Atap Sekolah Peshawar Ambruk, 32 Anak Tewas, Pengawasan Dipertanyakan

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kata kunci yang dicari publik hari ini adalah atap sekolah ambruk di Peshawar, Pakistan, yang menewaskan 32 anak dan seorang guru. Seorang siswi 11 tahun, Samra Bibi, selamat karena keluar kelas sebentar untuk mengambil pensil, tepat sebelum atap runtuh.

Samra Bibi lupa membawa pensil ke sekolah pada Kamis, lalu ia meninggalkan kelas untuk mengambilnya di kantin lantai dasar. Beberapa saat setelah itu, atap sekolahnya, Al-Khair Education System di Peshawar, ambruk dan menewaskan puluhan murid.

Ayah Samra, Muhammad Zameen, mengatakan putrinya selamat tanpa luka, tetapi trauma menempel kuat. “Sepanjang malam dia memeluk ibunya atau saya,” katanya, sambil menyebut Samra sangat kehilangan gurunya yang ikut tewas.

Fazal Wahab, petugas penyelamat, menjelaskan murid-murid berada di kelas pada beberapa lantai ketika bagian atap ambrol. Puing menghantam ruang-ruang kelas di bawahnya, dan puluhan anak lain mengalami luka-luka.

Di rumah Ismail Khan, suasana duka terasa pekat sehari setelah pemakaman putrinya yang berusia 6 tahun. “Kami sarapan bersama, lalu dia berangkat sekolah dan kami berpamitan; pukul 8.30 saya mendapat kabar atap runtuh,” ujarnya.

Operasi penyelamatan berakhir pada Jumat, tetapi jalan sempit di luar sekolah di Dir Colony tetap sesak. Warga menatap bangunan yang rusak dan cemas sisa struktur dapat runtuh lagi kapan saja.

Bagi banyak penduduk, tragedi ini bukan semata kecelakaan, melainkan pola kelalaian yang jarang berujung hukuman. Noor Wali, orang tua murid, bertanya tajam: “Akankah ada yang dimintai pertanggungjawaban?”

Tragedi atap sekolah ambruk di Peshawar menyorot pertumbuhan sekolah swasta murah di Pakistan. Ketika sekolah negeri kewalahan menampung populasi anak yang meningkat, keluarga kelas pekerja sering memilih sekolah swasta karena lebih mudah diakses.

Namun akses murah kerap dibayar dengan pengawasan fasilitas yang tidak konsisten. Setelah ambruknya Al-Khair, pertanyaan regulasi dan inspeksi keselamatan kembali mengemuka, terutama untuk bangunan lama dan padat di kawasan seperti Dir Colony.

Menurut Asif Sharif, seorang perwira polisi di lokasi, Al-Khair baru terdaftar sebagai sekolah pada Maret. Detail ini memperkuat dugaan adanya celah administrasi, karena status legal tidak otomatis berarti bangunan laik dan aman untuk menampung ratusan anak.

Afaq Wazir, deputi komisaris Peshawar, menyebut investigasi pemerintah provinsi akan menitikberatkan pada proses konstruksi dan apakah inspeksi keselamatan telah memadai. Poin ini krusial, karena runtuhnya atap biasanya terkait kualitas material, perubahan struktur, atau beban yang tak sesuai desain.

Polisi setempat menyelidiki kasus ini sebagai “kematian yang disebabkan tanpa sengaja” dan telah menangkap kepala sekolah. Langkah ini penting sebagai sinyal, tetapi publik menunggu apakah proses hukum menyentuh rantai tanggung jawab yang lebih luas, termasuk pemilik bangunan dan pengawas perizinan.

Muhammad Zameen mengatakan kepala sekolah mengabaikan permintaan orang tua agar keselamatan gedung diperbaiki. “Istri saya buta huruf, tapi bahkan dia mengatakan tiga kali bahwa bangunan itu tidak tampak aman,” ujarnya, memperlihatkan bahwa tanda bahaya terbaca bahkan oleh warga biasa.

Pasca-insiden, Departemen Pendidikan Khyber Pakhtunkhwa memerintahkan inspeksi gedung sekolah pemerintah, dengan tenggat laporan distrik pada 26 Oktober. Samar Haroon Bilour, juru bicara pemerintah provinsi, juga meminta publik membantu mengidentifikasi gedung sekolah yang rapuh.

Di tingkat politik, tragedi ini menjadi ujian awal setelah Khyber Pakhtunkhwa ditempatkan di bawah kendali federal pekan lalu. Ketegangan meningkat menyusul konfrontasi pemerintah pusat dengan Pakistan Tehreek-e-Insaf, partai oposisi yang dipimpin mantan perdana menteri Imran Khan yang kini dipenjara.

Dalam pengaturan darurat itu, Gubernur Faisal Karim Kundi memperoleh otoritas lebih besar meski jabatan gubernur biasanya seremonial. Ia berjanji, “Kami akan memastikan ada akuntabilitas,” dan menyatakan laporan investigasi akan diserahkan kepadanya dalam sepekan.

Akuntabilitas tidak boleh berhenti pada penangkapan kepala sekolah, karena ambruknya bangunan adalah kegagalan sistemik. Jika bangunan tidak aman, pertanyaannya bukan hanya siapa yang mengelola sekolah, tetapi siapa yang meloloskan, membiarkan, atau menunda inspeksi.

Di banyak negara berkembang, sekolah swasta murah menjawab kebutuhan mendesak, tetapi sering bergerak lebih cepat daripada kemampuan negara mengawasi. Ketika regulasi tertinggal, keselamatan berubah menjadi “opsi,” padahal bagi anak-anak, keselamatan adalah hak paling dasar.

Peshawar juga memikul ingatan kolektif tentang tragedi sekolah, termasuk serangan Taliban ke Army Public School pada Desember 2014 yang menewaskan lebih dari 140 orang, mayoritas anak. Fazal Wahab mengatakan, “Tragedi ini tidak kalah,” dan kalimat itu menegaskan bahwa kematian anak, apakah oleh peluru atau kelalaian, sama-sama mematahkan masa depan.

Jalan keluar harus lebih keras dari sekadar inspeksi reaktif setelah ada korban. Negara perlu standar bangunan sekolah yang bisa diaudit publik, sanksi yang menjerat pemilik dan pengawas, serta mekanisme pelaporan orang tua yang ditindaklanjuti cepat.

Kisah Samra Bibi yang selamat karena mencari pensil memperlihatkan betapa tipis jarak antara rutinitas dan maut. Pada saat yang sama, kisah Ismail Khan menunjukkan bahwa satu pagi biasa bisa berubah menjadi duka seumur hidup.

Jika tragedi atap sekolah ambruk di Peshawar hanya berakhir sebagai berita sehari, maka kelalaian akan menemukan bentuknya lagi di sekolah lain. Pertanyaannya sederhana dan menghantui: berapa banyak nyawa anak yang harus hilang sebelum keselamatan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar?

(Orbit dari berbagai sumber, 20 Oktober 2026)