Ranking FIFA Timnas Indonesia Naik, Erick Thohir Bidik 100 Besar
ORBITINDONESIA.COM – Ranking FIFA Timnas Indonesia kembali naik setelah menang 1-0 atas Mozambik di GBK pada FIFA Matchday Juni 2026. Erick Thohir menyebut kemenangan ini menegaskan bahwa peringkat bukan jaminan, sekaligus membuka jalan menuju target 100 besar.
Timnas Indonesia menutup jeda internasional dengan dua kemenangan, yakni 3-0 atas Oman dan 1-0 atas Mozambik. Dua lawan itu punya peringkat lebih tinggi, Oman di posisi 79 dan Mozambik di posisi 101.
Di atas kertas, Indonesia seharusnya lebih sulit menang karena sebelumnya berada di posisi 122. Namun PSSI sudah menaruh target besar kepada pelatih John Herdman, yaitu menembus 100 besar ranking FIFA.
Hasil FIFA Matchday ini langsung berdampak pada ranking FIFA Timnas Indonesia yang naik bertahap. Dari posisi 122, Indonesia naik ke 119 usai mengalahkan Oman, lalu naik lagi ke 118 setelah menundukkan Mozambik.
Erick Thohir menekankan bahwa pertandingan internasional sering ditentukan detail kecil, bukan sekadar angka peringkat. Ia berkata, “ranking di sepak bola kadang-kadang bukan berarti yang pasti di atas pasti di bawah,” sambil menyinggung strategi pelatih dan kebugaran pemain.
Kemenangan atas Oman menjadi sinyal penting karena selisih peringkatnya jauh, sehingga nilai psikologisnya besar. Skor 3-0 juga memberi pesan bahwa Indonesia bukan sekadar “mencuri” hasil, melainkan mampu mengontrol permainan.
Laga melawan Mozambik menunjukkan sisi lain, yakni kemampuan menang dalam margin tipis. Gol Ole Romeny pada menit ke-12, setelah menerima umpan Ragnar Oratmangoen, menegaskan efektivitas momen, bukan dominasi semata.
Namun, kenaikan dari 122 ke 118 juga mengingatkan bahwa tangga menuju 100 besar tidak pendek. Selisih 18 peringkat berarti Indonesia harus konsisten menang, idealnya atas lawan yang peringkatnya lebih tinggi, dan melakukannya berulang dalam kalender FIFA.
Di titik ini, “target 100 besar” bukan sekadar slogan, melainkan proyek manajemen performa. PSSI perlu memastikan kualitas lawan uji coba, menit bermain pemain inti, serta stabilitas taktik agar poin FIFA tidak naik-turun karena hasil yang inkonsisten.
Ada optimisme yang sah dari Erick Thohir, tetapi publik berhak menuntut ukuran keberhasilan yang lebih konkret. Kenaikan ranking FIFA Timnas Indonesia patut diapresiasi, namun ia hanya indikator, bukan tujuan akhir sepak bola nasional.
Jika target 100 besar dikejar semata melalui jadwal uji coba yang aman, maka ranking bisa naik tanpa memperkuat fondasi. Sebaliknya, bila Indonesia berani rutin melawan tim kuat, risiko kalah memang ada, tetapi pelajaran taktis dan mental jauh lebih bernilai untuk turnamen resmi.
Erick juga menyebut “perbaikan peringkat” sebagai buah dari dua laga ini, tetapi peringkat akan cepat menguap bila setelahnya Indonesia kembali kehilangan poin. Konsistensi justru lebih sulit daripada menang dua kali, karena menuntut kedalaman skuad dan sistem latihan yang stabil.
Di level narasi, kemenangan ini mengangkat kepercayaan diri publik, tetapi euforia sering menutup evaluasi. Pertanyaan pentingnya adalah apakah Timnas sudah punya pola permainan yang bisa diulang, atau masih bergantung pada momen dan individu.
Ranking FIFA Timnas Indonesia yang naik ke 118 memberi bukti awal bahwa target 100 besar tidak mustahil. Dua kemenangan atas Oman dan Mozambik juga menunjukkan tim mampu menang dengan cara berbeda, dari pesta gol hingga skor tipis.
Tetapi jalan menuju 100 besar menuntut disiplin yang lebih panjang dari sekadar satu jendela FIFA Matchday. Pada akhirnya, publik perlu bertanya: apakah kita mengejar angka peringkat, atau membangun tim yang siap menang saat tekanan sesungguhnya datang.
(Orbit dari berbagai sumber, 13 Juni 2026)