Pemotongan Dana HIV Global Ancam PrEP dan Kondom, UNAIDS Peringatkan

The Washington Post

The Washington Post

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pemotongan dana HIV global membuat layanan pencegahan seperti PrEP dan kondom merosot tajam, menurut laporan PBB. Data awal dari 62 negara menunjukkan penerima PrEP turun 38 persen pada 2024–2025, setara lebih dari satu juta orang yang tak lagi terlindungi.

Laporan PBB memperingatkan bahwa puluhan tahun kemajuan melawan HIV/AIDS kini terancam oleh pemotongan besar-besaran program pencegahan. Di beberapa kasus, pendanaan kondom dipangkas lebih dari 90 persen, sehingga rantai pencegahan di tingkat komunitas ikut rapuh.

Penurunan ini terjadi setelah pemotongan, jeda, dan gangguan bantuan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, disertai upaya penghematan oleh negara kaya lain. Negara-negara terdampak juga menghadapi kekurangan dana domestik, sehingga beban beralih ke sistem kesehatan yang sudah terbatas.

Di tengah turbulensi itu, indikator inti masih menunjukkan kemajuan yang rapuh. Infeksi HIV baru turun dari 2,1 juta pada 2010 menjadi 1,2 juta pada 2025, sementara kematian terkait AIDS turun dari 1,3 juta menjadi 570.000 pada 2025, terendah dalam lebih dari 30 tahun.

Data 2025 menunjukkan 1,2 juta orang tertular HIV secara global, dengan sekitar 420.000 kasus di Afrika Timur dan Selatan, serta 190.000 di Afrika Barat dan Tengah. Angka ini menegaskan bahwa pusat epidemi masih berada di sub-Sahara Afrika, wilayah yang selama ini sangat bergantung pada pembiayaan donor.

Di sisi lain, jumlah orang dalam pengobatan naik hampir 3 persen dari tahun ke tahun. Namun hampir 9 juta orang masih belum mendapat terapi, dan UNAIDS menilai pemotongan pencegahan serta dukungan komunitas bisa memicu kemunduran.

Perubahan kebijakan AS menjadi faktor kunci dalam laporan ini. Pembongkaran USAID dan “penataan ulang” PEPFAR disebut berdampak serius, terutama ketika fokus bergeser ke pengobatan ketimbang pencegahan, meski ada laporan orang meninggal saat menunggu obat di tengah kekacauan distribusi.

Departemen Luar Negeri AS membantah narasi penarikan total. Dalam pernyataan email, mereka menegaskan AS “tetap memerangi HIV/AIDS secara global” melalui kemitraan yang “akuntabel” dan perjanjian bilateral, sambil mengakhiri “era ketergantungan terbuka” pada pembayar pajak Amerika.

Masalahnya, pencegahan adalah rem darurat epidemi, bukan aksesori kebijakan. Ketika PrEP turun 38 persen dalam setahun, itu bukan sekadar statistik, melainkan jutaan pertemuan sosial dan seksual yang kembali tanpa perisai.

Dampak paling keras menimpa kelompok rentan yang membutuhkan layanan spesifik. Menurut Mahy dalam laporan, pemotongan dana sangat mengancam pekerja seks dan pria yang berhubungan seks dengan pria, karena stigma membuat mereka lebih bergantung pada penjangkauan yang terarah dan aman.

Survei 2026 terhadap 79 organisasi komunitas di 47 negara memperkuat sinyal bahaya. Penyaluran PrEP oleh organisasi yang dipimpin komunitas turun 50 persen, dan layanan dukungan bagi ODHA juga turun 50 persen, termasuk pemangkasan lebih dari 80 persen layanan untuk pria yang berhubungan seks dengan pria dan pekerja seks.

Ketika organisasi komunitas melemah, sistem formal tidak otomatis menggantikan peran mereka. Laporan mencatat bahwa di beberapa negara, pemotongan dana bagi organisasi berbasis komunitas yang “menggantikan” rumah sakit yang jauh dapat membahayakan pencegahan, pengobatan, dan layanan tes.

Di lapangan, efeknya berwujud sederhana namun fatal. Tahun lalu, saat tenaga kesehatan dirumahkan di klinik Nairobi dan kota-kota Afrika lain, kondom hilang dari toilet umum, dan rumah sakit di beberapa negara merasioning obat HIV.

Penurunan tes juga menjadi indikator awal kemunduran yang sering luput dari sorotan. Di negara dengan sumber daya terbatas, terutama sub-Sahara Afrika, tes HIV turun 22 persen, sehingga penularan baru lebih mudah lolos tanpa terdeteksi.

Ironisnya, angka pengobatan masih bertahan relatif tinggi. Mahy menyebut ini “paling mencolok” dan mengaitkannya dengan negara serta komunitas yang menutup lubang pendanaan, namun ia juga mengingatkan daya tahan itu belum tentu panjang.

Kisah ini bukan sekadar tentang angka, melainkan tentang pilihan politik yang mengatur siapa yang mendapat perlindungan dan siapa yang dibiarkan rentan. Ketika donor besar memotong pencegahan, dunia seperti menukar sabuk pengaman dengan ambulans, seolah tabrakan adalah takdir yang tinggal ditangani.

Fokus berlebihan pada pengobatan memang menyelamatkan nyawa hari ini, tetapi bisa menciptakan gelombang pasien baru besok. PrEP, kondom, dan tes adalah perangkat yang menekan kurva, dan pemotongan pada tiga pilar itu membuat target “mengakhiri AIDS 2030” terdengar seperti slogan yang kehilangan mesin.

Di sisi lain, laporan mencatat setidaknya 25 negara berpendapatan rendah dan menengah menaikkan anggaran HIV/AIDS. Ini sinyal kedaulatan kesehatan, tetapi juga pertanyaan besar, karena kenaikan anggaran tidak otomatis menutup jurang ketika donor memotong dana dalam skala sistemik.

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketimpangan dampak. Anak-anak dan kelompok yang distigma menanggung risiko berlipat, terlihat dari 94.000 anak yang tertular HIV tahun lalu, dengan 46.000 di Afrika Timur dan Selatan serta 33.000 di Afrika Barat dan Tengah, terutama di negara dengan sistem kesehatan lemah dan bergantung donor.

Jika dunia serius pada “ketahanan sistem kesehatan,” maka ukuran keberhasilannya bukan hanya jumlah pil yang dibagikan, tetapi juga apakah orang bisa mencegah tertular sejak awal. Ketahanan juga berarti melindungi organisasi komunitas, karena merekalah jembatan ke populasi yang tidak datang ke rumah sakit.

Laporan UNAIDS memberi peringatan yang tidak dramatis, tetapi sangat jelas: kemajuan HIV global sedang berjalan di atas es tipis. Mahy meminta dunia menunggu data akhir 2026 dan 2027, karena dampak penuh pemotongan dana bisa muncul terlambat, saat kerusakan sudah menyebar.

Pertanyaannya sederhana namun menohok, apakah dunia ingin membayar pencegahan sekarang atau membayar krisis nanti. Di tengah angka yang turun dan layanan yang menghilang, pilihan politik hari ini akan menentukan apakah 2030 menjadi garis finis, atau sekadar tanggal di kalender. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juni 2026)