Yani Nur Syamsu: Ketika Polri Setara FBI - Antara Bom Oklahoma dan Bom Bali

Para pelaku bom Bali.

Para pelaku bom Bali.

Opini

Oleh Yani Nur Syamsu

ORBITINDONESIA.COM - Satu sampai tiga hari setelah Bom Bali meledak pada Sabtu tengah malam, 12 Oktober 2002, ratusan anggota kepolisian internasional datang ke Pulau Dewata. Hampir semua aparat penegak hukum itu mampir ke kantor Laboratorium Forensik Polri Cabang Denpasar.

Semua koran dan info yang mereka bawa dari dunia internasional meragukan kemampuan Polri untuk mengungkap kasus yang memakan korban nyawa 202 orang itu -- jauh di atas korban Bom Oklahoma, 19 April 1995, yang menewaskan 168 jiwa.

Tapi tak lama kemudian, keraguan mereka sirna setelah Polri berhasil mengungkap dalang di balik bom Bali tersebut.

Betul, kurang dari sebulan, Polri berhasil menangkap Amrozi pada 5 November 2002.

Dua hari kemudian, Commissioner of Police Mick Keelty, Kepala Australian Federal Police, berkunjung ke Labfor Denpasar -- ingin tahu kinerja hebat Polri.

Mick Keelty mengungkapkan penghargaan setinggi-tingginya kepada Polri atas keberhasilan menangkap pelaku pemboman dalam waktu singkat. Keelty juga menyatakan secara ekplisit bahwa profesionalisme Polri setara dengan Federal Bureau of Investigation yang juga berhasil mengungkap kasus Bom Oklahoma dalam waktu sangat cepat.

Di AS, bom mobil meledak pada Rabu, 19 April 1995, tepat jam 09.02 di Gedung Federal Alfred P. Murrah, kota Oklahoma. Korban tewas 168 orang. Ratusan gedung rusak parah -- bahkan rata dengan tanah. Puluhan unit mobil hancur karena bom dahsyat itu.

Di bawah reruntuhan beton dan baja, FBI menemukan poros roda belakang dari mobil jenis truk. Esok harinya pemeriksaan intensif terhadap barang bukti tersebut menghasilkan VIN (Vehicle Identification Number). VIN inilah yang menunjukkan bahwa kendaraan maut itu adalah truk sewaan milik sebuah perusahaan di Kansas City.

Para karyawan rental mobil membantu FBI dengan menerangkan wajah dari sang penyewa yang langsung dilukis oleh ahli gambar FBI. Dengan segala sumber daya yang ada, ditemukanlah sebuah nama, Tim McVeigh. Ia pada tanggal 21 April 1995 -- dua hari setelah ledakan bom -- sedang berada di sel tahanan.

Veteran perang Timur Tengah itu sebelumnya ditangkap oleh polisi di pinggiran kota Oklahoma. McVeigh melakukan pelanggaran lalu lintas berat 90 menit setelah ledakan bom terjadi.

McVeigh diketahui mengendarai mobil tanpa plat nomor resmi. Petugas menemukan senjata api ilegal di mobil Mercury Marcquis warna kuning yang dikendarainya.

FBI juga menangkap Terry Nichols dan Michael Fortier yang telah membantu McVeigh melakukan tindak pidana terorisme tersebut. Ya hanya dalam 2 hari kasus bom Oklahoma terungkap. Luar biasa cepat.

Penyidikan kasus Bom Bali memakan waktu lebih panjang, 23 hari. Dan penuh drama. Penyebab utamanya adalah kuantitas dan kualitas sumber daya, sumber dana dan sumber data yang dimiliki Polri -- jauh di bawah FBI.

Semula, FBI meragukan Polri mampu mengungkap dan menangkap pelaku bom Bali. Tapi kenyataannya, Polri mampu! dan menepis keraguan tadi.

Jujur, harus diakui, kehebatan Polri mengungkap tragedi bom Bali tidak sendirian. Ada bantuan internasional, khususnya Polisi Federal Australia (PFA) yang menurunkan ratusan personilnya ke Bali. Meski bantuan itu bersifat komplementer, tapi tetap perlu dicatat dengan tinta emas kontribusi PFA tersebut.

Pengungkapan kasus yang menyedot perhatian dunia internasional itu dimulai dari penemuan sepotong besi yang diduga sebagai rangka mobil yang telah digunakan oleh pelaku. Sayangnya, re-etching (baca: proses pengukiran ulang pada permukaan suatu material menggunakan bahan kimia asam atau plasma gas) terhadap barang bukti tersebut memunculkan angka-angka yang kurang jelas.

Meski demikian, re-etching ini menuntun pada penemuan kode lain di rangka mobil yang relatif utuh. Berkat kerja sama intensif dengan pihak-pihak terkait berdasarkan data-data fisik tersebut, ditemukanlah bahwa mobil yang di gunakan para pelaku adalah Mitsubishi L-300 dengan plat nomor polisi DK 1324 BS milik Anak Agung Ketut Adi.

Mobil tersebut telah lama dijual, dan pembeli terakhirnya adalah Amrozi. Selanjutnya penyidik juga berhasil menangkap dua pelaku utama lainnya, yakni Imam Samudra dan Mukhlas yang merupakan kakak kandung Amrozi.

Itulah kontribusi scientific crime investigation (SCI) dalam kasus bom Bali. Pelaksanaan SCI secara profesional juga memberikan kontribusi signifikan pada pengungkapan kasus-kasus besar lainnya -- seperti pembunuhan gadis cilik Engelin (Bali, 16 Mei 2015) dan pembunuhan Mirna Shalihin (Jakarta, 6 Januari 2016).

Sayangnya dalam penanganan kasus Vina Cirebon (27 Agustus 2016), kasus kebakaran kantor Kejaksaan Agung RI (Jakarta, 22-23 Agustus 2020) dan kasus Jenderal Ferdy Sambo (Jakarta, 8 Juli 2022), proses penyidikan secara ilmiah atau SCI tidak dilaksanakan secara terstruktur, masif, dan berkelanjutan. Sehingga independensi dan profesionalitas proses penegakan hukum selanjutnya kurang optimum dan banyak dipertanyakan oleh publik.

Pada kegiatan fit and proper test di hadapan Komisi III DPR RI (Kamis, 1 Oktober 2026), Kapolri baru Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab ke depan, Polri berpegang teguh pada tiga Kitab. Yaitu KUHP, KUHAP dan Kitab Forensik.

SCI bagian dari Kitab Forensik itu. Kita berharap Kapolri Suyudi bisa membuat Polri kembali setara dengan FBI.

Yani Nur Syamsu, Kabidlabfor Polda Riau (2019-2022)/ Anggota Tim Penyelidikan Bom Bali/Penulis Buku Forensik: Ilmu dan Praktik Scientific Crime Investigation. ***