NASA Percepat Artemis: Starship-Orion dan Blue Moon Menuju Bulan

SpaceNews

SpaceNews

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – NASA mengungkap strategi percepatan Artemis lunar lander dengan mengubah cara SpaceX dan Blue Origin membawa kru menuju Bulan. Intinya, Starship akan merapat dengan Orion di orbit Bumi dan mendorongnya ke Bulan, sementara Blue Origin menyederhanakan arsitektur Blue Moon dengan menyingkirkan satu kendaraan kunci. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Dalam acara 9 Juni di Johnson Space Center, NASA mengumumkan kru Artemis 3 sebagai penerbangan uji di orbit rendah Bumi. Misi ini akan menguji perapatan Orion dengan prototipe pendarat Blue Origin Blue Moon Mark 2 dan SpaceX Starship. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

NASA menargetkan menggunakan salah satu pendarat itu untuk Artemis 4 sebagai upaya pendaratan berawak pertama yang kini direncanakan pada 2028. Tahun lalu, NASA meminta kedua perusahaan menyusun “acceleration approaches” untuk Human Landing System, tetapi detailnya baru kini dibuka. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Untuk SpaceX, perubahan paling tajam adalah memindahkan titik perapatan dari NRHO di sekitar Bulan ke orbit Bumi. Jessica Jensen menyebut Starship akan merapat dengan Orion di orbit Bumi, lalu melakukan translunar injection (TLI) dengan Orion menempel. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Setelah itu, gabungan Starship-Orion akan menuju orbit rendah Bulan, bukan NRHO, lalu Starship melepas diri untuk mendarat. Jensen menilai ini meningkatkan keselamatan karena peristiwa perapatan yang kritis dilakukan dekat Bumi, dan opsi abort dari permukaan Bulan lebih fleksibel dibanding menunggu jendela dari NRHO. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Perubahan lintasan juga menekan kebutuhan propelan karena rute lebih langsung ke Bulan. Jensen menyebut dampaknya adalah lebih sedikit peluncuran tanker, namun ia tidak mengungkap angka pastinya. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Steve Creech, manajer program HLS NASA, menyorot efek “loiter requirements” yang berkurang. Menurutnya, sebelumnya Starship harus mampu menunggu lama di orbit Bulan untuk rendezvous, sedangkan kini bisa bertahan di depot propelan sampai Orion siap. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Konsekuensi teknisnya adalah Starship versi HLS makin mendekati desain armada standar, sehingga kebutuhan sistem unik berkurang. Jensen mengatakan Starship untuk Artemis 3 akan berupa Starship V3 “off the line” yang ditambah docking adapter, dengan sedikit fitur khusus pendarat seperti kabin kru. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Administrator NASA Jared Isaacman menilai pengalaman SpaceX pada sistem wahana berawak sudah terbukti lewat Crew Dragon. Namun ia menekankan pentingnya uji kendali gabungan Starship-Orion, terutama terkait akselerasi sumbu “negative-X” saat Starship melakukan pembakaran TLI dengan Orion terpasang. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Untuk Blue Origin, Creech menyebut perubahan terbesar adalah mengganti konsep “transporter” propelan. Transporter itu sebelumnya dirancang menyimpan hidrogen cair dan oksigen cair yang dikumpulkan di orbit rendah Bumi, lalu mengirimnya ke Bulan untuk dipakai Blue Moon. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Kini, Blue Origin menyisihkan transporter dan memakai “Mark 1-derived transfer stages” sebagai pengganti, merujuk pada Blue Moon Mark 1 tak berawak. Creech menilai perubahan ini menghilangkan sebagian risiko pengembangan teknologi yang paling besar dalam arsitektur awal. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Creech juga mengingatkan bahwa dalam rancangan lama, pendaratan berawak pertama Mark 2 akan menjadi pendaratan ketiga menjelang akhir dekade. Dengan transfer stage yang lebih sederhana, ada peluang untuk terbang lebih awal. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Di sisi lain, Blue Origin sedang menghadapi tekanan jadwal karena insiden New Glenn. John Couluris menyatakan manufaktur modul kru Mark 2 untuk Artemis 3 berjalan dan pabrik beroperasi 24 jam, sambil perusahaan menyelidiki ledakan saat uji static-fire 28 Mei yang merusak landasan. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Couluris menargetkan kendaraan Artemis 3 siap pada 2027 untuk peluncuran. Pernyataan ini penting karena kemampuan Blue Origin meluncurkan pendarat terkait langsung dengan kesiapan New Glenn dan rangkaian uji penerbangan pendahulu. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Percepatan yang dipilih NASA tampak seperti strategi “mengurangi hal baru” agar risiko turun tanpa menunggu teknologi sempurna. SpaceX mengubah geometri misi dengan memindahkan perapatan ke orbit Bumi, sehingga latihan Artemis 3 menjadi relevan langsung untuk pendaratan berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Namun, pendekatan ini juga memusatkan beban pada satu manuver yang sangat menentukan, yakni pembakaran TLI oleh Starship saat Orion terpasang. Penekanan Isaacman pada uji kendali menunjukkan NASA sadar bahwa keselamatan bukan hanya soal rute, melainkan stabilitas dan kontrol saat dorongan besar dilakukan. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Di kubu Blue Origin, menyederhanakan arsitektur dengan membatalkan transporter adalah langkah yang terdengar pragmatis, bahkan defensif. Itu mengurangi kompleksitas kriogenik, tetapi tetap menyisakan pertanyaan besar tentang kesiapan roket New Glenn setelah ledakan uji static-fire. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Secara politis dan manajerial, NASA seolah menukar keanggunan desain awal dengan kepastian eksekusi. Dalam program sebesar Artemis, “lebih sederhana” sering berarti “lebih bisa diaudit, diuji, dan dijadwalkan,” meski konsekuensinya adalah ketergantungan tinggi pada performa satu-dua sistem inti. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Rangkaian perubahan ini memperlihatkan NASA memaksa realitas teknik untuk tunduk pada realitas waktu. SpaceX menekan risiko lewat perapatan di orbit Bumi dan rute lebih langsung, sedangkan Blue Origin memotong simpul teknologi dengan mengganti transporter menjadi transfer stage. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)

Yang tersisa adalah ujian paling klasik dalam sejarah penerbangan antariksa: apakah penyederhanaan benar-benar mempercepat, atau hanya memindahkan titik rapuh ke tempat lain. Jika Artemis 4 pada 2028 adalah taruhan, maka pertanyaannya kini sederhana dan tajam, siapa yang paling siap membuktikan stabilitas sistem, bukan sekadar ambisi jadwal. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)