Kompasiana dan Budaya Tengkar: Debat, Literasi, dan Etika Komentar

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kompasiana pernah dikenal dengan budaya tengkar yang riuh, dan sebagian orang menganggapnya sebagai mesin literasi yang diam-diam bekerja. Artikel ini menyorot “Kompasianer 2010-an” yang gemar beradu argumen, lalu membandingkannya dengan “Kompasianer 2020-an” yang dinilai lebih manis dan aman.

Narasi dalam artikel menggambarkan Kompasiana sebagai ruang publik digital tempat konflik ide menjadi hiburan sekaligus latihan berpikir. Penulis menyebut pertengkaran sebagai jalan menuju “terang pikiran”, karena debat memaksa orang merapikan argumen dan merujuk bahasa.

Di sisi lain, ada kerinduan pada ekosistem lama yang lebih keras, sekaligus sindiran pada budaya konsumsi konten pendek yang dianggap memiskinkan nalar. Tokoh-tokoh seperti Khrisna Pabichara dan Pebrianov diposisikan sebagai simbol “lawan tanding” yang memantik diskusi sastra dan gaya berbahasa.

Konflik di kolom opini dan platform blog warga sering berfungsi sebagai mekanisme seleksi ide, karena argumen yang rapuh mudah runtuh di hadapan sanggahan. Dalam literatur komunikasi, ini dekat dengan gagasan “public sphere” ala Jürgen Habermas, yakni ruang diskursif tempat warga menguji klaim secara rasional.

Namun, pergeseran dari debat panjang ke konten cepat bukan sekadar soal selera, melainkan perubahan arsitektur platform. Laporan Reuters Institute Digital News Report 2024 mencatat video dan platform sosial makin dominan sebagai gerbang berita, dan pola konsumsi ini cenderung memendekkan rentang perhatian serta mempercepat siklus emosi.

Artikel juga menampilkan dinamika khas komunitas: ada “provokator”, ada “sastrawan mbeling”, dan ada “murid-murid” puisi yang diperdebatkan. Ini menunjukkan bahwa pertengkaran bukan hanya benturan ego, melainkan juga ritual pembentukan status, otoritas, dan selera estetika.

Masalahnya, debat yang mencerdaskan mensyaratkan aturan main: data, logika, dan etika. Tanpa itu, pertengkaran mudah turun menjadi serangan personal, yang pada akhirnya mengusir penulis bagus dan membuat komunitas kehilangan daya tarik.

Sudut tajam artikel terletak pada paradoksnya: penulis meromantisasi “brengsek” sebagai tanda hidupnya forum, tetapi sekaligus mengakui bahwa yang diuntungkan adalah pihak yang mau belajar. Di sini, tengkar diperlakukan sebagai metode, bukan sekadar perang urat saraf.

Meski begitu, nostalgia pada era 2010-an perlu dibaca kritis, karena “keriuhan” sering menutupi biaya sosial yang besar. Banyak komunitas digital melemah bukan karena kurang konflik, melainkan karena konflik tanpa moderasi dan tanpa penghargaan pada argumen yang jujur.

Jika Kompasiana 2020-an terasa lebih jinak, itu bisa berarti dua hal yang bertolak belakang. Bisa jadi komunitas makin dewasa, atau justru makin takut berdebat karena iklim percakapan berubah dan insentif platform tidak lagi mendukung tulisan panjang.

Tokoh-tokoh yang disebut, dari Khrisna Pabichara hingga Pebrianov, berfungsi sebagai penanda bahwa kualitas debat sangat bergantung pada kualitas lawan bicara. Ketika “lawan tanding” pergi, yang tersisa sering hanya gema, dan gema jarang melahirkan pengetahuan baru.

Pertengkaran yang sehat adalah debat yang membuat orang pulang dengan kosakata baru, logika yang lebih rapi, dan kerendahan hati untuk mengoreksi diri. Pertengkaran yang buruk hanya meninggalkan luka, dan luka membuat orang memilih diam atau pindah.

Mungkin pertanyaan pentingnya bukan “mengapa Kompasiana sekarang baik-baik”, melainkan “bagaimana menciptakan debat yang keras tetapi beradab”. Jika ruang digital ingin kembali mencerdaskan, ia perlu merawat keberanian berargumen sekaligus disiplin etika, agar terang pikiran tidak lahir dari bara yang membakar orangnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 12 September 2026)