Denny JA: Dua Neraca Keberhasilan - Menambah Minyak, Sekaligus Menjaga Lingkungan
Catatan Menghadiri Konferensi Energi APOGCE, Australia, Oktober 2026 (4)
DUA NERACA KEBERHASILAN: MENAMBAH MINYAK, SEKALIGUS MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Bumi menyimpan kekayaan selama jutaan tahun. Tetapi terkadang, ketika manusia mengambil kekayaan itu, bumi justru ditinggalkan dengan lubang yang menelan masa depan seorang anak.
Pada 15 September 2026, Andi Muhammad Alfarizki, delapan tahun, murid kelas dua sekolah dasar, meninggal tenggelam di lubang bekas tambang batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur.
Menurut Jaringan Advokasi Tambang Kalimantan Timur, Andi merupakan korban ke-55 sejak 2011. Di balik angka itu, ada keluarga yang kehilangan dunia kecilnya.
Bayangkan sebuah rumah menjelang malam. Seorang ibu menunggu anaknya pulang. Tetapi pintu yang biasanya terbuka untuk menyambut tawa, hari itu hanya menerima kabar kematian.
Industri batu bara berbeda dengan migas. Namun, keduanya menghadirkan persoalan moral serupa: kemajuan ekonomi dapat kehilangan maknanya ketika manusia dan lingkungan membayar harga terlalu mahal.
Kita begitu terampil menghitung kekayaan yang dikeluarkan dari perut bumi. Tetapi sudahkah kita menghitung kehidupan yang ikut hilang, bahkan sebelum sempat menemukan masa depannya?
-000-
Ketika Dunia Mulai Menghitung Luka Bumi
Pertanyaan itu mengikuti pikiran saya ketika menghadiri konferensi energi SPE APOGCE di Brisbane, Australia, pada 13–15 Oktober 2026, bersama para pelaku industri energi dunia.
Pada 14 Oktober, panel Balancing Production and Climate Goals mempertemukan para pakar membahas dilema industri energi modern.
Bagaimana minyak terus diproduksi ketika dunia menuntut kepekaan lebih besar terhadap lingkungan hidup dan pengurangan emisi? Bagaimana kebutuhan energi hari ini dipenuhi tanpa mengorbankan kehidupan generasi yang belum lahir?
Kesadaran lingkungan modern tumbuh melalui rangkaian peristiwa. Tumpahan minyak Santa Barbara pada 1969 memperlihatkan bahwa kemajuan industri dapat meninggalkan kerusakan ekologis yang mengerikan.
Hari Bumi pertama pada 1970, Konferensi Stockholm 1972, pembentukan IPCC pada 1988, dan KTT Rio 1992 perlahan mengubah persoalan lingkungan menjadi tanggung jawab internasional.
Tonggak terpentingnya hadir pada 12 Desember 2015. Di Paris, 195 pihak mengadopsi kesepakatan bersejarah untuk menghadapi perubahan iklim melalui kerja sama global.
Laurent Fabius, Christiana Figueres, dan Ban Ki-moon menjadi figur penting. Dunia bersepakat menahan kenaikan suhu jauh di bawah dua derajat Celsius dibandingkan masa praindustri.
Upaya membatasi kenaikan hingga 1,5 derajat juga disepakati. Sejak itu, keberhasilan industri energi semakin dinilai bukan hanya berdasarkan keuntungan, melainkan juga dampak ekologisnya.
Namun, sejarah menghadirkan ironi. Pandemi Covid-19 meruntuhkan permintaan minyak pada 2020, kemudian pemulihan ekonomi mengingatkan dunia betapa rapuhnya keseimbangan pasokan dan kebutuhan energi.
Perang Rusia-Ukraina sejak 2022 dan ketegangan di Selat Hormuz semakin mengembalikan keamanan pasokan energi sebagai kepentingan strategis negara, bukan sekadar urusan perdagangan.
Dunia seolah memiliki dua jam yang berdetak bersamaan. Jam pertama mengingatkan kebutuhan energi mendesak hari ini. Jam kedua menghitung waktu yang tersisa menghadapi perubahan iklim.
Mematikan salah satunya bukanlah jawaban. Tantangan kepemimpinan justru terletak pada kemampuan mendengar keduanya, sekalipun pesan yang disampaikan sering terasa saling bertentangan.
-000-
Sebelas Nyawa dan Laut yang Terluka
Ada pengalaman yang membuat persoalan ini sangat personal bagi saya. Bukan sebuah laporan keuangan, melainkan rekaman video mengenai tragedi Deepwater Horizon di Teluk Meksiko.
