Israel Ambil Alih Kewenangan Hebron, Makam Para Patriark Memanas
ORBITINDONESIA.COM – Israel mengambil alih kewenangan perencanaan dan pembangunan di situs suci Hebron, termasuk Makam Para Patriark dan Masjid Ibrahimi, dari otoritas Palestina. Langkah ini diumumkan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan dinilai sebagai penguatan “kedaulatan Israel” di Tepi Barat. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Menurut Reuters, kewenangan itu sebelumnya berada di tangan Palestina berdasarkan Perjanjian Hebron 1997. Dalam perjanjian tersebut, Palestina mengendalikan perencanaan dan konstruksi di seluruh kota, termasuk kompleks suci yang dihormati Yahudi dan Muslim. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Kota Tua Hebron diakui sebagai Situs Warisan Dunia Palestina. Di sana, ratusan pemukim Yahudi tinggal di antara puluhan ribu warga Palestina, dalam area yang sebagian berada di bawah kontrol keamanan Israel. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Kompleks itu memiliki bobot simbolik yang jarang ditandingi. Yahudi meyakini Gua Para Patriark adalah tempat dimakamkannya Abraham, Ishak, Yakub, dan istri-istri mereka, sementara Muslim membangun Masjid Ibrahimi pada abad ke-14. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Smotrich mengatakan ia menandatangani persetujuan final untuk memindahkan kewenangan perencanaan dan pembangunan terkait situs suci dan kawasan pemukim Yahudi di sekitarnya kepada otoritas Israel. Ia menyebutnya “langkah bersejarah” yang akan memperdalam kedaulatan Israel di Tepi Barat. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Kantor Presiden Palestina Mahmoud Abbas menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap status politik dan hukum Hebron serta pelanggaran hukum internasional. Wali Kota Hebron, Yousef Al-Jabari, menyebutnya keputusan rasis yang bertujuan melucuti kewenangan pemerintah kota. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Secara politik, keputusan ini tidak berdiri sendiri. Reuters mencatat kabinet keamanan Benjamin Netanyahu sebelumnya menyetujui langkah-langkah untuk memudahkan pemukim membeli tanah di Tepi Barat dan memberi otoritas Israel lebih banyak kuasa penegakan hukum. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Smotrich juga dikenal secara terbuka ingin “mengubur” gagasan negara Palestina di Tepi Barat. Ia mendukung ekspansi cepat permukiman Israel, yang menurut Reuters diiringi peningkatan serangan pemukim terhadap warga Palestina. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
PBB dan mayoritas negara menilai permukiman Israel di Tepi Barat ilegal dan ekspansinya menjadi hambatan utama perdamaian serta kenegaraan Palestina. Israel menolak pandangan itu, menyebut wilayah tersebut “disengketakan” dan menekankan keberadaan Yahudi selama ribuan tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Untuk menahan kritik internasional, Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan Perjanjian Hebron 1997 tidak dibatalkan sepenuhnya. Israel menuding pemerintah kota Palestina di Hebron gagal bekerja sama dalam urusan perencanaan dan pembangunan di area pemukim serta situs suci Yahudi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Namun, inti masalahnya bukan sekadar koordinasi administratif. Pengalihan kuasa perencanaan adalah alat kontrol ruang, karena siapa yang mengatur izin bangun pada akhirnya mengatur demografi, akses, dan batas-batas hidup sehari-hari. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Hebron juga punya memori kekerasan yang panjang. Pada 1994, seorang pemukim Yahudi menembak mati 29 Muslim yang sedang salat di kompleks tersebut, dan tahun ini pemukim telah membunuh 13 warga Palestina menurut data PBB yang dikutip Reuters. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Ketika kekerasan menjadi latar, perubahan kewenangan menjadi pemicu baru. Setiap keputusan tata ruang di Hebron mudah terbaca sebagai pesan politik: siapa yang berhak tinggal, siapa yang berhak bergerak, dan siapa yang akhirnya tersisih. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Langkah Israel mengambil alih kewenangan perencanaan di Hebron tampak seperti “kebijakan teknis”, tetapi dampaknya strategis. Perencanaan kota adalah bahasa kekuasaan yang paling sunyi, karena ia mengubah realitas tanpa perlu deklarasi aneksasi formal. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Smotrich menyebutnya penguatan kedaulatan, dan itu selaras dengan agenda politiknya. Jika negara Palestina ingin berdiri, ia butuh kendali ruang, sementara kebijakan ini justru memindahkan tuas ruang ke tangan pihak yang menolak negara Palestina. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Di sisi lain, Israel akan berargumen soal keamanan dan pengelolaan situs suci yang sensitif. Tetapi keamanan yang dibangun di atas ketimpangan hak sering memproduksi siklus ketegangan baru, bukan stabilitas yang tahan lama. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Faktor domestik juga sulit diabaikan. Reuters menulis Israel akan menggelar pemilu paling lambat akhir Oktober, dan Smotrich sedang tertekan dalam jajak pendapat, sehingga isu permukiman menjadi panggung konsolidasi basis pemilih ideologis. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Di Hebron, politik elektoral bertemu situs suci, dan hasilnya nyaris selalu rapuh. Saat ruang ibadah dijadikan medan pembuktian kedaulatan, yang terkikis pertama kali adalah rasa aman warga biasa di kedua sisi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Pengambilalihan kewenangan perencanaan di Hebron menunjukkan bahwa konflik Israel-Palestina tidak hanya soal perbatasan, tetapi juga soal izin bangunan, akses jalan, dan siapa yang memegang stempel legalitas. Ketika stempel itu berpindah tangan, masa depan kota ikut bergeser. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah Perjanjian Hebron “dibatalkan” atau tidak, melainkan apakah ia masih punya daya mengikat dalam praktik. Jika setiap celah dipakai untuk memperluas kontrol sepihak, maka perdamaian berubah menjadi slogan tanpa mekanisme. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)
Hebron mengingatkan bahwa situs suci bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi sumbu. Pada akhirnya, kedaulatan yang dipaksakan lewat tata ruang mungkin menciptakan kemenangan politik jangka pendek, namun meninggalkan luka sosial yang panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)