Ekonomi Kreatif Indonesia Jadi Mesin Pertumbuhan di Tengah Konflik Global

RRI.co.id

RRI.co.id

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Ekonomi kreatif Indonesia kembali didorong sebagai penopang ketahanan ekonomi nasional di tengah konflik global dan ketidakpastian pasar. Presiden Prabowo Subianto menuntut “kerja nyata” dan hasil yang terukur agar manfaatnya langsung dirasakan publik.

Dalam pengarahan kabinet di Istana Merdeka pada 8 April 2026, Prabowo menegaskan bahwa dunia sedang bergerak dalam pusaran konflik dan ketidakpastian. Ia mengklaim pemerintahan mampu menjaga jalur pembangunan, tetapi meminta pembuktian berbasis dampak.

Pernyataan itu menjadi konteks penting bagi Kementerian Ekonomi Kreatif yang menjanjikan penguatan sektor kreatif sebagai bantalan ekonomi. Narasi besarnya sederhana: ketika komoditas bergejolak, nilai tambah dari ide dan budaya harus bekerja lebih keras.

Namun, kata “terukur” adalah tantangan yang sering mengganjal kebijakan publik. Banyak program kreatif berhenti pada seremoni, sementara pelaku usaha masih berjuang pada akses pasar, pembiayaan, dan kepastian regulasi.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan kolaborasi hexahelix: pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan investor. Model ini masuk akal karena ekosistem kreatif tidak bisa tumbuh hanya dengan subsidi atau festival.

Masalahnya, hexahelix kerap terdengar seperti daftar undangan rapat, bukan mesin produksi nilai. Tanpa target kinerja yang jelas, kolaborasi bisa berubah menjadi koordinasi tanpa hasil yang dapat dihitung.

Dalam praktik, ukuran dampak seharusnya konkret: kenaikan omzet UMKM kreatif, jumlah kontrak distribusi, ekspor, dan penyerapan kerja formal. Jika indikatornya kabur, maka “hasil terukur” mudah menjadi slogan yang sulit diverifikasi publik.

Janji penguatan UMKM kreatif dan digitalisasi industri kreatif juga perlu dibaca dengan kacamata biaya dan kesiapan. Digitalisasi bukan sekadar pindah ke marketplace, melainkan transformasi rantai pasok, desain produk, pemasaran berbasis data, dan perlindungan kekayaan intelektual.

Indonesia punya modal besar berupa demografi muda dan keragaman budaya yang menjadi bahan baku konten, fesyen, kuliner, gim, dan kriya. Tetapi modal itu bisa bocor jika pelaku tidak punya akses pembiayaan murah, mentor bisnis, serta kepastian hak cipta saat karya beredar lintas platform.

Di sisi lain, komitmen memperluas pasar global bagi produk kreatif perlu strategi yang lebih tajam daripada sekadar “kolaborasi internasional.” Kunci ekspor kreatif adalah standardisasi, kurasi, konsistensi suplai, serta diplomasi dagang yang mengerti selera pasar tujuan.

Kampanye #KitaMulaiCaraBaru disebut sebagai transformasi budaya kerja yang lebih produktif dan adaptif. Ini relevan karena birokrasi yang lamban sering menjadi penghambat utama bagi sektor yang bergerak cepat dan berbasis tren.

Namun, budaya kerja baru harus dibuktikan lewat pemangkasan perizinan, integrasi data pelaku, dan layanan satu pintu yang benar-benar berfungsi. Tanpa itu, pelaku kreatif tetap berhadapan dengan prosedur yang menguras waktu dan energi.

Ekonomi kreatif memang layak diposisikan sebagai mesin pertumbuhan, tetapi mesin tidak hidup hanya dengan pidato. Ia butuh bahan bakar berupa kebijakan yang disiplin, anggaran yang tepat sasaran, dan pengukuran yang transparan.

Pernyataan Prabowo tentang “hasil yang langsung dirasakan” seharusnya menjadi alarm agar kementerian tidak terjebak pada output semu. Festival, pelatihan, dan inkubasi harus dinilai dari dampak bisnis, bukan jumlah peserta atau unggahan media sosial.

Jika pemerintah serius, maka peta jalan perlu menempatkan UMKM kreatif sebagai subjek, bukan objek program. Skema pembiayaan berbasis kinerja, kemitraan dengan offtaker, serta perlindungan HKI harus lebih diprioritaskan daripada kegiatan seremonial.

Di tengah konflik global, ketahanan ekonomi juga berarti diversifikasi sumber devisa dan pekerjaan. Ekonomi kreatif bisa mengisi celah itu, tetapi hanya jika negara berani menata ekosistem dari hulu ke hilir secara konsisten.

Indonesia sedang mencari cara bertahan dan bertumbuh di dunia yang tidak stabil, dan ekonomi kreatif menawarkan harapan yang masuk akal. Tetapi harapan harus ditukar dengan ukuran yang jelas, kerja yang rapi, dan keberpihakan yang nyata pada pelaku.

Pertanyaannya sederhana: ketika satu setengah tahun berikutnya berlalu, apa bukti paling konkret yang bisa ditunjukkan kepada publik. Jika jawabannya hanya acara dan kampanye, maka ketahanan ekonomi akan tetap rapuh di hadapan guncangan global.

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Oktober 2026)