America250 Los Angeles: Pesta 250 Tahun AS di Bayang Trump

The Washington Post

The Washington Post

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – America250 Los Angeles berubah menjadi panggung “persatuan” yang justru menonjolkan perpecahan politik Amerika. Di America’s Block Party, penonton membayar US$17,76 untuk Chris Stapleton, Queen Latifah, dan Smashing Pumpkins, sambil berharap sehari tanpa Donald Trump. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Di Los Angeles Memorial Coliseum, bendera Amerika berbaur dengan aksen dan warna kulit yang beragam. Banyak orang datang untuk merayakan ulang tahun ke-250 Amerika, tetapi juga untuk menegaskan bahwa negara ini milik keluarga imigran seperti mereka. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Kontrasnya tajam dengan perayaan di Washington, D.C. yang dipusatkan pada Presiden Donald Trump. Di mata sebagian hadirin, Trump membuat Amerika “kurang bersatu” dan lebih dingin terhadap keluarga imigran. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Justine Haymes, 63 tahun, datang dari Las Vegas dan merasa Amerika melupakan nilai intinya. “Para imigran yang datang ke Amerika membangun negara ini, dan kita lupa itu,” katanya, memakai topi “Mexico” yang merujuk warisan keluarganya. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Acara Los Angeles adalah event utama America250, upaya bipartisan yang diluncurkan Kongres satu dekade lalu untuk menandai semiquincentennial. Namun Trump membentuk kelompoknya sendiri untuk merancang agenda 250 tahun, sehingga lahir “layar terbelah” yang tak biasa. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

America250 berusaha menghindari politik, tetapi politik datang sendiri lewat konteks dan perbandingan. Di saat sebagian pengisi acara menarik diri dari event Trump seperti Great American State Fair, panggung Los Angeles justru penuh selebritas dan terasa “normal”. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Faktor cuaca ikut membentuk narasi. Jika perayaan 4 Juli di Washington digambarkan kacau karena panas menekan dan badai petir, konser amal di Los Angeles berlangsung tertib dengan awan yang menahan suhu 82 derajat dan angin sepoi-sepoi. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Namun “ketertiban” tidak sama dengan “kesatuan” dalam makna politik. Keragaman penonton justru dipersepsi sebagai sesuatu yang sedang diserang, terutama oleh kebijakan penegakan imigrasi yang agresif. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Di antrean makanan, simbol Amerika bertemu rasa yang melintasi batas negara. Truk makanan “Oaxaca on Wheels” berdiri tidak jauh dari truk kentang panggang dan kios hot dog, seperti metafora tentang identitas nasional yang selalu campuran. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Drina Lucero mengaku tahun lalu tidak merayakan 4 Juli karena marah atas kembalinya Trump ke kekuasaan. Ia membenci cara Trump membicarakan imigran, yang baginya berarti keluarganya sendiri yang Hispanik-Filipina. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Namun pada Sabtu itu, di antrean permen kapas, ia merasa cukup berharap untuk berpesta. Ia menilai arus mulai berbalik melawan Trump, menyebut rating persetujuan Trump menurun di tengah harga bensin tinggi dan penegakan imigrasi yang keras. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

“Ini sedang berantakan,” kata Lucero. “Pemerintahan Trump akan runtuh.” Kalimat itu menunjukkan bagaimana konser pun bisa menjadi ruang katarsis politik, meski panggung berusaha tampil netral. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Di sisi lain, ada juga strategi bertahan yang lebih sederhana: mematikan kebisingan. Devin Ortiz, 23 tahun, berkata orang hanya ingin bersenang-senang, sementara Daniel Maldonado, 22 tahun, mengulang pesan yang sama: “taruh dulu di samping.” (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Di tingkat elite, konflik makin terang. Senator Alex Padilla menyindir Trump “membuat ulang tahun ke-250 Amerika tentang dirinya sendiri” dalam dengar pendapat kongres, sementara kubu Trump menilai America250 “tidak punya apa-apa untuk ditunjukkan” setelah sepuluh tahun persiapan. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Ketua America250, Rosie Rios, memilih bahasa yang aman. Ia menyebut semakin banyak organisasi merencanakan kegiatan 250 tahun, semakin baik, lalu berfoto dengan pemeran Abraham Lincoln dan Benjamin Franklin yang berdiri di atas egrang. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Upaya “merayakan tanpa politik” terdengar mulia, tetapi dalam Amerika yang terbelah, netralitas sering berubah menjadi posisi tersendiri. Ketika satu pihak memusatkan perayaan pada figur presiden, pihak lain otomatis didefinisikan sebagai “alternatif”, walau hanya menggelar konser. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Los Angeles menampilkan patriotisme yang lebih cair, bukan patriotisme yang menuntut keseragaman. Penonton memakai atribut 4 Juli sambil membawa identitas etnis, dan itu menantang gagasan bahwa “Amerika” harus tampak satu wajah. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Heaven Oros, 23 tahun, berdiri dekat papan “Proud to be American” dan berkata kalimat itu tetap benar baginya. Ia mengaku takut pada deportasi massal, tetapi memisahkan pemerintah dari negaranya: “Amerika tidak ada hubungannya dengan itu.” (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Pernyataan Oros terdengar optimistis, tetapi juga menyimpan pertanyaan tajam. Jika kebijakan negara memengaruhi siapa yang aman tinggal dan bekerja, seberapa jauh “Amerika” bisa dipisahkan dari pemerintah yang menjalankannya. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Rosie Rios kemudian menutup malam dengan kisah imigran yang klasik namun relevan. Ia menyebut ibunya datang dari Meksiko tanpa apa-apa demi hidup yang lebih baik, lalu menegaskan, “Kami personifikasi American Dream.” (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Di sinilah inti ketegangan perayaan 250 tahun Amerika terlihat. American Dream dijadikan jembatan persatuan, tetapi kebijakan imigrasi dan retorika politik justru menguji apakah mimpi itu masih terbuka untuk semua. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

America250 Los Angeles menunjukkan bahwa musik dan pesta bisa menjadi ruang jeda, tetapi bukan ruang hampa. Di tengah bendera, truk Oaxaca, dan lagu-lagu populer, publik tetap membawa rasa cemas tentang deportasi, identitas, dan siapa yang dianggap “Amerika”. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Perayaan 250 tahun seharusnya bukan sekadar panggung terbesar atau selebritas terbanyak. Ia semestinya menjadi audit moral tentang nilai inti yang disebut Justine Haymes: memperlakukan tetangga seperti diri sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)

Pertanyaannya kini sederhana namun mengganggu: ketika Amerika meniup lilin ulang tahunnya yang ke-250, siapa yang benar-benar diundang ke meja, dan siapa yang diminta pergi diam-diam. Jawabannya akan menentukan apakah “American Dream” masih janji, atau hanya slogan. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)