tanaman darat. Mereka menukar nitrogen dan fosfor untuk tanaman, lalu “dibayar” dengan karbon dari hasil fotosintesis.

Meski perannya vital bagi kesehatan tanah dan iklim, persebaran jaringan hifa ini lama menjadi teka-teki. Justin Stewart mengibaratkannya seperti mengetahui 100 juta mobil bergerak setiap hari, tetapi tidak tahu jaringan jalan yang memfasilitasi pergerakan itu.

Studi yang terbit di Science pada 11 Juni memecahkan kebuntuan itu lewat peta global pertama kepadatan jaringan hifa. Temuan ini langsung menggeser cara kita memandang distribusi kehidupan dan cadangan karbon di Bumi.

Peneliti mengompilasi data dari 16.669 inti tanah (soil cores) yang berasal dari 322 studi sebelumnya. Sampel mencakup seluruh benua dan sembilan bioma, dari studi lapangan hingga eksperimen pot.

Dengan bantuan kecerdasan buatan, tim memprediksi kepadatan jamur mikoriza arbuskular untuk setiap 1 kilometer persegi lapisan tanah atas dunia. Model memasukkan variabel iklim, kimia tanah, vegetasi, dan kepadatan hifa.

Rata-rata kepadatan hifa di tanah atas daratan mencapai 4,4 meter per sentimeter kubik. Jika seluruh hifa disusun lurus, total panjangnya diperkirakan 110 kuadriliun kilometer, hampir satu miliar kali jarak Bumi–Matahari.

Padang rumput liar mencatat kepadatan tertinggi, sekitar 6,6 meter per sentimeter kubik. Sebaliknya, pepohonan budidaya terendah, sekitar 3,8 meter per sentimeter kubik, yang menandakan tekanan pengelolaan lahan dapat mengubah “hutan tak terlihat” ini.

Temuan paling mencolok muncul di padang rumput dataran tinggi atau padang rumput tergenang, termasuk Everglades di Florida. Lapisan 15 sentimeter teratas di habitat ini menampung sekitar 40% biomassa jamur global, sehingga padang rumput yang tidak terganggu menjadi penyerap karbon yang stabil.

Peta juga menyiratkan kerusakan di lahan pertanian, karena tanah atas di lahan tanaman pangan rata-rata memiliki kepadatan sekitar 50% lebih rendah. Peneliti belum menunjuk praktik spesifik, tetapi fungisida serta pupuk fosfor dan nitrogen diduga berperan dalam menipiskan jaringan hifa.

Dari sisi iklim, ini bukan detail kecil, melainkan arus besar yang tersembunyi. Salah satu estimasi menyebut jamur ini menyerap sekitar 3,9 miliar ton setara CO2 per tahun, kira-kira 11% emisi bahan bakar fosil global pada 2021.

Namun peta ini belum final, karena beberapa wilayah seperti hutan hujan tropis dan gurun masih membutuhkan lebih banyak sampel. Stewart menyatakan dalam lima tahun peta akan diperbarui untuk mengurangi ketidakpastian dan memperjelas sebaran jamur.

Andrea Genre dari University of Turin menilai peta global ini “sangat mendesak” untuk strategi konservasi, restorasi, pengelolaan pertanian, dan mitigasi perubahan iklim. Edouard Evangelisti dari Côte d’Azur University menyebut riset ini “membuat yang tak terlihat menjadi terlihat” dan membuka pintu riset fungsi jaringan raksasa ini.

Catatan kritisnya, kepadatan saja belum cukup untuk menilai kontribusi pada siklus karbon. Evangelisti menekankan kita juga perlu tahu seberapa cepat hifa tumbuh, mati, dan berubah menjadi karbon tanah yang stabil.

Ada bias kebijakan lingkungan yang terlalu “bermata”, seolah yang penting hanya yang tampak di permukaan. Padang rumput sering dianggap lahan cadangan untuk dibajak, padahal di bawahnya ada infrastruktur biologis yang menopang produktivitas tanaman dan penyimpanan karbon.

Pernyataan Stewart bahwa padang rumput liar “lebih mudah dirobek daripada pohon” adalah kritik tajam terhadap ekonomi lahan yang serba cepat. Kemudahan mengubah padang rumput menjadi ladang justru berbanding lurus dengan risiko merusak jaringan yang membangun kesuburan tanah jangka panjang.

Di titik ini, peta global bukan sekadar peta, melainkan alat audit ekologis. Jika praktik pertanian tertentu memang membuat kepadatan hifa turun hingga separuh, maka efisiensi produksi hari ini bisa dibayar mahal oleh rapuhnya tanah dan meningkatnya emisi besok.

Yang juga mengganggu adalah cara kita memisahkan isu biodiversitas dari isu iklim. Jaringan mikoriza menunjukkan keduanya tak terpisahkan, karena menjaga kehidupan mikro berarti menjaga stabilitas karbon.

Meski begitu, kehati-hatian tetap perlu, karena peta berbasis model dan data yang belum merata. Risiko salah tafsir muncul jika peta dipakai sebagai “stempel” tunggal tanpa verifikasi lokal, terutama di wilayah tropis yang kompleks.

Peta jaringan jamur bawah tanah mengingatkan bahwa krisis iklim tidak hanya terjadi di atmosfer, tetapi juga di tanah yang kita injak. Padang rumput liar muncul sebagai pusat biomassa jamur dan cadangan karbon, namun justru paling cepat hilang karena dianggap mudah dikonversi.

Jika hifa adalah “jalan raya” nutrisi dan karbon, maka merusaknya sama dengan memutus logistik kehidupan. Pertanyaannya, apakah kebijakan lahan kita siap mengakui bahwa perlindungan iklim bisa dimulai dari melindungi sesuatu yang nyaris tak terlihat?

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)