Asal-usul Devil's Arrows Terungkap: Batu 25 Ton Diangkut 18 Km

detikcom

detikcom

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Asal-usul Devil's Arrows akhirnya menemukan pijakan baru lewat riset geologi modern. Deretan batu tegak prasejarah di North Yorkshire ini ternyata bukan hadiah gletser, melainkan hasil kerja manusia yang mengangkut batu 25 ton sejauh 18 kilometer.

Devil's Arrows adalah tiga batu raksasa yang masih berdiri dekat Boroughbridge, North Yorkshire. Tingginya hampir 7 meter, dan masing-masing diperkirakan berbobot sekitar 25 ton.

Selama bertahun-tahun, teka-teki utamanya sederhana namun sulit dijawab. Apakah batu-batu itu berpindah secara alami pada zaman es, atau sengaja dipindahkan komunitas prasejarah.

Sejumlah dugaan lama mengarah ke sumber batu yang lebih dekat seperti Plumpton Rocks. Dugaan itu terasa masuk akal, karena logika jarak biasanya menang dalam proyek angkut-mengangkut.

Penelitian yang dipimpin Curtin University dan University of York memetakan asal batu melalui analisis mineral. Studi itu terbit di Proceedings of the Royal Society A dengan judul “Deliberate Prehistoric Sourcing of the Devil's Arrows, Britain's Tallest Stone Row.”

Tim memakai metode pengambilan sampel berdampak rendah dengan selotip perekat. Butiran mineral sangat kecil diambil dari permukaan batu, lalu dibaca sebagai “sidik jari” usia mineral.

Hasilnya mengarah ke Brimham Rocks di North Yorkshire, bukan ke lokasi yang lebih dekat. Jaraknya sedikitnya 18 kilometer dari Devil's Arrows, dan rutenya tidak selalu ramah bagi pemindahan batu raksasa.

Temuan ini memukul mundur teori gletser sebagai penjelasan utama. Jika batu berasal dari sumber spesifik yang cocok secara mineral, maka hipotesis “terbawa alam” makin sulit dipertahankan.

Dr Anthony Clarke dari Curtin University menegaskan pilihan sumber batu tampak disengaja. “Batu-batu tersebut sengaja dipilih dari lanskap yang sulit dijangkau, berjarak 18 kilometer,” ujarnya, dikutip dari Phys.

Pernyataan Clarke juga menyorot dimensi teknis dan sosial. “Setiap batu memiliki berat lebih dari 25 ton, sehingga memindahkannya membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan keterampilan teknik yang luar biasa,” katanya.

Penelitian ini menambah satu lapis cerita yang sering hilang dalam pembacaan monumen batu. Yang monumental bukan hanya batu yang berdiri, tetapi jaringan kerja, logistik, dan otoritas sosial yang membuatnya mungkin.

Ada pula jejak “batu keempat” yang lama menjadi rumor lokal. University of York menyebut batu yang hilang itu mungkin dipakai ulang dan kini berupa salib batu di desa Aldborough.

Jika benar, maka Devil's Arrows bukan sekadar situs, melainkan material yang hidup dalam sejarah penggunaan ulang. Monumen prasejarah dapat berubah fungsi, dan identitasnya bisa “berpindah” mengikuti kebutuhan zaman.

Namun satu pertanyaan kunci masih menggantung. Penelitian ini belum menjawab bagaimana batu seberat itu dipindahkan dan ditegakkan secara vertikal tanpa teknologi modern.

Temuan asal-usul Devil's Arrows mengingatkan bahwa manusia prasejarah bukan sekadar “bertahan hidup.” Mereka juga membuat keputusan simbolik, bahkan ketika keputusan itu mahal secara tenaga dan risiko.

Jika batu terdekat tersedia namun ditinggalkan, maka jarak 18 kilometer menjadi pernyataan. Itu bisa berarti kekuasaan, ritual, klaim atas lanskap, atau upaya mengikat komunitas lewat kerja bersama.

Dr Jim Leary dari University of York menyebut pilihan sumber batu itu bermakna. “Komunitas pada masa itu membuat pilihan yang disengaja dan memiliki makna mengenai dari mana batu-batu mereka berasal,” katanya.

Di titik ini, arkeologi menjadi cermin untuk masa kini. Kita sering menganggap efisiensi sebagai satu-satunya logika pembangunan, padahal manusia kerap membangun demi makna dan ingatan.

Metode noninvasif yang dipakai juga memberi pelajaran etika riset. Pengetahuan tidak harus dibayar dengan kerusakan, apalagi pada monumen yang tak tergantikan.

Rencana tim untuk menerapkan teknik serupa pada batu tegak lain patut dicermati. Setiap kecocokan mineral dapat membuka peta jaringan mobilitas, pertukaran, dan imajinasi ruang pada masa Neolitikum Akhir hingga Zaman Perunggu Awal.

Devil's Arrows kini lebih dari sekadar tiga batu yang menantang langit North Yorkshire. Ia menjadi bukti bahwa masyarakat prasejarah sanggup mengubah lanskap, dan memilih sumber batu bukan hanya karena dekat, tetapi karena berarti.

Misteri cara pemindahan batu masih tersisa, dan mungkin justru di situlah daya tariknya. Ketika sains menemukan “dari mana,” kita terdorong bertanya “untuk apa,” dan pertanyaan kedua itu sering lebih manusiawi.

Di hadapan batu yang bertahan ribuan tahun, kita belajar bahwa peradaban dibangun oleh kerja kolektif dan keyakinan bersama. Lalu kita bertanya pelan, monumen apa yang sedang kita bangun hari ini, dan makna apa yang kita sematkan di dalamnya. (Orbit dari berbagai sumber, 17 September 2026)