Misinformasi Sunscreen di TikTok: Bahaya “Toxic” yang Menular

New York Post

New York Post

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Misinformasi sunscreen di TikTok membuat tabir baru: bukan lagi soal sinar UV, melainkan ketakutan bahwa tabir surya itu “toxic” dan berbahaya. Studi PLOS Digital Health menegaskan, video yang meragukan manfaat sunscreen memang minoritas, tetapi justru paling memicu like, komentar, dan share. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Panas musim dan budaya kulit “glowing” bertemu dengan algoritma yang menyukai kontroversi. Di TikTok, sunscreen bukan sekadar produk kesehatan, melainkan bahan perang narasi antara sains dan kecurigaan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Artikel sumber menyebut studi itu mengambil sampel 971 video paling banyak ditonton pada akhir September 2024. Fokusnya jelas: mengukur keberadaan, tingkat keterlibatan, dan karakter misinformasi terkait sunscreen di TikTok. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Hasilnya paradoks: konten yang meragukan sunscreen hanya sekitar 13% dari total konten terkait. Namun video yang menabur keraguan justru “menggenjot” engagement secara tidak proporsional dibanding video yang mendukung penggunaan tabir surya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Di sisi lain, masalah literasi kesehatan masih rapuh. American Academy of Dermatology (AAD) mencatat hampir setengah warga Amerika mendapat nilai “C” atau lebih rendah dalam kuis keamanan matahari, meski lebih dari separuh menilai kebiasaan mereka sendiri sudah baik. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Generasi Z bahkan lebih mengkhawatirkan dalam data itu. Kelompok usia 18–29 tahun, sebanyak 33% mendapat nilai “D” atau “F”. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Dari 971 video teratas, sekitar 86% mempromosikan sunscreen untuk mencegah kerusakan kulit, jerawat, penuaan, dan kanker kulit. Hanya 6% berisi kritik terhadap sunscreen, sementara 7% sisanya netral atau sekadar ulasan produk tanpa ajakan menghindari. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Namun angka kecil tidak berarti dampak kecil. Studi itu menilai video misinformasi menghasilkan keterlibatan audiens yang jauh lebih tinggi, menunjukkan bahwa algoritma dan psikologi penonton cenderung memberi panggung pada konten yang memicu rasa takut. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Narasi yang beredar pun seragam: sunscreen disebut “pengganggu endokrin” yang merusak keseimbangan hormon. Ada juga klaim bahwa sunscreen mencemari ASI, mengandung mikroplastik, serta bahan “tidak aman” yang meracuni tubuh dan merusak ekosistem. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Peneliti menulis tegas, “Saat ini tidak ada indikasi ilmiah bahwa bahan apa pun yang banyak digunakan dalam sunscreen ‘kimia’ (misalnya oxybenzone) berbahaya bagi kesehatan.” Kalimat ini penting, karena membedakan antara kekhawatiran populer dan bukti ilmiah yang dapat diuji. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Studi juga menambahkan konteks yang sering hilang di media sosial. Konsumen boleh memilih sunscreen mineral atau “alami” yang memblokir sinar UV, atau sunscreen “kimia” yang menyerap dan menonaktifkan sinar, dan keduanya dinilai aman. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Pernyataan paling keras justru soal pilihan yang sering disamarkan influencer. “Dalam keadaan apa pun, tidak menggunakan sunscreen bukan pilihan yang lebih aman daripada menggunakan produk ‘kimia’ saat terpapar matahari,” tulis peneliti. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Di lapangan, dokter kulit melihat sumber masalahnya bukan hanya konten yang salah, tetapi ekosistem yang menguatkannya. Dr. Marisa Garshick dari MDCS Dermatology, New York, sekaligus fellow AAD, mengatakan kepada NBC News, “Saya akan mengatakan 95% misinformasi bisa kita atribusikan ke media sosial.” (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Ia menambahkan misinformasi bisa bekerja secara langsung maupun tidak langsung. Bisa berupa video yang menuduh sunscreen berbahaya, atau contoh influencer yang memamerkan berjemur tiga jam hingga muncul tan line, seolah itu gaya hidup yang aman. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Di sinilah kunci analisisnya: TikTok tidak hanya menyebarkan klaim, tetapi juga menyebarkan “contoh”. Ketika contoh itu viral, standar sosial bergeser, dan keputusan kesehatan berubah menjadi keputusan identitas. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Kata “toxic” adalah senjata retorika paling efektif di era kesehatan digital. Ia tidak perlu bukti kuat, karena bekerja lewat rasa jijik dan takut, dua emosi yang lebih cepat memicu klik dibanding penjelasan ilmiah. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Misinformasi sunscreen juga memanfaatkan kebingungan istilah “kimia” versus “alami”. Padahal, perdebatan itu sering disederhanakan secara menyesatkan, seolah “kimia” pasti buruk dan “alami” pasti aman. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Masalah berikutnya adalah ekonomi perhatian. Konten yang menyarankan “pakai sunscreen” terdengar datar, sedangkan konten “jangan pakai, itu racun” terasa seperti rahasia besar yang dibocorkan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Di ruang seperti ini, sains kalah cepat, bukan kalah benar. Penelitian, konsensus, dan konteks memerlukan waktu, sementara video 20 detik cukup untuk menanam keraguan yang bertahan lama. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Refleksi yang lebih tajam adalah soal tanggung jawab bersama. Platform, kreator, dan penonton sama-sama membentuk pasar bagi misinformasi, dan pasar itu akan terus hidup selama ketakutan menghasilkan engagement. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Studi PLOS Digital Health memberi pesan yang sederhana tetapi mendesak: misinformasi sunscreen di TikTok mungkin tidak dominan, namun efeknya bisa dominan. Ketika keraguan viral, keputusan sehari-hari seperti memakai tabir surya berubah menjadi risiko kesehatan jangka panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “sunscreen mana yang terbaik,” melainkan “siapa yang kita percaya saat algoritma memilihkan suara paling keras.” Jika rasa takut lebih laris daripada fakta, kita perlu lebih disiplin memeriksa klaim sebelum kulit dan kesehatan membayar harganya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juni 2026)