Sonny Rollins Wafat, Legenda Jazz Tenor Saks yang Tak Terklasifikasi
ORBITINDONESIA.COM – Sonny Rollins, legenda jazz dan maestro tenor saksofon, wafat pada usia 95 tahun di Woodstock, New York. Ia dikenang sebagai improvisator raksasa yang menolak dikurung genre, dari bebop hingga jazz-rock, namun selalu terdengar seperti dirinya sendiri.
Sonny Rollins adalah figur kunci jazz pasca-Perang Dunia II dengan energi garang dan imajinasi melodik yang sulit ditandingi. Kabar wafatnya diumumkan oleh publisisnya, Terri Hinte, pada 25 Mei 2026.
Di era 1940-an saat saksofonis muda mengejar tone ringan dan vibrato minim, Rollins justru membangun suara tebal ala Coleman Hawkins. Ia juga membangun mitos perfeksionis ketika berhenti tampil lebih dari dua tahun pada akhir 1950-an karena merasa permainannya belum memadai.
Ia tumbuh bersama kebangkitan bebop dengan kecanggihan harmoni dan keberanian ritme, tetapi label “bebopper” tak pernah cukup. Rollins berkali-kali menyimpang ke avant-garde, fusi jazz-rock, dan calypso, lalu kembali lagi dengan cara yang tak bisa diprediksi.
Rollins tidak sekadar pemain tenor saksofon, melainkan arsitek cara berpikir improvisasi modern. Kritikus Francis Davis menulis pada 2000 bahwa ia “improviser jazz hidup terbesar,” bahkan mungkin virtuoso terbesar jika virtuosity mencakup “kelicikan improvisasional” selain ketangkasan instrumen.
Paradoksnya, ia juga terkenal sering tidak puas pada dirinya sendiri setelah konser atau sesi rekaman. Ia mengakui “pikiran kosong” saat benar-benar bermain, karena pada level bawah sadar klise tidak sempat muncul, seperti ia katakan kepada The New York Times pada 1989.
Jejak kariernya menunjukkan standar artistik yang keras dan berisiko. Pada 1956 ia merilis “Tenor Madness” yang mempertemukannya dengan John Coltrane, serta “Saxophone Colossus” yang melahirkan “Blue 7” dan “St. Thomas” sebagai tonggak jazz yang terus dirujuk.
“Blue 7” bahkan menjadi objek esai terkenal Gunther Schuller tentang tantangan improvisasi tematik. “St. Thomas” mengikat akar Karibia ke bahasa jazz Amerika, menegaskan bahwa tradisi bisa menjadi bahan bakar modernitas, bukan lawannya.
Eksperimennya tanpa piano pada 1958 menantang kebiasaan ansambel jazz, karena ia merasa akor piano membatasi ruang harmoni improvisasinya. Album “The Freedom Suite” juga menonjol karena komposisi 19 menit yang menjadi komentar musikal tentang ketimpangan rasial, sebuah sikap berani di awal gerakan hak-hak sipil.
Ketika ia menghilang pada 1959, ia berlatih malam-malam di Williamsburg Bridge demi akustik dan kebebasan dari keluhan tetangga. Kisah “latihan di jembatan” itu bukan sekadar romantika, melainkan strategi disiplin untuk membangun ulang kepercayaan diri artistik.
Comeback 1961 melalui kontrak RCA Victor yang sangat menguntungkan diperlakukan sebagai peristiwa besar oleh pers jazz. Label bahkan menamai album kembalinya “The Bridge,” memanfaatkan simbol jembatan sebagai metafora kerja kerasnya yang sunyi.
Namun pola “menghilang untuk mencari” kembali berulang ketika ia nyaris tak merekam dan jarang tampil pada 1966-1972. Ia menyebut periode itu sebagai pencarian spiritual di Jepang dan India, lalu kembali dengan “Sonny Rollins’ Next Album” (1972) untuk Milestone, label yang menemaninya lebih dari 30 tahun.
