Rekrutmen TNI Polri Prabowo: Kacamata Boleh, Intelektual Utama

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Rekrutmen TNI Polri Prabowo kini diarahkan tidak lagi terpaku pada fisik, termasuk membuka peluang calon prajurit dan polisi berkacamata. Fokus baru ini menekankan seleksi berbasis intelektual dan kesiapan menghadapi perang hybrid, dari drone sampai operasi siber.

Dalam taklimat tertutup di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (7/10/2026), Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan 800 perwira tinggi TNI dan Polri. Ia ingin memberi gambaran situasi bangsa menjelang dua tahun pemerintahannya.

Pesan yang mengemuka datang dari Menko Polkam Dudung Abdurachman setelah pertemuan itu. Prabowo, kata Dudung, meminta sistem rekrutmen ke depan mengutamakan kecerdasan, bukan sekadar postur dan syarat fisik.

Contoh yang langsung memantik perhatian publik adalah pernyataan bahwa masuk tentara atau polisi boleh memakai kacamata, asalkan pintar. Di titik ini, rekrutmen TNI Polri Prabowo bukan hanya soal prosedur, tetapi soal arah doktrin menghadapi ancaman baru.

Alasan yang disampaikan pemerintah merujuk pada perubahan karakter perang. Dudung menyebut perang kini bersifat hybrid, melibatkan drone dan bentuk ancaman lain yang tidak konvensional.

Dalam lanskap global, perang modern menuntut operator sistem tanpa awak, analis intelijen, ahli elektronika, dan personel siber. Banyak peran itu tidak bergantung pada kekuatan fisik semata, tetapi pada ketelitian, nalar, dan literasi teknologi.

Tren ini sejalan dengan pelajaran dari konflik kontemporer yang memperlihatkan dominasi drone dan perang informasi. Laporan-laporan terbuka dari berbagai lembaga riset pertahanan internasional dalam beberapa tahun terakhir konsisten menempatkan UAV, electronic warfare, dan cyber operation sebagai faktor penentu di medan tempur.

Jika rekrutmen masih menutup pintu bagi kandidat yang secara akademik unggul hanya karena kacamata, negara berpotensi kehilangan talenta. Di banyak negara, standar kesehatan mata dapat dikelola melalui koreksi optik, selama tugasnya tidak menuntut kondisi tertentu yang ekstrem.

Namun, perubahan rekrutmen tidak otomatis menghasilkan prajurit modern. Prabowo juga menekankan profesionalisme melalui pendidikan dan latihan, yang berarti kurikulum, instruktur, dan fasilitas harus ikut bertransformasi.

Di sisi lain, TNI dan Polri selama ini juga dibebani dukungan program pemerintah, dari ketahanan pangan sampai ketahanan energi. Apresiasi Prabowo atas dukungan itu menandakan ia melihat peran aparat sebagai tulang punggung stabilitas, sekaligus mesin eksekusi kebijakan.

Gagasan rekrutmen TNI Polri Prabowo yang lebih intelektual terdengar progresif, tetapi perlu pagar kebijakan yang tegas. Standar fisik tidak boleh dihapus total, melainkan dipetakan ulang sesuai kebutuhan jabatan dan risiko tugas.

Rekrutmen berbasis kecerdasan juga harus dibarengi sistem seleksi yang transparan dan terukur. Tanpa itu, “intelektual” bisa berubah menjadi slogan, sementara praktik titipan dan ketidakadilan justru mendapat baju baru.

Ada risiko lain yang lebih halus, yaitu ketergantungan pada teknologi tanpa etika dan disiplin operasi. Prajurit yang cerdas tetapi dibentuk dalam budaya komando yang menutup kritik akan sulit beradaptasi dengan perang informasi yang menuntut kecepatan, akurasi, dan akuntabilitas.

Di titik ini, kacamata hanyalah simbol dari pergeseran paradigma. Yang lebih penting adalah apakah institusi siap menerima talenta yang berpikir kritis, serta memberi ruang meritokrasi yang nyata dalam promosi dan penugasan.

Jika perubahan ini konsisten, Indonesia bisa memperkuat daya gentar dengan biaya sosial yang lebih rendah, karena mengandalkan presisi dan pengetahuan. Jika tidak konsisten, publik hanya akan melihatnya sebagai pernyataan populis yang berhenti di podium.

Rekrutmen TNI Polri Prabowo yang menempatkan intelektual di depan fisik adalah sinyal bahwa negara membaca arah ancaman yang berubah. Perang hybrid, drone, dan siber menuntut manusia yang mampu belajar cepat, bukan sekadar kuat secara raga.

Namun, modernisasi tidak cukup dengan melonggarkan syarat kacamata. Modernisasi menuntut seleksi bersih, pendidikan relevan, dan budaya profesional yang berani mengoreksi diri.

Pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi menentukan masa depan keamanan nasional. Apakah reformasi rekrutmen ini akan melahirkan aparat yang lebih cerdas sekaligus lebih akuntabel, atau hanya menjadi narasi baru tanpa keberanian membenahi sistem sampai ke akarnya. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)