Sosialisasi Hantavirus di Lapas Martapura, Cegah Wabah dari Tikus

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Sosialisasi Hantavirus di Lapas Kelas IIB Martapura menegaskan satu pesan: penyakit berbasis lingkungan bisa masuk dari celah terkecil, termasuk jejak tikus. Diskusi kesehatan bersama Dinas Kesehatan ini memusatkan perhatian pada kewaspadaan dini, kebersihan blok hunian, dan pencegahan penularan Hantavirus.

Lapas adalah ruang padat, ritme hidupnya seragam, dan kontrol lingkungannya tidak selalu ideal. Dalam situasi seperti itu, penyakit zoonosis seperti Hantavirus mendapat panggung jika sanitasi, penyimpanan makanan, dan pengendalian hama longgar.

Kepala Lapas Martapura, Abas Ruchandar, menekankan edukasi kesehatan sebagai langkah preventif agar lingkungan pemasyarakatan tetap sehat dan aman. Pernyataan itu penting, karena pencegahan di lapas tidak hanya melindungi warga binaan, tetapi juga petugas dan rantai penularan ke luar tembok.

Materi disampaikan Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan, Umaidah Kosim, yang menjelaskan Hantavirus menular lewat paparan urin, kotoran, atau air liur tikus terinfeksi. Penjelasan ini menempatkan fokus pada sumber masalah: kontak tidak langsung yang sering luput, seperti debu dari area kotor yang teraduk saat bersih-bersih.

Dalam literatur kesehatan global, Hantavirus dikenal dapat memicu sindrom berat, termasuk gangguan pernapasan, meski risiko tiap wilayah berbeda. WHO dan CDC menekankan pencegahan utama berupa pengendalian rodent, ventilasi saat pembersihan, serta disinfeksi sebelum menyapu agar partikel tidak terhirup.

Di lapas, tantangan pencegahan bukan sekadar pengetahuan, melainkan konsistensi operasional. Jika tempat sampah terbuka, sisa makanan tercecer, atau gudang lembap, maka tikus tidak perlu diundang untuk datang.

Sesi diskusi interaktif menjadi titik kuat karena mengubah sosialisasi dari ceramah menjadi pemecahan masalah. Tanya jawab memberi ruang bagi petugas dan warga binaan untuk mengidentifikasi titik rawan, dari dapur, selasar, hingga sudut-sudut penyimpanan.

Sosialisasi ini patut dibaca sebagai alarm dini, bukan sekadar agenda seremonial. Hantavirus adalah simbol dari isu yang lebih besar: kesehatan lingkungan di institusi tertutup sering kalah prioritas dibanding urusan keamanan.

Namun keamanan dan kesehatan tidak bisa dipisahkan. Ketika penyakit menular muncul, operasional lapas terganggu, biaya meningkat, dan risiko menyebar ke keluarga petugas serta masyarakat sekitar ikut membesar.

Karena itu, komitmen “sinergi lintas instansi” harus diterjemahkan menjadi standar kerja yang terukur. Pengendalian tikus, audit sanitasi berkala, ketersediaan disinfektan, dan edukasi rutin perlu menjadi kebijakan harian, bukan respons musiman saat isu sedang ramai.

Langkah Lapas Kelas IIB Martapura menggandeng Dinas Kesehatan menunjukkan pencegahan Hantavirus bisa dimulai dari hal paling sederhana: kebersihan dan disiplin lingkungan. Tetapi keberhasilan baru nyata jika perilaku bersih menjadi budaya, bukan hanya materi sosialisasi.

Pertanyaannya kini, apakah setiap sudut lapas diperlakukan sebagai ruang hidup yang layak sehat, atau sekadar ruang yang cukup “aman” untuk ditinggali. Di titik itulah pendidikan kesehatan berubah menjadi ukuran kemanusiaan, sekaligus ujian keseriusan negara menjaga yang berada dalam tanggung jawabnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 12 Juni 2026)