Smart Glasses Meta: Obsesi Mark Zuckerberg dan Masa Depan Wearables
ORBITINDONESIA.COM – Smart glasses Meta kembali jadi perbincangan setelah Mark Zuckerberg mengaku pernah menerima panggilan bisnis saat mengendarai jet ski, dan lawan bicaranya tidak menyadari apa pun. Ia menyebut posisi mikrofon di bantalan hidung kacamata Meta membuat suara tetap jernih, bahkan diklaim setara kondisi “terowongan angin”.
Dalam wawancara dengan Complex yang terbit pekan ini, Zuckerberg menegaskan keyakinannya bahwa wearables adalah masa depan, dan ia memakai kacamata Meta hampir di mana saja. Ia bahkan berkelakar, orang tidak selalu ingin memberi tahu bahwa ia sedang berada di atas jet ski saat rapat.
Meta kini memosisikan smart glasses sebagai perangkat komputasi berikutnya, bukan sekadar aksesori. Perangkat itu dijual lewat kerja sama dengan EssilorLuxottica, induk Ray-Ban dan Oakley, dengan rentang harga dari Ray-Ban Meta (Gen 2) sekitar US$379 hingga Meta Ray-Ban Display seharga US$799.
Model Display membawa layar di sisi kanan untuk menampilkan teks, notifikasi, aplikasi, foto, dan terjemahan langsung. Paketnya juga menyertakan Neural Band, gelang yang membaca sinyal listrik di lengan bawah agar pengguna bisa menavigasi tampilan dengan gerakan jari halus.
Taruhan Zuckerberg terdengar sederhana, tetapi besar: hampir 2 miliar orang sudah memakai kacamata koreksi, dan itu dianggap pasar siap pakai. Ia menyamakan momen ini dengan transisi ponsel lipat ke smartphone, ketika perangkat baru akhirnya menjadi standar sehari-hari.
Di titik ini, “AI-enabled eyewear” menjadi kata kunci, karena kacamata menjanjikan asisten AI yang bisa “melihat yang Anda lihat” dan “mendengar yang Anda dengar”. Argumennya, kacamata membuat pengguna tetap hadir bersama orang di sekitarnya, berbeda dari ponsel yang menuntut tatapan turun ke layar.
Namun klaim “hadir” itu menyimpan paradoks, karena perangkat yang terus aktif juga memperluas ruang pengumpulan data sensorik. Mikrofon, kamera, dan layar kecil di wajah berpotensi mengubah interaksi sosial menjadi aliran data yang terus-menerus, sekaligus menormalisasi perekaman di ruang publik.
Meta mengaku mengembangkan teknologi dasarnya sejak 2014 lewat jalur VR dan AR, dan sudah merencanakan lini kacamata 2028. Ini menandakan proyeknya bukan eksperimen, melainkan peta jalan jangka panjang yang menuntut belanja modal dan kesabaran investor.
Biayanya tidak kecil, karena Reality Labs, divisi yang menaungi bisnis kacamata, mencatat rugi US$19,2 miliar pada 2025. Meta juga memperkirakan belanja modal 2026 bisa mencapai US$145 miliar, angka yang memperlihatkan skala ambisi dan risiko.
Zuckerberg mencoba menenangkan pasar dengan formula lama: bangun pengalaman untuk miliaran orang, lalu monetisasi setelah skala tercapai. Ini strategi yang dulu mengantar Facebook ke dominasi iklan, tetapi perangkat keras punya siklus adopsi, biaya produksi, dan tantangan ekosistem yang berbeda.
Ia mengklaim penjualan kacamata meningkat tiga kali lipat dalam setahun, dan menyebutnya salah satu elektronik konsumen dengan pertumbuhan tercepat. Klaim itu penting sebagai sinyal traksi, meski publik tetap membutuhkan transparansi angka unit, wilayah penjualan, dan margin untuk menilai kesehatan bisnisnya.
Ada pula sisi sosial yang lebih rumit, karena kacamata perekam kerap memicu ketegangan norma. Pada Februari, seorang hakim bahkan mengancam menahan rombongan Zuckerberg karena memakai kacamata yang bisa merekam di ruang sidang yang melarang perekaman.
Obsesi Zuckerberg pada smart glasses bukan semata soal bentuk perangkat, melainkan soal siapa yang menguasai “antarmuka” manusia dengan AI. Jika ponsel adalah gerbang ke internet, maka kacamata berpotensi menjadi gerbang ke realitas, karena ia menempel pada indera dan atensi.
Di sinilah narasi “personal super intelligence” yang ia gaungkan menjadi politis, bukan hanya teknologis. Zuckerberg menolak masa depan “satu AI besar” yang dipakai semua orang, tetapi perangkat yang ia dorong justru bisa menjadi standar baru yang mengunci pengguna pada ekosistem tertentu.
Pasar kacamata koreksi memang besar, tetapi adopsi kacamata pintar tidak otomatis, karena ada hambatan gaya, kenyamanan, baterai, dan stigma perekaman. Keberhasilan akan ditentukan oleh apakah publik merasa manfaatnya mengalahkan rasa diawasi, serta apakah regulasi mampu mengejar inovasi.
Jika benar rapat bisa dilakukan di jet ski tanpa terdengar angin, maka dunia kerja makin cair dan batas “kantor” makin kabur. Tetapi ketika kerja bisa masuk ke mana saja, pertanyaan etisnya ikut masuk: kapan manusia benar-benar berhenti bekerja, dan kapan ia berhenti menjadi subjek data?
Zuckerberg menawarkan masa depan di mana smart glasses Meta menggantikan ponsel, dan AI menjadi pendamping yang selalu hadir di garis pandang. Ia membawa data pertumbuhan penjualan dan peta jalan hingga 2028, tetapi juga menanggung rugi Reality Labs yang besar dan kontroversi sosial soal perekaman.
Di ujungnya, pertaruhan terbesar bukan pada kejernihan mikrofon di “terowongan angin”, melainkan pada kepercayaan publik. Jika kacamata pintar menjadi norma, pertanyaan yang tersisa adalah: siapa yang mengendalikan apa yang kita lihat, dan siapa yang diuntungkan dari apa yang kita rekam tanpa sadar? (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)