Kopi Panas dan Risiko Kanker Kerongkongan: Batas Aman 65°C
ORBITINDONESIA.COM – Kopi panas dan risiko kanker kerongkongan kini kembali diperdebatkan, bukan karena kopinya, melainkan karena suhunya. Studi besar di Inggris mengaitkan kebiasaan minum minuman sangat panas dengan kenaikan risiko kanker esofagus, terutama bila dilakukan berulang setiap hari.
Bagi banyak orang, menyeruput kopi yang masih mengepul adalah ritual pagi yang terasa “wajib”. Namun riset terbaru menegaskan bahwa kebiasaan kecil ini bisa membawa konsekuensi besar bila suhu minuman terlalu tinggi.
Penelitian yang terbit di International Journal of Cancer menyorot hubungan antara minuman sangat panas dan kanker kerongkongan. Ini sejalan dengan peringatan International Agency for Research on Cancer (IARC) yang mengklasifikasikan minuman di atas 65°C sebagai “kemungkinan karsinogenik” bagi manusia.
Masalahnya bukan sekadar kopi, teh, atau jenis minumannya. Isunya adalah paparan panas berulang yang terjadi diam-diam, lalu dianggap normal karena sudah jadi kebiasaan sosial.
Studi tersebut menganalisis data lebih dari 977 ribu orang dewasa paruh baya di Inggris. Responden ditanya kebiasaan minum minuman panas dan preferensi suhu, lalu dipantau sekitar 14 tahun.
Selama masa pemantauan, 2.348 orang didiagnosis kanker kerongkongan. Angka ini memberi basis kuat untuk membaca pola risiko, meski tetap harus dipahami sebagai hubungan statistik, bukan vonis sebab-akibat langsung.
Sekitar setengah responden mengaku minum enam cangkir atau lebih minuman panas per hari. Dari kelompok ini, sekitar 15% menyatakan lebih suka minuman “sangat panas” dibanding hangat atau panas biasa.
Temuan kunci muncul pada jenis karsinoma sel skuamosa di kerongkongan. Risiko hampir dua kali lebih tinggi pada peserta yang menyukai minuman panas dibanding yang memilih minuman hangat.
Pada kelompok yang memilih minuman “sangat panas”, risikonya hampir tiga kali lebih tinggi. Peserta yang minum enam cangkir atau lebih minuman panas per hari juga memiliki risiko 71% lebih tinggi untuk jenis kanker tersebut dibanding kelompok lain.
Penjelasan biologisnya masuk akal dan tidak sensasional. Keren Papier, PhD dari University of Oxford menyebut paparan panas berulang dapat melukai sel di lapisan kerongkongan.
Luka mikro yang berulang dapat memicu iritasi kronis, lalu membuat jaringan lebih rentan mengalami perubahan sel. Cindy Pabon, MD dari University of Miami Health System menegaskan banyak kanker kerongkongan berkaitan dengan kerusakan, iritasi, atau peradangan jangka panjang.
Namun ada batas penting yang sering hilang dalam pemberitaan kesehatan: penelitian ini tidak menyimpulkan kopi panas “menyebabkan” kanker secara langsung. Yang terlihat adalah korelasi antara suhu, frekuensi, dan risiko, sehingga konteks perilaku tetap menentukan.
Analisis terhadap 59 penelitian sebelumnya yang juga terbit di International Journal of Cancer memperkuat sinyal risiko pada minuman sangat panas. Ini membuat isu suhu minuman layak dianggap faktor gaya hidup, seperti rokok atau alkohol, meski skalanya berbeda.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah kopi dingin otomatis lebih aman. Studi ini tidak membandingkan kopi panas versus kopi dingin, sehingga klaim “beralih ke es kopi menyelesaikan masalah” adalah lompatan logika.
Secara teori, minuman dingin menghindari paparan panas pada kerongkongan. Tetapi suhu ekstrem, termasuk terlalu dingin, juga disebut berpotensi mengganggu jaringan, walau basis risikonya tidak dijabarkan rinci dalam studi ini.
Karena itu, solusi paling realistis bukan mengganti semua minuman menjadi dingin. Solusi paling masuk akal adalah menunggu beberapa menit, lalu minum saat suhu turun di bawah ambang yang direkomendasikan.
Publik sering terjebak pada narasi hitam-putih: kopi panas berbahaya, kopi dingin aman. Padahal, yang lebih jujur adalah melihat “suhu” sebagai variabel yang selama ini diabaikan dalam gaya hidup modern yang serba cepat.
Kebiasaan menyeruput saat masih mengepul biasanya bukan soal selera semata. Ia sering lahir dari budaya produktivitas, ketika jeda beberapa menit dianggap kemewahan, lalu tubuh dipaksa menyesuaikan.
Di titik ini, temuan ilmiah menjadi cermin sosial. Risiko kesehatan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari repetisi kecil yang dianggap wajar, lalu dibiarkan bertahun-tahun.
Rekomendasi IARC tentang batas 65°C seharusnya dibaca sebagai panduan praktis, bukan ancaman. Jika minuman di atas 65°C masuk kategori “kemungkinan karsinogenik”, maka kebijakan paling sederhana adalah memperpanjang jeda sebelum tegukan pertama.
Industri minuman pun punya ruang tanggung jawab. Informasi suhu sajian, edukasi “safe sipping”, atau desain cangkir yang menurunkan panas lebih cepat bisa menjadi intervensi kecil yang berdampak luas.
Pada akhirnya, ini bukan kampanye anti-kopi. Ini pengingat bahwa kesehatan sering ditentukan oleh detail yang tak terlihat, termasuk seberapa panas kita memaksa kerongkongan bekerja setiap hari.
Minum kopi panas tidak perlu dihentikan, tetapi kebiasaan minum “terlalu panas” patut dikoreksi. Menunggu beberapa menit sebelum minum bisa menjadi tindakan kecil yang menurunkan risiko, tanpa mengorbankan ritual dan kenikmatan.
Studi besar dan rujukan IARC memberi pesan yang sederhana: suhu adalah bagian dari kesehatan, bukan sekadar preferensi. Jika kita bisa menakar gula dan kafein, mengapa tidak mulai menakar panas?
Barangkali refleksi paling penting adalah ini: berapa banyak risiko yang kita pelihara hanya karena kita tidak sabar menunggu? (Orbit dari berbagai sumber, 5 Oktober 2026)