Implan Koklea RSUD Ratu Zalecha: Aktivasi Receiver, Harapan Baru Anak

Radio Suara Banjar

Radio Suara Banjar

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Implan koklea di RSUD Ratu Zalecha Martapura memasuki fase krusial saat aktivasi receiver untuk dua pasien anak, usia 8 tahun dan 2 tahun. Di ruang layanan THT, suara pertama yang ditangkap perangkat bukan sekadar bunyi, melainkan peluang mengejar ketertinggalan bicara yang selama ini membatasi masa kanak-kanak mereka.

Kasus gangguan pendengaran saraf berat sejak lahir sering berujung pada speech delay, terutama bila intervensi terlambat. Karena itu, layanan aktivasi dan mapping pasca operasi menjadi penentu apakah implan koklea benar-benar mengubah hidup pasien.

RSUD Ratu Zalecha menempatkan layanan ini sebagai inovasi pelayanan kesehatan daerah yang jarang tersedia di rumah sakit non-rujukan besar. Sekda Banjar H Yudi Andrea menyebut langkah ini “nyata dan inovasi pelayanan kesehatan yang sangat luar biasa” karena menyasar kebutuhan paling mendasar, yaitu kemampuan anak mendengar dan belajar bicara.

Direktur RSUD Ratu Zalecha Arief Rachman menegaskan operasi penanaman implan internal sudah dilakukan, lalu dilanjutkan pemasangan prosesor eksternal pada tahap aktivasi. Proses ini tidak instan karena level suara dipasang rendah terlebih dahulu, kemudian dinaikkan bertahap mengikuti respons pasien.

Sesudah aktivasi, tim melakukan mapping untuk menyesuaikan perangkat dengan ambang dengar masing-masing anak. Tahap ini menentukan kualitas persepsi suara, karena targetnya bukan sekadar “mendengar”, melainkan mengenali pola bunyi dan membangun bahasa.

Dokter spesialis THT-KL dr Sri Sofia Wahyuni menekankan pentingnya golden period di bawah usia 3 tahun, ketika otak anak paling adaptif memproses rangsang suara. Dalam literatur klinis, intervensi dini pada gangguan dengar berat umumnya berkorelasi dengan capaian bahasa yang lebih baik dibanding intervensi yang terlambat.

Namun rumah sakit mengingatkan bahwa operasi dan perangkat hanyalah pintu masuk, bukan garis finis. Terapi wicara rutin dan keterlibatan orang tua di rumah menjadi “mesin utama” yang mengubah sinyal listrik dari implan menjadi kemampuan komunikasi.

Di titik inilah isu publik muncul: biaya implan koklea yang disebut berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah dan belum dijamin BPJS Kesehatan. Kondisi ini membuat akses bergantung pada daya tahan ekonomi keluarga, bukan semata kebutuhan medis.

Dalam kerangka kebijakan kesehatan, layanan berteknologi tinggi kerap menghadapi dilema pembiayaan karena dianggap mahal di awal. Padahal biaya keterlambatan deteksi dan intervensi dapat muncul dalam bentuk kebutuhan pendidikan khusus, hambatan kognitif, dan produktivitas jangka panjang.

Keberhasilan aktivasi receiver implan koklea di Martapura patut diapresiasi sebagai bukti kemampuan layanan daerah naik kelas. Tetapi kebanggaan daerah seharusnya tidak berhenti pada seremoni, melainkan mendorong sistem rujukan, skrining dini, dan pendampingan terapi yang konsisten.

Jika implan koklea hanya dapat diakses keluarga yang mampu, maka inovasi ini berisiko menjadi teknologi yang memperlebar kesenjangan. Pemerintah daerah dan pusat perlu memikirkan skema dukungan, mulai dari bantuan sosial kesehatan, kemitraan filantropi, hingga advokasi jaminan pembiayaan yang lebih inklusif.

Di sisi lain, keluarga juga memerlukan literasi yang kuat tentang proses panjang pasca operasi. Tanpa komitmen terapi dan pelatihan intensif di rumah, perangkat mahal sekalipun dapat gagal memberi hasil optimal.

Aktivasi implan koklea di RSUD Ratu Zalecha menunjukkan bahwa layanan THT daerah bisa menghadirkan harapan yang konkret bagi anak dengan gangguan pendengaran berat. Tetapi harapan itu hanya bertahan jika ditopang terapi rutin, keterlibatan orang tua, dan ekosistem kebijakan yang adil.

Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah kita akan membiarkan kemampuan mendengar menjadi privilese, atau menjadikannya hak yang benar-benar bisa dijangkau semua anak. Di ruang aktivasi yang hening itu, masa depan dua anak sedang ditulis, dan sistem kesehatan ikut menentukan apakah tulisannya akan lengkap.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)