Saya menyaksikan gambar kerusakan kehidupan laut akibat tumpahan minyak. Gambar itu terus mengingatkan saya bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu berjalan bersama kebijaksanaan manusia.
Pada 20 April 2010, anjungan Deepwater Horizon meledak. Sebelas pekerja meninggal, sementara minyak mengalir dari sumur bawah laut yang mengalami kerusakan sangat parah.
Selama 87 hari, sekitar 134 juta galon minyak mencemari Teluk Meksiko, melukai ekosistem, kehidupan laut, kawasan pesisir, dan mata pencaharian masyarakat setempat.
Saya membayangkan keluarga sebelas pekerja tersebut. Perusahaan dapat menghitung kerugian dan membayar kompensasi. Tetapi tidak ada angka yang sanggup mengembalikan seorang ayah ke meja makan.
Tragedi itu mengubah cara saya merenungkan keberhasilan korporasi. Produksi dan keuntungan memang penting, tetapi keduanya tidak boleh menjadi satu-satunya bahasa untuk menilai kemajuan.
Di Samarinda, seorang anak meninggal dalam lubang tambang. Di Teluk Meksiko, pekerja kehilangan nyawa dan laut menanggung kerusakan yang panjang.
Dua peristiwa berbeda, satu pelajaran serupa: kekayaan alam tidak pernah datang tanpa tanggung jawab. Sesuatu yang tampak murah dalam neraca perusahaan bisa sangat mahal bagi kehidupan.
-000-
Tiga contoh berikut menunjukkan bahwa produksi minyak dan kepedulian terhadap lingkungan hidup dapat berjalan seiring.
Pelajaran Pertama: Minyak Diproduksi Lebih Bersih
Norwegia memperlihatkan kemungkinan penting. Produksi minyak masih dapat berlangsung dengan emisi operasional lebih rendah apabila tanggung jawab lingkungan sudah menjadi bagian desain investasi.
Lapangan Johan Sverdrup di Laut Utara menggunakan pasokan listrik dari daratan, sehingga kebutuhan pembakaran bahan bakar langsung pada fasilitas produksi dapat dikurangi secara signifikan.
Listrik Norwegia sebagian besar berasal dari tenaga air. Karena itu, elektrifikasi membantu menurunkan emisi operasi tanpa sekadar memindahkan pencemaran ke pembangkit listrik lain.
Bagi Indonesia, pelajaran ini penting. Lapangan minyak yang semakin tua sering memerlukan energi lebih besar untuk mempertahankan produksi, sementara air terproduksi terus meningkat.
Efisiensi pompa, elektrifikasi yang tepat, digitalisasi, dan pengelolaan air dapat membantu memperbaiki kinerja. Produksi meningkat, sementara pemborosan dan risiko ekologis dikendalikan.
-000-
Pelajaran Kedua: Kekayaan yang Menguap Tanpa Suara
Ada ironi lain dalam industri migas. Perusahaan menghabiskan dana sangat besar untuk menemukan gas tersembunyi. Sementara itu, sebagian gas yang sudah ditemukan justru menguap tanpa dimanfaatkan.
Gas itu adalah metana, yang dapat bocor melalui katup, pipa, kompresor, dan fasilitas produksi. Dampak pemanasannya terhadap iklim sangat kuat dalam jangka pendek.
International Energy Agency memperkirakan emisi metana industri minyak dan gas global pada 2025 mencapai sekitar 81 juta ton. Ini menunjukkan besarnya persoalan sekaligus peluang perbaikan.
Kamera inframerah, sensor, pesawat tanpa awak, dan satelit kini membantu menemukan kebocoran yang dahulu tidak terlihat, bahkan ketika fasilitas produksi masih beroperasi normal.
Pengurangan kebocoran bukan sekadar pengorbanan untuk lingkungan. Gas yang berhasil diselamatkan dapat dimanfaatkan atau dipasarkan, sekaligus mengurangi kehilangan ekonomi dan kerusakan iklim.
Bumi memerlukan jutaan tahun menyimpan hidrokarbon. Betapa ganjilnya apabila manusia menghabiskan miliaran dolar untuk menemukannya, lalu membiarkannya hilang karena kelalaian yang dapat dicegah.
-000-
Pelajaran Ketiga: Mengembalikan Karbon ke Bawah Bumi
Selama lebih dari satu abad, industri migas mengembangkan kemampuan mengangkat hidrokarbon dari kedalaman bumi. Kini, sebagian keahlian tersebut membuka kemungkinan arah yang berlawanan.
Melalui Carbon Capture and Storage atau CCS, karbon dioksida dari sumber emisi tertentu ditangkap, diangkut, kemudian disimpan dalam formasi geologi yang sesuai.
