AS Laksana: AI Sedang Mengubah Agama, dan Agama Berusaha Mengubah AI
Oleh AS Laksana, sastrawan
ORBITINDONESIA.COM - Bagus sekali laporan The Economist ini. Ia membahas masuknya AI ke wilayah yang selama ratusan atau ribuan tahun menjadi salah satu domain utama agama, yaitu menjawab pertanyaan yang tidak memiliki jawaban empiris yang bisa disederhanakan—mengapa kita hidup, bagaimana kehidupan setelah kematian, bagaimana menghadapi penderitaan, dan untuk apa hidup ini dijalani.
Ada beberapa hal yang dirasakan oleh kaum agamawan sebagai ancaman dengan kemunculan AI.
Pertama, AI mengurangi monopoli penafsiran. Sebelum era AI, jika seseorang ingin memahami kitab suci, dosa, kematian, perkawinan, atau persoalan-persoalan moral, ia akan bertanya kepada imam, pastor, rabi, ulama, atau guru agama. Sekarang ia bisa bertanya kapan saja kepada chatbot. Dalam skala tertentu, menurut artikel The Economist, ini setara dengan penemuan mesin cetak. Mesin cetak membuat Alkitab tersedia bagi banyak orang, mendorong munculnya penafsiran-penafsiran baru tentang iman, dan kemudian membantu menyebarkan pandangan-pandangan tersebut meskipun para pemuka agama menentangnya.
Kedua, AI dapat mengubah hubungan antara rohaniwan dan umatnya. AI bisa berfungsi sebagai penasihat pribadi dan orang tidak harus datang ke komunitas. Seseorang yang merasa hidupnya tidak bermakna bisa bertanya kepada AI, sedang berduka bisa bertanya kepada AI, sedang mengalami konflik moral bisa meminta pendapat AI. Ketika AI menjadi tempat pertama orang mencari jawaban, peran pemimpin agama sebagai pemberi nasihat terancam menyusut.
Ketiga, dan ini yang sangat dikhawatirkan, AI cenderung menjawab sesuai dengan preferensi orang yang bertanya. Dalam agama tradisional, keyakinan seseorang dibentuk oleh kitab, ritual, guru, keluarga, dan komunitas. Waleed Kadous, yang mengembangkan Ansari, sebuah chatbot AI untuk umat Muslim, khawatir bahwa karena model-model sering bertabiat “menjilat dan berpusat pada pengguna, bukan komunitasnya”, orang-orang beriman dapat bergeser menuju praktek keagamaan yang “lebih individual”.
Pada titik paling ekstrem, AI sedang mendorong apa yang disebut Beth Singler dari Universitas Zurich sebagai “improvisasi keagamaan”. Ketika orang berinteraksi semakin intens dengan chatbot dan dengan pencari spiritual lain yang berpikiran sama, sebagian dari mereka membentuk agama-agama baru yang organisasinya longgar. Misalnya, “Theta Noir”, sebuah “komunitas spiritual”, yang menantikan MENA, sebuah superinteligensi masa depan dengan kekuatan seperti Tuhan yang akan memberikan kepada umat manusia “peningkatan besar”.
Mungkin kekhawatiran terbesar para pemimpin agama adalah semakin banyak orang yang mulai berpaling kepada AI dan bukan kepada pemimpin spiritual. Shaza Nasheha, seorang Muslim berusia 37 tahun dari Singapura, mengatakan bahwa ia sering meminta ChatGPT menjelaskan konsep-konsep Islam.
Keempat, sebagian pemimpin agama melihat bahwa chatbot pada umumnya dirancang untuk menjaga percakapan dengan pengguna tetap menyenangkan, sementara urusan moral tidak selalu menyenangkan. Agama sering meminta seseorang menerima kritik, mengakui kesalahan, menahan keinginan, menghadapi penderitaan, memaafkan orang lain, atau melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Jika AI selalu membuat orang merasa benar dan nyaman, para pemimpin agama khawatir bahwa AI akan menjadi teman yang buruk bagi pembentukan karakter.
