Ketegangan Trump vs The Fed: Warsh, Suku Bunga, dan Wall Street

ORBITINDONESIA.COM – Ketegangan Trump vs The Fed kembali jadi kata kunci pasar, setelah Jerome Powell mengakhiri masa jabatan keduanya pada 15 Mei dan Kevin Warsh bersiap memimpin bank sentral AS. Di saat Dow, S&P 500, dan Nasdaq mencetak rekor, pergantian ketua The Fed ini justru membuka risiko benturan baru antara politik, inflasi, dan suku bunga.

Tahun ini disebut “penuh sejarah” karena indeks saham utama AS menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Pada saat yang sama, The Federal Reserve mengalami pergantian kepemimpinan yang baru terjadi untuk ke-17 kalinya sejak 1913.

Artikel sumber menyebut 15 Mei sebagai hari terakhir masa jabatan kedua Jerome Powell sebagai ketua The Fed. Momen itu membuka jalan bagi nominasi Presiden Donald Trump, Kevin Warsh, untuk menjadi ketua The Fed berikutnya.

Harapan awalnya sederhana, yaitu Warsh tidak akan “bermusuhan di depan publik” seperti yang terjadi antara Trump dan Powell sejak awal 2025. Namun, dinamika ekonomi dan ideologi kebijakan moneter justru diprediksi membuat Warsh dan Trump berada di jalur tabrakan yang serupa.

Konflik Trump dan Powell memang berulang menjadi berita sejak Trump memulai masa jabatan keduanya pada 20 Januari 2025. Trump menilai The Fed terlalu lamban dan kurang agresif memangkas suku bunga.

FOMC, badan beranggotakan 12 orang yang menetapkan kebijakan moneter AS, memangkas suku bunga acuan enam kali antara September 2024 dan Desember 2025. Meski begitu, Trump tetap mendorong pemangkasan jauh lebih dalam hingga 1% atau lebih rendah.

Saat ini, suku bunga dana federal berada pada kisaran 3,5% hingga 3,75% menurut artikel sumber. Trump berargumen suku bunga rendah akan mendorong perekrutan, inovasi perusahaan, dan mempermudah pembiayaan utang nasional AS yang disebut mencapai 39 triliun dolar.

Powell menolak tekanan politik itu dan menegaskan data ekonomi, bukan persuasi politik, yang memandu kebijakan. Powell juga kerap balik menyalahkan kebijakan Trump, terutama tarif dan guncangan pasokan energi akibat perang Iran, sebagai penyebab inflasi tetap tinggi.

Terjemahan inti artikel sumber menunjukkan dua poros masalah, yakni suku bunga dan inflasi. Trump menginginkan suku bunga sangat rendah, sementara Powell menilai inflasi dan risiko harga membuat pelonggaran agresif tidak bijak.

Secara mekanisme pasar, suku bunga rendah memang cenderung menaikkan valuasi saham karena biaya modal turun. Namun, jika inflasi “lengket” akibat tarif dan gangguan energi, pemangkasan terlalu cepat bisa memicu ekspektasi inflasi baru dan menekan obligasi.

Di sinilah Wall Street bisa “menanggung hukuman” seperti yang diperingatkan artikel sumber. Pasar saham bisa naik karena euforia suku bunga murah, tetapi pasar obligasi bisa menuntut imbal hasil lebih tinggi jika kredibilitas anti-inflasi The Fed diragukan.

Artikel sumber menekankan Powell kerap menyebut tarif Trump pada sektor barang sebagai faktor pendorong inflasi. Dalam logika ekonomi, tarif menaikkan harga impor, lalu mendorong biaya input, dan pada akhirnya menekan konsumen.

Guncangan pasokan energi yang dikaitkan dengan perang Iran juga disebut sebagai pemicu inflasi. Jika energi naik, efeknya menyebar cepat ke transportasi, manufaktur, dan harga kebutuhan harian.

Trump juga menyoroti dimensi fiskal, yakni beban pembayaran utang nasional 39 triliun dolar. Suku bunga tinggi membuat biaya bunga membengkak, sehingga dorongan politik untuk menurunkannya menjadi semakin kuat.

Namun, The Fed dibangun dengan mandat stabilitas harga dan lapangan kerja, bukan mandat menurunkan biaya utang pemerintah. Ketika tekanan politik terlalu terlihat, risiko terbesar adalah hilangnya persepsi independensi bank sentral.

Warsh masuk dalam lanskap yang sudah panas, yakni pasar pada rekor, inflasi yang sensitif, dan tuntutan suku bunga rendah dari Gedung Putih. Bahkan tanpa adu mulut terbuka, benturan bisa terjadi lewat keputusan rapat FOMC dan sinyal komunikasi kebijakan.

Masalahnya bukan sekadar siapa yang duduk di kursi ketua The Fed, melainkan apakah institusi itu bisa tetap dipercaya. Jika publik membaca kebijakan moneter sebagai perpanjangan agenda politik, harga yang dibayar pasar bisa lebih mahal daripada sekadar koreksi indeks.

Trump benar bahwa suku bunga rendah dapat mengangkat aktivitas ekonomi dalam jangka pendek. Namun, inflasi yang dipicu tarif dan energi tidak bisa “dipotong” hanya dengan retorika, karena ia bekerja lewat rantai pasok dan ekspektasi harga.

Powell juga tidak sepenuhnya bebas dari kritik, karena komunikasi The Fed yang terlalu defensif bisa membuat pasar menebak-nebak arah kebijakan. Tetapi, penolakan Powell terhadap tekanan politik adalah pagar terakhir yang menjaga kredibilitas stabilitas harga.

Warsh berpotensi berada pada dilema yang lebih rumit daripada Powell. Jika ia menuruti dorongan pemangkasan ekstrem, ia mempertaruhkan inflasi dan reputasi, tetapi jika ia menolak, ia bisa menghadapi tekanan politik yang sama dengan pendahulunya.

Di titik ini, Wall Street seharusnya tidak hanya menghitung peluang reli, tetapi juga menghitung risiko rezim kebijakan. Reli yang dibangun di atas suku bunga rendah tanpa fondasi inflasi yang jinak sering berakhir sebagai reli yang rapuh.

Pergantian dari Powell ke Warsh terjadi saat pasar berada di puncak dan politik berada di suhu tinggi. Artikel sumber mengingatkan bahwa benturan antara presiden dan ketua The Fed tidak selalu membutuhkan pertengkaran terbuka untuk mengguncang pasar.

Pertanyaan yang tersisa adalah sederhana namun menentukan, apakah The Fed akan tetap menjadi jangkar stabilitas, atau berubah menjadi medan tarik-menarik kepentingan. Jika jangkar itu bergeser, investor dan masyarakat luas yang pertama kali merasakan ombaknya.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Mei 2026)