iPhone Ultra 1999 Dolar: Strategi Harga Apple iPhone 18 Pro

Forbes

Forbes

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Keyword iPhone Ultra dan iPhone 18 Pro kini mengarah pada satu pesan: Apple ingin menaikkan pendapatan tanpa menaikkan harga model inti. Dengan iPhone Ultra lipat seharga 1.999 dolar AS, Apple menguji batas “harga mewah” sambil menjaga iPhone 18 Pro tetap terasa masuk akal bagi pasar premium arus utama.

Pasar smartphone premium mendekati titik jenuh, sementara siklus ganti ponsel memanjang menjadi tiga tahun atau lebih. Dalam situasi ini, kenaikan harga merata di seluruh lini berisiko memukul penjualan dan memicu migrasi pengguna.

Artikel sumber menyebut Apple mengubah strategi: bukan menaikkan semua harga, melainkan menaruh beban margin dan komponen mahal pada satu model puncak. Model itu disebut iPhone Ultra foldable, diposisikan sebagai “petir penarik” bagi konsumen paling kaya.

Apple sebelumnya menaikkan harga iPhone 17 Pro menjadi 1.049 dolar AS dari 999 dolar AS pada iPhone 16 Pro, sambil menaikkan penyimpanan dasar dari 128GB ke 256GB. Namun penyesuaian serupa disebut tidak bisa diulang, karena 1.049 dolar dengan 256GB dianggap “harga yang sudah terkunci”.

Terjemahan akurat poin inti artikel: Apple akan menetapkan patokan harga premium 1.999 dolar AS untuk iPhone Ultra guna menguji batas harga mewah dan menyerap kenaikan biaya komponen generasi berikutnya. Dengan memusatkan rekayasa paling mutakhir ke satu flagship, Apple berharap iPhone Ultra ber-margin tinggi menarik konsumen paling affluent.

Artikel menilai iPhone Ultra menargetkan sekitar lima persen teratas basis pengguna global Apple, memakai material mewah dan komponen mutakhir. Dengan mengisolasi Ultra di puncak portofolio, Apple bisa mempertahankan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max di harga tradisional 1.099 dan 1.299 dolar AS.

Konsekuensinya, iPhone 18 Pro/Pro Max disebut tidak mengalami perubahan hardware besar selain peningkatan Apple Silicon ala “Moore’s Law”. Fokusnya pada efisiensi manufaktur dan prediktabilitas upgrade untuk operator serta pelanggan enterprise agar margin kotor mendekati tahun-tahun sebelumnya.

Di sisi lain, strategi Android disebut berlawanan: Samsung dan Google menghapus konfigurasi penyimpanan entry-level untuk menyamarkan kenaikan harga flagship. Artikel memberi contoh Samsung menghapus opsi 128GB dari Galaxy S26 saat rilis Februari, sehingga harga model dasar naik sambil harga Ultra dijaga mendekati generasi sebelumnya.

Tekanan biaya yang disebut meliputi kenaikan harga memori, storage, dan chipset seperti Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5. Kenaikan itu “ditutupi” oleh penyimpanan dasar lebih besar dan klaim kebutuhan spesifikasi untuk AI on-device.

Apple tidak hanya mengandalkan hardware, melainkan bundling layanan lewat Apple One untuk pendapatan berulang. Artikel menyebut iPhone bukan lagi transaksi sekali beli, karena ada Apple Music, Apple TV, dan backup online yang mengikat pengguna pada ekosistem.

Terjemahan bagian penting: Apple akan memperkenalkan lebih banyak alat AI, termasuk Siri AI, ke keluarga iPhone 18. Setelah periode promosi singkat, Apple diperkirakan mulai mengenakan biaya sebagai bagian paket Apple One untuk menutup biaya infrastruktur berulang.

Estimasi awal yang disebut adalah 15 dolar AS per bulan, yang menaikkan total biaya kepemilikan tanpa mengubah harga iPhone 18 Pro atau 18 Pro Max. Ini menggeser pertumbuhan dari penjualan perangkat pengganti ke layanan berlangganan yang terus berjalan.

Namun prasyaratnya jelas: Siri AI harus kompeten agar pengguna bersedia membayar. Mark Gurman dalam Bloomberg “Power On” dikutip menilai Siri AI belum di garis terdepan, tetapi cukup kompetitif dibanding chatbot terkemuka “sekitar enam bulan lalu”, dan itu tetap lompatan besar setelah Apple tertinggal lama.

Artikel menyebut Siri AI menjadi bagian iOS 27, dengan beta developer sudah tersedia. Rilis publik penuh akan hadir bersama iPhone 18 Pro, 18 Pro Max, dan Ultra yang diumumkan awal September, lalu menyusul ke iPhone lama via pembaruan OTA hingga akhir September.

Strategi iPhone Ultra terlihat seperti cara Apple “menaikkan harga tanpa terlihat menaikkan harga”. Harga iPhone 18 Pro dijaga, tetapi jalur monetisasi dialihkan ke dua titik: model mewah 1.999 dolar AS dan langganan AI dalam Apple One.

Ini cerdas, tetapi juga mengandung risiko politik merek. Bila iPhone Ultra terlalu dominan, iPhone Pro bisa terasa “biasa saja”, sementara pengguna yang menahan upgrade bisa makin yakin untuk menunggu karena perubahan hardware Pro disebut minim.

Taruhan terbesar justru ada pada Apple Intelligence dan Siri AI. Jika kemampuan asisten hanya “setara enam bulan lalu”, publik bisa mempertanyakan mengapa harus membayar 15 dolar AS per bulan, apalagi ketika banyak layanan AI lintas platform menawarkan nilai yang terasa lebih cepat berevolusi.

Di sisi kompetisi, langkah Android menaikkan baseline lewat penghapusan storage kecil memang bisa mengerek ASP, tetapi berisiko mengurangi volume. Apple tampak memilih memisahkan kelas sosial produk: yang mass-market premium ditahan, yang super-premium dibuat menggoda dan mahal.

Pada akhirnya, ini bukan sekadar soal foldable, melainkan soal arsitektur pendapatan. Apple ingin ARPU naik lewat layanan, sementara perangkat keras menjadi “gerbang” yang stabil untuk mempertahankan pengguna di ekosistem.

Jika iPhone Ultra benar hadir di 1.999 dolar AS, Apple sedang menguji seberapa jauh loyalitas bisa dikonversi menjadi kemewahan. Sementara itu, iPhone 18 Pro dipertahankan sebagai jangkar agar pasar inti tidak kabur.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah Siri AI cukup meyakinkan untuk mengubah kebiasaan: dari membeli ponsel baru, menjadi membayar kecerdasan setiap bulan. Di era jenuh inovasi hardware, mungkin yang paling mahal bukan lagi layar lipat, melainkan langganan yang diam-diam menjadi “biaya hidup digital” baru. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)