Keanekaragaman Burung dan Pohon Evolusi: Cara Baru Menilai Hutan
ORBITINDONESIA.COM – Keanekaragaman burung sering dipakai sebagai tanda hutan sehat, tetapi jumlah spesies saja bisa menipu. Riset di tujuh pulau Indonesia menunjukkan kunci lain yang lebih tajam: keanekaragaman filogenetik, atau seberapa jauh “pohon keluarga” burung-burung itu.
Pagi di hutan tropis selalu ramai oleh kicau, dan kita cenderung menganggap keramaian itu identik dengan kualitas ekosistem. Ukuran yang paling populer adalah jumlah spesies dan jumlah individu.
Masalahnya, dua lokasi bisa punya jumlah spesies sama tetapi nilai konservasinya berbeda jauh. Perbedaannya terletak pada sejarah evolusi yang dikandung komunitas burung di tempat itu.
Dalam biologi konservasi, ini bukan sekadar debat akademik. Banyak penilaian lingkungan, termasuk analisis dampak lingkungan, kerap berhenti pada hitungan spesies dan populasi.
Penelitian terhadap 422 spesies burung dilakukan pada 1.410 titik pengamatan di Kalimantan, Buru, Buton, Sangihe, Seram, Sulawesi, dan Talaud. Kondisi hutan diukur dari tutupan dalam radius 250 meter dan perubahan tutupan sepanjang 2010–2022.
Alih-alih hanya menghitung spesies, riset ini mengukur kekerabatan evolusi dengan tiga indikator. Indikator itu adalah phylogenetic diversity (PD), mean pairwise distance (MPD), dan mean nearest taxon distance (MNTD).
PD menghitung total panjang cabang pohon evolusi yang menghubungkan spesies-spesies dalam satu lokasi. MPD melihat jarak kekerabatan rata-rata antarsemua pasangan spesies, sedangkan MNTD memeriksa jarak ke “kerabat terdekat” di komunitas.
Hasilnya mengganggu asumsi populer: hutan lebat tidak otomatis menyimpan keragaman evolusi yang tinggi. Justru hutan rapat kerap dihuni kelompok burung yang berkerabat dekat karena penyaringan lingkungan.
Penyaringan lingkungan terjadi ketika struktur vegetasi, cahaya, pakan, dan ruang jelajah menguntungkan kelompok tertentu. Akibatnya, komunitas yang terbentuk bisa kaya spesies, tetapi miskin “jarak evolusi”.
Di Buru, hutan yang relatif minim gangguan memperlihatkan koeksistensi burung dengan relasi filogenetik unik. Cabai buru (Dicaeum erythrothorax), kring-kring buru (Prioniturus mada), dan kasturi merah (Eos bornea) menunjukkan kombinasi kekerabatan dekat pada paruh bengkok dan jarak lebih purba melalui klade yang lebih luas.
Namun di Sangihe, cabai panggul-kuning (Dicaeum aureolimbatum) dan cabai panggul-kelabu (Dicaeum celebicum) adalah contoh komunitas yang “rapat” secara kekerabatan. Di Talaud, pola serupa tampak pada pergam tarut (Ducula concinna) dan pergam kelabu (Ducula pickeringii).
Dua pulau itu juga menghadapi tingkat keterancaman lebih tinggi karena tutupan hutan berkurang sejak 2010. Ini menguatkan pesan bahwa kehilangan hutan bukan hanya mengurangi jumlah burung, tetapi juga dapat memiskinkan struktur komunitas.
Buton menambah lapisan cerita yang lebih ekologis. Srigunting sulawesi (Dicrurus montanus), burung-madu hitam (Leptocoma sericea), dan cabai panggul-kuning hidup berdampingan karena sama-sama bergantung pada serangga dan nektar.
Artinya, komposisi komunitas dipengaruhi bukan hanya luas hutan, tetapi juga sejarah pulau dan kelompok burung yang sudah lama “lolos seleksi” di sana. Penelitian lanjutan bahkan menyoroti peran isolasi antarpulau dalam membentuk pola tersebut.
Riset ini juga menekankan dimensi konservasi melalui indikator EDGE (Evolutionarily distinct and globally endangered) dan status IUCN. Fokusnya pada spesies yang sekaligus unik secara evolusi dan terancam secara global.
Maleo sulawesi (Macrocephalon maleo) menjadi contoh yang paling mudah dipahami. Ia terancam punah, berada pada “cabang tua” evolusi, dan satu-satunya spesies dalam genusnya.
Megapodiidae tersebar dari Sulawesi hingga Pasifik, tetapi hampir separuh spesiesnya rentan sampai kritis karena hilangnya habitat dan perburuan telur. Jika maleo hilang, yang lenyap bukan sekadar satu spesies, melainkan satu cabang sejarah evolusi yang tak punya pengganti.
Pelajaran serupa muncul di luar Indonesia. Di Amazon, penebangan selektif dilaporkan memangkas cabang sejarah evolusi burung, sementara di Kolombia konversi hutan ke padang penggembalaan diperkirakan menghapus sekitar 2,3 miliar tahun sejarah evolusi burung.
Kita terlalu lama menganggap konservasi sebagai urusan “berapa banyak” dan “berapa ekor”. Padahal alam juga menyimpan nilai “seberapa jauh”, yakni jarak evolusi yang mewakili jutaan tahun eksperimen kehidupan.
Hutan yang penuh spesies berkerabat dekat bisa tampak meriah, tetapi rapuh ketika gangguan datang. Jika satu tekanan lingkungan memukul satu kelompok, seluruh komunitas bisa runtuh karena mereka punya kelemahan yang mirip.
Di sisi lain, komunitas dengan cabang evolusi lebih panjang menyimpan lebih banyak strategi bertahan hidup. Itu berarti peluang adaptasi ekosistem lebih besar, dan manfaat ekologisnya lebih beragam.
Implikasinya keras bagi kebijakan. AMDAL dan audit keanekaragaman hayati yang hanya berhenti pada daftar spesies berisiko meloloskan kerusakan yang tak terlihat.
Pengukuran filogenetik memang menuntut data dan analisis tambahan. Namun biaya itu sebanding dengan informasi yang didapat: seberapa banyak sejarah kehidupan yang sedang dipertaruhkan.
Indonesia sebagai negara kepulauan punya tantangan sekaligus kesempatan. Isolasi pulau menciptakan endemisme, dan endemisme sering berarti cabang evolusi yang unik.
Karena itu, menjaga hutan yang luas dan saling terhubung bukan sekadar slogan. Itu strategi untuk mempertahankan komunitas dengan nilai evolusi tinggi, sebelum ia terpotong menjadi fragmen-fragmen sunyi.
Kicau burung yang ramai memang kabar baik, tetapi bukan jawaban akhir. Pertanyaan yang lebih penting adalah: suara siapa yang kita dengar, dan seberapa panjang sejarah yang dibawanya.
Jika kita hanya menghitung spesies, kita bisa merasa aman saat sebetulnya sedang kehilangan cabang-cabang tua kehidupan. Pada akhirnya, konservasi bukan hanya menyelamatkan jumlah, melainkan menjaga warisan evolusi agar masa depan tetap punya pilihan.
(Orbit dari berbagai sumber, 24 September 2026)