Norwegia telah menjalankan penyimpanan karbon melalui proyek Sleipner sejak 1996. Northern Lights memperluas peluang penyimpanan bagi industri yang menghadapi kesulitan menghilangkan seluruh emisinya.
Indonesia memiliki peluang mengembangkan teknologi ini secara selektif. Keahlian reservoir, pengeboran, dan pengelolaan bawah permukaan merupakan modal penting yang sudah dimiliki industri migas.
Ketiga pengalaman internasional tersebut memperlihatkan sesuatu yang penting: teknologi dapat mempertemukan produksi dan lingkungan, tetapi hanya apabila keputusan bisnisnya memiliki disiplin moral.
-000-
Dua Neraca Keberhasilan untuk Indonesia
Indonesia menghadapi kenyataan yang tidak sederhana. Kebutuhan minyak melampaui kemampuan produksi domestik, sementara ketergantungan impor membuat perekonomian rentan terhadap gejolak harga dan geopolitik.
Pada 2025, lifting minyak Indonesia mencapai sekitar 605.300 barel per hari, termasuk komponen tertentu dari kondensat dan cairan gas alam. Kesenjangan kebutuhan tetap besar.
Sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, saya acap menghadapi pertanyaan strategis: bagaimana meningkatkan produksi secara berani, tanpa mengurangi disiplin terhadap keselamatan manusia dan lingkungan?
Saya menawarkan sebuah kerangka pemikiran: Dua Neraca Keberhasilan, yang dapat menjadi landasan baru pengambilan keputusan dan pengawasan korporasi energi.
Neraca pertama menghitung nilai ekonomi: cadangan, produksi, investasi, keuntungan, penerimaan negara. Juga soal kontribusi terhadap ketahanan dan ketersediaan energi bagi masyarakat Indonesia.
Neraca kedua menghitung tanggung jawab ekologis: emisi, air, pencemaran, biodiversitas, keselamatan, biaya penutupan sumur. Tak lupa pemulihan lingkungan, dan kewajiban yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Keduanya tidak boleh sekadar diletakkan berdampingan sebagai laporan. Neraca ekologis harus mampu mengubah keputusan investasi, termasuk menghentikan proyek yang memiliki risiko tidak terkendali.
Dalam ilmu ekonomi, kerusakan yang ditanggung pihak lain dikenal sebagai eksternalitas. Keuntungan perusahaan dapat terlihat besar karena sebagian ongkos sesungguhnya dibayar masyarakat.
Di sinilah persoalan filosofisnya. Laporan keuangan dapat menyebut sebuah proyek berhasil, sementara masyarakat sekitar justru mewarisi air tercemar dan tanah yang tidak lagi aman.
-000-
Dua Bacaan untuk Memahami Dilema Energi
Buku pertama, The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations, karya Daniel Yergin, diterbitkan Penguin Press pada 2020, membantu memahami perubahan geopolitik energi.
Yergin memperlihatkan hubungan minyak, teknologi, perubahan iklim, dan persaingan negara. Ketahanan energi bukan sekadar soal komoditas, melainkan bagian dari arsitektur peradaban modern.
Bacaan kedua, laporan International Energy Agency berjudul The Oil and Gas Industry in Net Zero Transitions (2023), membahas tanggung jawab industri migas menghadapi transisi energi.
Laporan itu menekankan pentingnya pengurangan emisi operasional, pengendalian metana, dan penyesuaian investasi. Industri tidak dapat mengandalkan keberhasilan masa lalu untuk menjamin masa depan.
Kedua bacaan tersebut memperkuat keyakinan saya: keberanian memproduksi energi dan kedewasaan menjaga lingkungan harus menjadi dua kompetensi kepemimpinan yang tumbuh bersama.
-000-
Tiga Langkah untuk Pertamina Hulu Energi
Dari posisi pengawasan, saya mendorong tiga langkah, yang pelaksanaannya menjadi kewenangan direksi.
Pertama, menjadikan Dua Neraca Keberhasilan sebagai standar penilaian investasi dan kinerja. Setiap Regional dan Zona perlu memiliki indikator produksi, keselamatan, dan lingkungan yang terukur.
Kedua, mendorong program percepatan di lapangan prioritas. Fokusnya pengurangan kebocoran metana, pemborosan energi, pencemaran, serta risiko keselamatan yang dapat dicegah.
Program dimulai melalui pengukuran kondisi awal, pemeriksaan teknis, pemeringkatan risiko, dan tindakan korektif. Hasilnya diverifikasi berdasarkan perubahan nyata, bukan banyaknya presentasi.
