Self-Care dan Wellness Day Her Ritual: Yoga, Meditasi, Giving Back

metropolitan.id

metropolitan.id

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Self-care dan wellness kini bergeser dari urusan “me time” menjadi “we time” yang berdampak sosial, dan Her Ritual Wellness Day di Depok mencoba membuktikannya. Lewat tema “Move with Purpose. Breathe with Intention. Give with Love.”, event ini menggabungkan yoga, meditasi, dan giving back ke panti asuhan sebagai satu rangkaian pengalaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri wellness tumbuh cepat dan menjadikan self-care sebagai gaya hidup urban yang identik dengan ketenangan pribadi. Namun, tren itu juga memunculkan kritik karena sering berhenti pada konsumsi produk dan pengalaman yang eksklusif.

Di titik ini, pertanyaannya sederhana tetapi tajam: apakah merawat diri harus selalu berakhir pada diri sendiri. Her Ritual menjawabnya dengan format acara yang menautkan pemulihan personal dan kepedulian sosial dalam satu napas.

Her Ritual Wellness Day digelar di Nara Kupu Village, Sawangan, Depok, pada Minggu (16/8/2026) dan menghadirkan peserta yang disebut Her Friends. Sesi yoga dan meditasi dipandu Coach Regina dari Sudut Yoga, dengan fokus pada pernapasan, grounding, dan aliran energi positif di ruang terbuka.

Pilihan lokasi alam bukan sekadar estetika, karena ruang hijau terbukti berkaitan dengan penurunan stres dan peningkatan suasana hati dalam berbagai studi kesehatan publik. Dalam bahasa sederhana, tubuh lebih mudah tenang ketika lingkungan tidak memaksa otak “siaga” terus-menerus.

Setelah sesi utama, peserta diajak menjalani aktivitas ringan seperti bercengkerama dengan rusa dan memetik sayuran hidroponik. Rangkaian ini memperkuat narasi wellness sebagai pengalaman yang “mendarat”, bukan hanya performatif di media sosial.

Bagian yang mengubah arah cerita terjadi pukul 10.30 WIB, saat sebagian peserta bergerak ke Yayasan Panti Asuhan Ar-Raihan di Sawangan. Panti yang dikelola Ustadz Fachrul Roji, M. Pd itu menaungi sekitar 50 anak, mayoritas masih bersekolah dasar.

Melalui sub-kegiatan Her Ritual Giving Back, bantuan disalurkan dari hasil penjualan tiket yoga. Bentuknya konkret dan beragam, mulai dari makan siang, camilan, minuman, lemari pakaian, buku, donasi tunai, santunan, hingga perlengkapan melukis.

Model ini menarik karena menempatkan “tiket” bukan hanya sebagai akses kelas, tetapi juga sebagai mekanisme redistribusi. Dalam praktik filantropi modern, skema seperti ini sering disebut cause-linked event, yaitu kegiatan komersial yang mengunci porsi manfaat sosial secara langsung.

Acara di panti dibuka dengan sambutan Ustadz Fachrul Roji, lalu dilanjutkan oleh Nadisa selaku Founder Her Ritual. Sambutan juga datang dari Rahma Regina, Founder Sudut Yoga Sawangan, serta Yosep Permana yang mewakili Rayhan Christian Siego, Owner Nara Kupu Village.

Rangkaian sambutan itu menegaskan bahwa acara ini bukan kerja satu pihak, melainkan kolaborasi komunitas, pelaku usaha, dan ruang publik. Di sinilah event wellness berpotensi menjadi infrastruktur sosial kecil yang menyambungkan jaringan bantuan.

Her Ritual patut diapresiasi karena tidak menjual ketenangan sebagai komoditas yang selesai di ujung matras yoga. Mereka menggeser logika self-care dari “memiliki” menjadi “membagikan”, tanpa menghapus kebutuhan peserta untuk pulih.

Namun, ada standar yang perlu dijaga agar konsep ini tidak berubah menjadi charity-washing. Transparansi dana, pelaporan dampak, dan kesinambungan program harus menjadi bagian dari desain, bukan sekadar epilog yang manis.

Di sisi lain, banyak inisiatif sosial gagal karena terlalu berat di idealisme dan minim pengalaman yang membuat orang mau datang. Her Ritual melakukan kebalikannya, yaitu mengundang orang lewat pengalaman yang menyenangkan, lalu mengarahkan energi kolektif ke kebutuhan nyata.

Tetap ada pertanyaan kritis tentang jangkauan dan skala, karena bantuan satu hari belum tentu mengubah struktur kerentanan anak-anak panti. Tetapi, event seperti ini bisa menjadi pemantik perilaku berulang jika dibuat rutin dan terukur.

Her Ritual Wellness Day menunjukkan bahwa self-care dan giving back tidak harus dipisah, karena keduanya sama-sama berangkat dari kebutuhan manusia untuk merasa aman dan bermakna. Ketenangan yang dibangun lewat napas dan gerak bisa menjadi energi untuk hadir bagi orang lain.

Pada akhirnya, publik perlu bertanya: setelah kelas yoga selesai, apa yang kita tinggalkan selain keringat dan foto. Jika wellness benar-benar tentang hidup yang lebih utuh, maka ukuran suksesnya bukan hanya tubuh yang rileks, tetapi juga hati yang lebih peka (Orbit dari berbagai sumber, 19 Agustus 2026)