Di 1970-an dan 1980-an, ia menerima kritik saat memakai instrumen elektrik dan ritme rock, termasuk kolaborasi dengan The Rolling Stones pada “Tattoo You” (1981). Rollins membela pilihannya sebagai usaha membuat musiknya tetap relevan, bukan tanda menyerah pada selera pasar.
Di sisi lain, kritik dari media arus utama sering mengandung dua nada: kagum sekaligus kecewa. Peter Watrous menulis pada 1993 bahwa Rollins adalah “salah satu improvisator terbesar,” tetapi menilai ia kadang “menyia-nyiakan modal kejeniusannya” dengan kesederhanaan yang terkesan memanjakan audiens.
Fakta pentingnya, perdebatan itu justru menegaskan posisi Rollins sebagai seniman yang tidak nyaman menjadi monumen. Ia lebih memilih risiko ketimbang aman, dan sebagian penggemar menganggap “malam buruk” sebagai harga kecil untuk keberanian menjelajah.
Pada level industri, Rollins juga membaca perubahan zaman dengan caranya sendiri. Ia mendirikan label Doxy pada 2005 dan mulai membagikan klip audio-video gratis pada 2006, meski mengaku “membenci teknologi,” sebuah kontradiksi yang menunjukkan pragmatisme seniman senior.
Penghargaan menumpuk tanpa menghentikan pencariannya. Ia menerima Grammy Lifetime Achievement Award (2004), National Medal of Arts dan Kennedy Center Honor (2011), serta menjadi musisi jazz pertama penerima Edward MacDowell Medal (2010).
Di balik kehormatan itu, ia terus mengejar “ultimate sound,” istilah yang ia sebut dalam wawancara 1984. Arsipnya yang mencakup ratusan rekaman latihan diakuisisi Schomburg Center pada 2017, memperlihatkan bahwa kejeniusannya dibangun dari kerja repetitif yang jarang terlihat.
Kesehatannya menurun akibat masalah pernapasan dan diagnosis pulmonary fibrosis, hingga penampilan publik terakhirnya terjadi pada 2012. Ia berhenti bermain di rumah pada 2014, dan pada 2020 ia menyebut perpisahan itu traumatis, tetapi memilih bersyukur karena bisa bermusik seumur hidup.
Kisah Sonny Rollins adalah pelajaran tentang kebebasan kreatif yang dibayar mahal oleh disiplin dan keraguan diri. Ia membuktikan bahwa “individualitas” dalam jazz bukan slogan, melainkan kebiasaan untuk selalu menolak autopilot.
Dalam budaya yang sering memuja produktivitas tanpa jeda, dua masa hiatus Rollins terasa subversif. Ia menunjukkan bahwa berhenti bisa menjadi bentuk tanggung jawab artistik, ketika panggung tak lagi sejalan dengan standar batin.
Kontroversi era fusi dan kecenderungan “crowd-pleasing” seharusnya dibaca sebagai dilema seniman yang hidup lama melintasi beberapa rezim selera. Rollins tidak selalu menang dalam eksperimen, tetapi ia konsisten menolak menjadi kurator museum bagi masa jayanya sendiri.
Kalimatnya pada 2002 terasa seperti manifesto anti-kotak: “Musik yang saya mainkan terlalu besar untuk dimasukkan ke satu gaya.” Di era algoritma yang menyukai kategori, warisan Rollins justru mengingatkan bahwa suara personal sering lahir dari ketidakpatuhan terhadap label.
Sonny Rollins meninggalkan warisan yang bukan hanya katalog album klasik, tetapi etika pencarian bunyi yang tak pernah selesai. Ia membuat jazz terasa seperti pertaruhan hidup, bukan sekadar reproduksi standar.
Pertanyaannya kini, setelah sang “colossus” pergi, apakah kita masih memberi ruang bagi musisi untuk gagal, bereksperimen, lalu tumbuh tanpa harus selalu “sempurna” di setiap malam. Mungkin di situlah jembatan paling penting dari Rollins: keberanian untuk terus mencari yang segar, bahkan saat dunia meminta kita mengulang yang sudah laku.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)