Kontroversi VAR Manchester City vs Manchester United: Gol Haaland Disorot

Goal.com

Goal.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kontroversi VAR Manchester City vs Manchester United meledak setelah gol Erling Haaland pada menit ke-60 tetap disahkan, meski ada dugaan offside dalam prosesnya. Pro Ref kemudian mengakui terjadi “salah penilaian”, dan pengakuan itu membuat kemenangan tipis City terasa seperti putusan yang belum selesai.

Duel Red Devils melawan Skyblues berjalan dengan tensi tinggi, lalu memuncak pada momen ketika Haaland mendorong bola hasil umpan masuk yang terdefleksi dari Josko Gvardiol. Bola melewati garis gawang, dan City unggul dalam laga yang sejak awal sarat tekanan psikologis.

Masalahnya, Enzo Fernandez dinilai berada dalam posisi offside tipis saat bola dari Gvardiol dilepaskan. Ia tidak menyentuh bola, tetapi pergerakannya menuju bola dianggap aktif dan menarik perhatian Lisandro Martínez.

VAR memang meninjau insiden itu, tetapi penilaian video disebut hanya berfokus pada posisi Haaland. Fernandez, yang justru dipersoalkan karena keterlibatan aktif tanpa sentuhan, tidak diperlakukan sebagai titik utama penentuan pelanggaran.

Beberapa jam setelah laga, Pro Ref mengakui adanya “salah penilaian” dari tim wasit yang dipimpin Michael Oliver. VAR seharusnya memanggil Oliver ke monitor pinggir lapangan agar ia menilai ulang dari perspektif berbeda.

Di lapangan, City tetap menang 1-0 dan menjaga rekor empat kemenangan dari empat pertandingan, lalu berada di posisi kedua di belakang Arsenal karena kebobolan lebih banyak satu gol. United tertahan di peringkat ke-13 dengan empat poin, dan angka itu mempertegas betapa mahalnya satu keputusan.

Konteksnya makin tajam karena City bermain dengan 10 orang selama lebih dari 70 menit setelah tindakan kekerasan Phil Foden. Dalam kondisi seperti itu, tim yang unggul jumlah pemain biasanya memiliki probabilitas lebih besar untuk mengontrol tempo dan menciptakan peluang.

Namun United justru tumpul, dan kreativitas serangan mereka seperti berhenti di sepertiga akhir. Peluang terbesar datang dari bola mati, ketika tendangan bebas keras Marcus Rashford membentur tiang kiri pada menit ke-45.

Setelah jeda, tiang kembali menolak gol pembuka, kali ini dari Kobbie Mainoo yang gagal hanya karena hitungan milimeter pada menit ke-51. United sempat terlihat menemukan ritme, tetapi momentum itu runtuh tepat saat Haaland “yang nyaris tak terlihat” menghukum mereka.

Kontroversi VAR Manchester City vs Manchester United ini bukan sekadar debat garis offside, melainkan soal konsistensi logika keputusan. Jika pemain offside tidak menyentuh bola tetapi mengganggu lawan, maka inti penilaiannya adalah “pengaruh”, bukan “kontak”.

Pengakuan Pro Ref menjadi penting karena memperlihatkan celah prosedural, yakni kegagalan memanggil wasit ke monitor untuk keputusan yang berdampak langsung pada hasil. Dalam sepak bola modern, VAR seharusnya menjadi rem darurat, bukan sekadar stempel yang mempercepat kontroversi.

Namun kritik juga pantas diarahkan ke United, karena unggul satu pemain selama mayoritas laga tetapi tidak mampu mengubah dominasi situasional menjadi gol. Tim besar tidak bisa menggantungkan nasib pada keputusan wasit, sebab peluang yang hilang sering lebih menentukan daripada satu momen yang diperdebatkan.

City pulang dengan tiga poin, tetapi kemenangan itu membawa tanda bintang di benak publik karena pengakuan “salah penilaian” dari Pro Ref. United pulang dengan amarah, tetapi juga dengan cermin yang memantulkan problem kreativitas dan ketajaman.

Pada akhirnya, VAR hanya sebaik manusia yang mengoperasikannya, dan transparansi keputusan menjadi mata uang kepercayaan yang paling mahal di liga sebesar Premier League. Jika satu pertandingan dapat ditentukan oleh detail yang bahkan diakui keliru, pertanyaannya sederhana: berapa banyak musim yang akan ditentukan oleh kesalahan yang tidak sempat diperbaiki?

(Orbit dari berbagai sumber, 15 September 2026)