Ketiga, mewajibkan evaluasi dua neraca untuk investasi besar dan akuisisi. Cadangan minyak harus dinilai bersama emisi, kewajiban lingkungan, biaya penutupan aset, dan risiko sosial.
Akuisisi yang terlihat menguntungkan bisa menjadi beban apabila kewajiban pemulihan lingkungan tersembunyi. Harga pembelian murah belum tentu berarti nilai ekonomi sesungguhnya tinggi.
Agar gagasan ini memiliki daya hidup, kedua neraca perlu masuk dalam pedoman investasi, manajemen risiko, evaluasi kinerja, dan mekanisme pengawasan dewan komisaris.
-000-
Apakah Minyak dan Lingkungan Dapat Berdamai?
Saya memahami pandangan bahwa standar lingkungan dapat meningkatkan biaya. Indonesia masih membutuhkan energi yang terjangkau untuk menggerakkan industri, transportasi, dan kehidupan masyarakat kecil.
Namun, biaya mencegah kerusakan tidak selalu lebih mahal daripada akibat kerusakan itu sendiri. Kebocoran, pemborosan, dan kecelakaan sering memperlihatkan betapa mahalnya kelalaian.
Saya juga memahami kritik bahwa peningkatan produksi minyak tetap dapat memperbesar emisi global, meskipun proses produksinya semakin efisien dan rendah karbon.
Kritik itu penting. Kita tidak boleh menggunakan keberhasilan mengurangi emisi operasional untuk mengaburkan kenyataan bahwa pembakaran minyak oleh konsumen tetap menghasilkan karbon.
Karena itu, Indonesia perlu bekerja pada dua jalur: memperbaiki produksi energi yang masih dibutuhkan dan mempercepat efisiensi konsumsi serta pengembangan alternatif rendah karbon.
Transisi energi bukan tombol yang dapat ditekan dalam semalam. Namun, kenyataan bahwa perubahan membutuhkan waktu tidak boleh menjadi alasan menunda tanggung jawab.
Kita harus menghindari dua ketidakadilan sekaligus: membuat masyarakat hari ini kekurangan energi dan membuat generasi mendatang kehilangan lingkungan yang layak untuk hidup.
-000-
Di Brisbane, pikiran saya kembali kepada Andi Muhammad Alfarizki. Anak itu tidak pernah menghadiri konferensi energi atau membaca laporan keberlanjutan perusahaan raksasa dunia.
Namun, justru kehidupan anak seperti Andi yang seharusnya hadir secara moral dalam setiap ruang keputusan, bahkan ketika tidak ada seorang pun menyebut namanya.
Saya teringat pula sebelas pekerja Deepwater Horizon. Teknologi mampu menembus dasar laut, tetapi belum tentu mampu menjamin keselamatan seluruh manusia yang mengoperasikannya.
Saya membayangkan anak-anak Indonesia kelak membaca sejarah energi bangsanya. Mereka menemukan kisah produksi meningkat, impor berkurang, dan kekayaan nasional dikelola lebih baik.
Namun, kita berharap mereka menemukan kisah lain: sumur ditutup dengan aman, tanah dipulihkan, air dilindungi, dan emisi sungguh berkurang karena keputusan yang bertanggung jawab.
Itulah makna Dua Neraca Keberhasilan. Yang pertama memastikan bangsa memiliki energi untuk membangun. Yang kedua memastikan pembangunan tidak merampas kehidupan.
Kepemimpinan sejati bukan hanya kemampuan mencapai target ketika menjabat. Kepemimpinan juga berarti membangun standar yang tetap melindungi kehidupan ketika pemimpinnya sudah tidak berada di sana.
Seorang pemimpin boleh dikenang karena berhasil menemukan cadangan minyak terbesar. Tetapi bukankah lebih bermakna apabila ia juga mewariskan cara baru menjaga bumi?
Pada akhirnya, kita memang boleh mengambil kekayaan dari perut bumi. Tetapi jangan sampai kita mewariskan kepada anak cucu sebuah negeri yang kaya minyak, namun miskin kehidupan.
Sebab, keberhasilan terbesar bukan hanya seberapa banyak yang kita ambil dari bumi, melainkan juga seberapa banyak kehidupan yang tetap kita jaga setelah mengambilnya.*
Brisbane, Australia, 15 Oktober 2026
-000-
REFERENSI UTAMA
1. Daniel Yergin. The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations. Penguin Press, 2020.
2. International Energy Agency. The Oil and Gas Industry in Net Zero Transitions. IEA, 2023.
-000-
Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.