Negosiasi AS-Iran Tersendat, Hormuz dan Nuklir Jadi Taruhan
ORBITINDONESIA.COM – Negosiasi AS-Iran soal program nuklir Iran dan pemulihan lalu lintas minyak di Selat Hormuz mendadak tersendat di Swiss. Iran menolak hadir sebelum serangan Israel terhadap milisi Hizbullah di Lebanon berhenti, membuat rencana pertemuan berisiko meleset dari jendela 60 hari yang baru disepakati.
Di Washington, Presiden Donald Trump merespons dengan nada mengancam, menulis bahwa Iran “FINISHED” dan “tidak mendapat uang, tidak satu sen pun.” Ketegangan ini memperlihatkan betapa rapuhnya jalur diplomasi ketika konflik Lebanon kembali memanas.
Dorongan Amerika Serikat untuk segera memulai pembicaraan tingkat tinggi dengan Iran semula bertumpu pada kesepakatan yang membuka waktu dua bulan untuk negosiasi. Kesepakatan itu juga menargetkan pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz ke level “pra-perang,” sebuah jalur vital bagi ekonomi global.
Namun pada Jumat, pejabat Iran tidak jadi terbang ke Swiss seperti rencana awal. Tiga pejabat regional dan satu sumber yang mengetahui mediasi menyebut Iran mensyaratkan penghentian serangan Israel di Lebanon sebelum pertemuan dimulai.
Di sisi lain, situasi di lapangan berubah cepat karena Israel dan Hizbullah disebut sepakat memperbarui gencatan senjata pada hari yang sama. Tetapi belum jelas apakah itu cukup untuk mengembalikan negosiasi AS-Iran ke relnya.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang ditunjuk Trump memimpin negosiasi, sempat bersiap terbang semalam ke Obbürgen, sebuah resor pegunungan dekat Lucerne. Staf Vance dan sekelompok jurnalis sudah berkumpul di Joint Base Andrews, sementara tim pendahulu dan media lain telah berada di Swiss.
Lalu perjalanan itu dibatalkan mendadak. Gedung Putih hanya menyebut “logistik negosiasi tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi,” tanpa menyinggung eskalasi di Lebanon.
Meski demikian, para pejabat menyatakan Iran menyampaikan langsung ke Gedung Putih bahwa mereka mengerem pembicaraan karena aksi Israel di Lebanon. Pada saat yang sama, mediator dari Qatar tetap tiba di lokasi perundingan, menandakan jalur komunikasi belum putus.
Perdana Menteri sekaligus Menlu Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, bertemu Menlu Swiss Ignazio Cassis. Qatar tampak berperan sebagai “penjaga pintu” agar perundingan tidak runtuh sebelum dimulai.
Di Lebanon selatan, pertempuran meningkat dengan sedikitnya 18 orang tewas akibat serangan udara Israel, sementara empat tentara Israel juga dilaporkan tewas. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan militernya akan bertahan di “zona keamanan” selama dibutuhkan.
Iran menuntut Israel mundur dari wilayah luas Lebanon selatan yang diduduki. Tetapi teks kesepakatan sementara tidak secara eksplisit mewajibkan penarikan, dan hanya menegaskan “keutuhan wilayah” Lebanon.
Menariknya, beberapa jam sebelum penundaan, Vance mengakui rencana pembicaraan “bisa berubah.” Tak lama kemudian, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei justru mengesahkan negosiasi langsung dengan AS, menekankan bahwa tatap muka tidak berarti menerima “pendapat musuh.”
Pernyataan itu memberi ruang manuver politik di Teheran. Kelompok garis keras yang lama menolak dialog langsung, terutama setelah Trump keluar dari kesepakatan nuklir 2015 pada 2018, kini dipaksa menerima realitas baru.
Kesepakatan yang ditandatangani pekan ini sebenarnya bukan akhir, melainkan gerbang menuju perundingan teknis yang rumit. Dokumen itu menyebut stok uranium yang diperkaya tinggi Iran, yang diyakini terkubur di bawah puing akibat serangan militer AS tahun lalu, minimal harus diencerkan di bawah pengawasan internasional.
Dokumen itu juga menegaskan Iran “tidak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir,” komitmen yang pernah diucapkan Teheran sebelumnya. Bagian paling menentukan justru “komitmen lain” yang masih harus dirundingkan, sehingga ruang sengketa tetap lebar.
