Israel Serang Dahieh Beirut, Konflik Israel-Hezbollah Memanas

ORBITINDONESIA.COM – Israel menyerang Dahieh, pinggiran selatan Beirut, setelah Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan ke apa yang ia sebut “target teror” Hezbollah. Ribuan warga pun terjebak macet saat berusaha kabur, ketika gencatan senjata 16 April kembali dipertanyakan.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)

Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan serangan ke Dahieh dilakukan karena “pelanggaran gencatan senjata yang berulang dan berlanjut” serta serangan roket dan drone Hezbollah ke warga Israel. Katz bahkan menegaskan Dahieh “tidak berbeda” dari komunitas di Israel utara, sehingga Beirut akan ikut menanggung konsekuensi bila utara Israel tidak tenang.

Tak lama setelah pernyataan itu, militer Israel memerintahkan evakuasi warga Dahieh tanpa rincian tambahan. Jalan keluar kawasan itu mendadak penuh mobil berisi koper, selimut, dan keluarga yang berdesakan, termasuk orang tua dan anak yang menumpang satu skuter.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)

Secara faktual, intensitas serangan Israel ke Beirut memang lebih jarang sejak gencatan senjata berlaku pada 16 April, dan laporan menyebut Washington menekan Israel agar membatasi operasi di Beirut. Namun, perintah serangan terbaru memberi sinyal bahwa “rem” politik itu mulai dilepas, seiring mandeknya upaya meraih kesepakatan yang lebih besar dengan Iran.

Di level regional, konflik Israel-Hezbollah kini menjadi sub-klausul paling beracun dalam diplomasi AS-Iran, karena Teheran menuntut gencatan senjata mencakup Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, “Gencatan senjata antara Iran dan AS jelas gencatan senjata di semua front, termasuk di Lebanon,” sehingga pelanggaran di satu front dianggap pelanggaran di semua front.

Di lapangan, korban terus bertambah dan sulit dipilah antara kombatan dan sipil, karena data resmi Lebanon tidak membedakan keduanya. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 3.433 orang tewas sejak perang dimulai, sementara pada Senin NNA melaporkan beberapa serangan Israel di selatan menewaskan sedikitnya sembilan orang di Zebdine, Kfar Sir, dan dekat Rumah Sakit Jabal Amel di Tyre.

Perang ini, menurut laporan, bermula pada 2 Maret ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel kemudian merespons dengan kampanye udara lintas Lebanon dan invasi darat di selatan, yang belakangan meningkat meski serangan ke Beirut lebih jarang.

Perkembangan militer paling simbolik adalah jatuhnya Beaufort Castle, benteng berusia 900 tahun, setelah pasukan Israel menyeberangi Sungai Litani. Israel menyebutnya kemenangan strategis karena dataran tinggi memberi pandangan luas ke Lebanon selatan dan Galilea, tetapi Hezbollah masih mampu mundur sambil mempertahankan tembakan lintas batas.

Di sisi lain, militer Israel mengklaim mencegat sejumlah drone dan proyektil yang mengarah ke wilayahnya, tanpa korban. Hezbollah menyatakan membalas pelanggaran gencatan senjata Israel dengan menargetkan pasukan Israel di Yahmar al-Shaqif dan meluncurkan salvo misil ke infrastruktur militer di Tiberias.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)

Serangan ke Dahieh menunjukkan cara perang modern bekerja: tekanan militer dipakai sebagai bahasa negosiasi, sementara warga sipil menjadi “biaya operasional” yang tak pernah disebut terang-terangan. Ketika Netanyahu menyebut “target teror”, yang bergerak di jalanan adalah keluarga yang menumpuk hidupnya dalam bagasi, bukan milisi di ruang rapat.

Gencatan senjata 16 April tampak seperti jeda administratif, bukan kesepakatan politik yang mengikat, karena masing-masing pihak menafsirkan “pelanggaran” sesuai kepentingan. Israel menuntut penghentian serangan Hezbollah, sementara tokoh Lebanon seperti Ketua Parlemen Nabih Berri disebut “menaruh beban” pada Israel agar berhenti menembak lebih dulu.

Upaya AS, melalui Marco Rubio, menawarkan “de-eskalasi bertahap” dengan skema timbal balik, tetapi desainnya rapuh karena mengasumsikan Beirut mampu menekan Hezbollah secara efektif. Dalam realitas Lebanon, negara tidak selalu memegang monopoli kekerasan, sehingga janji politik sering kalah cepat dari drone dan artileri.

Yang paling berbahaya adalah efek penggandaan konflik, karena Iran menautkan Lebanon sebagai syarat gencatan senjata yang lebih luas. Jika satu roket di perbatasan bisa dianggap merobek gencatan senjata “di semua front”, maka setiap insiden kecil berpotensi menjadi alasan eskalasi besar.

Di dalam negeri Lebanon, dukungan pada Hezbollah di kantong-kantong basisnya masih kuat, tetapi kelelahan perang dan kritik juga membesar karena keputusan menyerang demi mendukung Iran dianggap menyeret Lebanon kembali ke jurang. Pada saat bersamaan, kemarahan pada Israel meningkat akibat serangan harian, perluasan wilayah pendudukan di selatan, pengungsian massal, dan korban sipil yang naik.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)

Konflik Israel-Hezbollah di Beirut dan Lebanon selatan kini bukan sekadar pertukaran serangan, melainkan pertarungan narasi tentang siapa yang “melanggar” lebih dulu. Di tengah perebutan legitimasi itu, yang paling konsisten hanyalah pola: setiap eskalasi selalu dimulai dari pernyataan politik dan berakhir di jalanan yang macet oleh warga yang mengungsi.

Pertanyaannya sederhana tetapi menyakitkan: jika gencatan senjata hanya hidup di dokumen, berapa banyak lagi keluarga harus memindahkan hidupnya dalam koper sebelum diplomasi menemukan keberanian untuk memaksa penghentian tembakan yang nyata. Tanpa terobosan, “ketenangan” akan terus menjadi ancaman, bukan janji.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)