Suamiku Lukaku dan Womantalk Bus: Bahas Toxic Relationship

Jawa Pos

Jawa Pos

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Film Suamiku Lukaku dibedah dalam Womantalk Bus Roadshow di Solo untuk mendorong awareness tentang toxic relationship dan kesehatan mental. Acha Septriasa hadir bersama sutradara Ssharaad Sharaan dan seorang psikolog, mengajak penonton membaca luka domestik sebagai isu publik, bukan sekadar urusan rumah tangga.

Di banyak keluarga, relasi yang menyakitkan sering disamarkan sebagai “dinamika pasangan” atau “ujian pernikahan”. Padahal kekerasan emosional, manipulasi, dan kontrol berlebihan adalah pola yang bisa merusak identitas serta kesehatan mental korban.

Roadshow semacam Womantalk Bus memindahkan percakapan dari ruang privat ke ruang komunal. Kota seperti Solo menjadi panggung penting karena isu ini tidak hanya milik metropolitan, tetapi hadir di semua lapisan sosial.

Film bekerja sebagai medium yang aman untuk membicarakan hal yang sulit diucapkan secara langsung. Ketika penonton melihat pola gaslighting atau relasi timpang di layar, mereka lebih mudah mengenali tanda serupa pada diri sendiri atau orang terdekat.

Diskusi yang melibatkan psikolog membuat narasi film tidak berhenti sebagai drama, tetapi menjadi literasi emosi. Ini penting karena publik sering mengira masalah relasi cukup diselesaikan dengan “sabar”, bukan dengan batasan sehat dan bantuan profesional.

Secara global, WHO menyebut sekitar 1 dari 3 perempuan pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan intim atau orang lain sepanjang hidupnya. Angka itu menegaskan bahwa kekerasan pasangan intim bukan kasus pinggiran, melainkan epidemi sosial yang menuntut respons kolektif.

Di Indonesia, Komnas Perempuan berulang kali melaporkan tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga dalam Catatan Tahunan (CATAHU) dari tahun ke tahun. Polanya konsisten: banyak korban terjebak karena ketergantungan ekonomi, tekanan keluarga, dan stigma terhadap perceraian.

Kehadiran figur publik seperti Acha Septriasa memperluas jangkauan pesan, tetapi juga membawa risiko penyederhanaan isu. Karena itu, format roadshow yang menghadirkan psikolog menjadi penyangga agar percakapan tetap berbasis pengetahuan, bukan sekadar sensasi.

Yang menarik, strategi “tur kota” menandai pergeseran kampanye kesehatan mental dari seminar eksklusif ke ruang publik yang lebih cair. Ia menyasar audiens yang mungkin tidak pernah datang ke klinik, tetapi bersedia duduk menonton film dan berdialog.

Womantalk Bus Roadshow memperlihatkan bahwa budaya populer bisa menjadi pintu masuk perubahan sosial. Namun pintu masuk bukanlah tujuan akhir, karena kesadaran tanpa akses layanan hanya akan melahirkan frustrasi baru.

Film seperti Suamiku Lukaku berpotensi memvalidasi pengalaman korban, tetapi ia juga harus hati-hati agar tidak meromantisasi penderitaan. Jika luka hanya dijadikan bumbu dramatik, penonton bisa pulang dengan air mata, tetapi tanpa peta keluar.

Di titik ini, peran psikolog dalam diskusi menjadi krusial untuk memberi bahasa yang tepat: kekerasan emosional adalah kekerasan, kontrol adalah sinyal bahaya, dan meminta bantuan bukan aib. Pesan paling politisnya sederhana, yakni relasi sehat selalu memberi ruang aman, bukan rasa takut.

Yang juga perlu dikritisi adalah kecenderungan masyarakat menyalahkan korban lewat pertanyaan seperti “kenapa tidak pergi saja”. Pertanyaan itu menghapus realitas bahwa korban sering menghadapi ancaman, isolasi, dan jebakan ekonomi yang sistemik.

Solo menjadi pengingat bahwa percakapan tentang toxic relationship dan kesehatan mental bisa hidup di mana saja, asal ada medium dan keberanian untuk memulainya. Film Suamiku Lukaku dan Womantalk Bus Roadshow menunjukkan bahwa luka personal sering kali berakar pada norma sosial yang membungkam.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya siapa yang salah dalam sebuah hubungan, melainkan siapa yang kita lindungi ketika kekerasan dinormalisasi. Jika satu penonton pulang dengan keberanian menetapkan batas, mencari bantuan, atau mendengar korban tanpa menghakimi, maka film itu telah bekerja melampaui layar.

(Orbit dari berbagai sumber, 1 Oktober 2026)