Kelima, AI membawa kecenderungan sekuler. Ini bagian paling menarik dari artikel The Economist. Ketika seseorang bertanya, “Mengapa hidup saya terasa tidak bermakna?”, sebuah model kemungkinan besar menjawab dengan psikologi, pengembangan diri, hubungan sosial, atau membangun kebiasaan hidup yang positif. Ia hampir mustahil mengatakan, “Anda perlu mencari Tuhan.” Atau secara spesifik, jika AI berpikir secara Katolik, ia mungkin akan memasukkan saran pengakuan dosa, belas kasih, dan ajaran Gereja; jika AI Buddhis, ia mungkin membawa persoalan kemelekatan, penderitaan, dan welas asih; jika AI Islam, ia mungkin mempertimbangkan kewajiban moral, dosa, keadilan, ajaran Alquran dan hadis.
Bagi kaum sekuler, jawaban chatbot mudah diterima, tetapi tentu tidak bagi para pemimpin agama. Paus Leo XIV berpendapat dalam ensiklik pertamanya pada Mei 2026 bahwa teknologi tidak pernah netral dan akan selalu mengambil “karakteristik dari mereka yang merancang, membiayai, mengatur, dan menggunakannya”. Ia khawatir bahwa AI akan terlalu sekuler dan melemahkan atau bahkan menggantikan keyakinan agama.
Interaksi dengan mesin yang bersuara sekuler ini tampaknya benar-benar mencemaskan bagi para rohaniwan. Karena itu sekarang kelompok-kelompok agama berusaha mempengaruhi pengembangan model secara langsung. Gereja Katolik, misalnya, secara khusus membangun hubungan kuat dengan laboratorium-laboratorium AI.
Masalahnya, bagi laboratorium AI, memasukkan gagasan keagamaan ke dalam teknologi yang digunakan oleh orang dari berbagai agama maupun oleh mereka yang tidak beragama sangat tidak mudah. Anthropic mengakui bahwa perusahaan itu harus berhati-hati agar tidak menyelaraskan model dengan satu tradisi keagamaan tertentu.
Sebagai gantinya, banyak orang beriman telah membuat chatbot keagamaan khusus, dari GitaGPT (Hindu, merujuk pada Bhagavad Gita) hingga Salaam World, untuk membantu pengguna menghadapi pertanyaan-pertanyaan pelik dalam hidup.
Ada juga yang mengembangkan pengawasan terhadap jawaban AI. Chatbot tidak dibiarkan menjawab hanya berdasarkan pengetahuan umum model. Pengawas menyediakan bahan yang relevan dari ajaran-ajaran keagamaan dan setelah itu baru meminta model menyusun jawaban atas pertanyaan berdasarkan bahan tersebut. Tentu saja ini merepotkan. Doktrin bisa memiliki banyak tafsir, pertanyaan pengguna sering berada di wilayah abu-abu, sumber agama bisa saling bertentangan, dan model masih bisa salah memahami sumber.
Beberapa pemerintah juga sedang mengembangkan model mereka sendiri dengan nilai-nilai agama yang ditanamkan sejak awal. Qatar mendukung Fanar, model yang mengutamakan bahasa Arab dan dirancang untuk mencerminkan nilai-nilai Islam. Pemerintah Taiwan telah mengadakan “majelis penyelarasan” sejak 2023, tempat warga membahas seperti apa seharusnya perilaku AI. Kesimpulan dari pertemuan-pertemuan majelis ini telah digunakan untuk membentuk model yang dikembangkan secara lokal, termasuk model yang mencerminkan keyakinan spiritual masyarakat, untuk menghindarkan model-model besar membuat keyakinan menjadi seragam.
Meski ada kekhawatiran besar dari kalangan agamawan, mereka juga sebetulnya sangat diuntungkan oleh kehadiran AI. AI dapat menerjemahkan kitab, menjelaskan doktrin, membantu pastor menyiapkan khotbah, menjawab pertanyaan umat, mengajarkan bahasa kitab suci, dan bahkan menyebarkan agama kepada orang yang sebelumnya tidak pernah datang ke gereja atau masjid. Tetapi itu saja tidak cukup. Mereka ingin memastikan bahwa AI berperilaku sesuai nilai dan cara berpikir keagamaan. ***