Di sisi energi, Selat Hormuz menjadi kartu tawar utama Iran. Rosemary Kelanic dari Defense Priorities menilai Iran masuk meja perundingan dengan percaya diri setelah efektif “menutup” selat itu dan memicu resonansi ekonomi global, sehingga AS kini berupaya “menegosiasikan jalan kembali” ke status quo pra-perang.
Neil Quilliam dari Chatham House menyebut kepemimpinan Iran sedang “buoyant,” merasa punya keunggulan. Dukungan pemimpin tertinggi untuk negosiasi memberi sinyal domestik bahwa Iran “setara” dengan AS, dan itu penting untuk meredam potensi gejolak internal.
Di Washington, pernyataan Trump di media sosial memperkeras garis tawar, bukan melunakkan. “Kita tidak bertemu karena putus asa, Iran yang putus asa,” tulisnya, sambil menegaskan akan “memainkan” 60 hari dan menahan uang untuk Iran.
Kontradiksi muncul karena kesepakatan 14 poin menyebut dana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran sebesar 300 miliar dolar AS. Trump dan Vance mengklaim tidak ada uang pembayar pajak AS yang mengalir, serta dana tidak akan ada tanpa konsesi dan reformasi Teheran.
Namun angka sebesar itu sendiri adalah magnet kontroversi politik. Senator Roger Wicker, ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, menyebut aspek-aspek kesepakatan “sepenuhnya tidak sejalan” dengan tujuan Trump, memperlihatkan perpecahan internal Partai Republik.
Di titik ini, negosiasi nuklir Iran dan stabilitas Selat Hormuz tidak berdiri sendiri. Konflik Lebanon menjadi “saklar” yang bisa menyalakan atau mematikan diplomasi, karena Iran mengaitkan legitimasi pembicaraan dengan perilaku Israel di medan tempur.
Penundaan di Swiss menegaskan satu pelajaran klasik diplomasi: Anda tidak bisa menawar isu nuklir sambil mengabaikan perang proksi di halaman tetangga. Iran memanfaatkan Lebanon sebagai tuas, bukan semata solidaritas, melainkan instrumen untuk menekan ritme dan format perundingan.
AS, sebaliknya, tampak ingin memisahkan dua arena, tetapi realitas kawasan menolak dipisahkan. Ketika Israel menegaskan “zona keamanan” tanpa batas waktu, Teheran membaca itu sebagai ancaman strategis yang harus ditangani sebelum membuka pintu konsesi nuklir.
Trump memilih retorika “tidak satu sen pun,” yang efektif untuk konsumsi domestik tetapi berisiko mengunci ruang kompromi. Jika tujuan utamanya memulihkan arus minyak di Selat Hormuz dan menahan eskalasi nuklir, maka bahasa publik yang terlalu menghukum bisa membuat Iran makin menjadikan penundaan sebagai senjata.
JD Vance juga berada di posisi sulit karena negosiasi ini menjadi ujian identitas politiknya. Ia dikenal skeptis terhadap perang luar negeri, tetapi kini harus membela strategi akhir konflik Trump yang ditertawakan Demokrat dan dicurigai sebagian Republikan hawkish.
Di Teheran, dukungan Ayatollah Mojtaba Khamenei tampak dirancang untuk dua audiens sekaligus. Ke luar, itu sinyal kesiapan bicara; ke dalam, itu pesan bahwa rezim tetap memegang kendali dan tidak memberi ruang bagi “protes atau revolusi,” seperti tafsir Quilliam.
Masalahnya, kedua pihak sama-sama bermain untuk audiens domestik, sementara waktu 60 hari berjalan tanpa ampun. Jika diplomasi kalah oleh panggung politik, yang menang bukan stabilitas, melainkan ketidakpastian pasar energi dan risiko proliferasi.
Negosiasi AS-Iran soal nuklir Iran dan Selat Hormuz kini berada di persimpangan yang ditentukan bukan hanya oleh teks kesepakatan, tetapi oleh ledakan di Lebanon selatan. Ketika mediator Qatar sudah hadir dan pemimpin tertinggi Iran memberi lampu hijau, peluang masih ada, tetapi sangat rapuh.
Pertanyaannya adalah siapa yang berani menurunkan tensi lebih dulu tanpa terlihat lemah di mata publiknya sendiri. Jika tidak ada keberanian itu, jendela 60 hari bisa berubah menjadi hitungan mundur menuju krisis berikutnya, bukan jalan keluar. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Juni 2026)